blank
Suasana pertandingan wushu pada PON Bela Diri Kudus 2025. foto: PON Bela Diri Kudus 2025

KUDUS (SUARABARU.ID)  – Penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) Bela Diri Kudus 2025 di Djarum Arena, Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah, memasuki babak akhir dengan menyisakan perebutan medali di tiga cabang olahraga: karate, ju-jitsu, dan wushu. Pada Sabtu (25/10), tiga cabang tersebut menjadi fokus para atlet dari berbagai provinsi untuk mempertahankan peluang meraih gelar juara umum dalam ajang multi-event nasional yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation.

Ketua Panitia PON Bela Diri Kudus 2025, Ryan Gozali, menyebutkan bahwa persaingan antarprovinsi sangat sengit pada cabang olahraga tahap ketiga ini. Sebelumnya, tahap pertama yang digelar pada 12–16 Oktober mempertandingkan taekwondo, gulat, tarung derajat, dan judo. Tahap kedua, pada 17–21 Oktober, menampilkan pencak silat, sambo, dan shorinji kempo.

“Kalau melihat tabel klasemen medali, jarak antar kontingen sangat rapat. Juara umum masih terbuka lebar, terutama di cabang wushu yang masih menyisakan beberapa nomor di hari terakhir,” ujar Ryan saat konferensi pers, Sabtu (25/10).

Dominasi kontingen Jawa Timur (Jatim) terlihat jelas di cabang wushu. Sejak Jumat (24/10), Jatim memimpin perolehan medali emas pada nomor taolu – kung fu, dengan memborong enam dari delapan medali emas yang diperebutkan. Pada Sabtu (25/10), dua emas tambahan diraih oleh Muhammad Daffa “Golden Boy” Hidayatullah (jian shu putra) dan Jennifer Tjahyadi (gun shu putri).

Kini, Jatim memuncaki klasemen sementara cabang wushu dengan total 12 medali (8 emas, 3 perak, 1 perunggu).

“Bangga bisa menyumbang dua emas untuk Jawa Timur. Tapi perjuangan belum selesai, masih ada satu pertandingan lagi besok,” ujar Jennifer.

Daffa menambahkan bahwa kunci kemenangan bukan hanya kemampuan individu, tetapi juga dukungan tim. “Tim yang tidak terlihat di lapangan itu penting — pelatih, rekan, dan pengurus yang selalu mendukung,” ucapnya.

Ketua Pengprov Wushu Jatim, HM Ali Affandi La Nyalla Mahmud Mattalitti, mengaku puas karena target delapan emas berhasil tercapai. Namun ia berpesan agar atlet tetap rendah hati. “Jangan jadikan target sebagai beban, tapi sebagai inspirasi. Bermain lepas dan tetap percaya diri,” ujarnya.

Sekjen PB Wushu Indonesia (PBWI), Ngatino, turut mengapresiasi penyelenggaraan PON Bela Diri 2025 yang disebutnya sebagai ajang penting bagi pembinaan atlet nasional. “Ajang ini jadi sarana pemantauan bagi PBWI untuk menjaring atlet potensial ke pelatnas,” jelasnya.

Karate: Atlet Kudus Raih Perunggu

Pada cabang karate, sebanyak 242 karateka dari berbagai provinsi memperebutkan 60 medali. Salah satu sorotan datang dari Muhammad Dzaka Hibatullah, atlet muda asal Kudus yang meraih medali perunggu di nomor kumite -75 kg putra.

Meski terhenti di semifinal setelah dikalahkan atlet pelatnas asal Jatim, Dzaka mengaku puas. “Walaupun cuma perunggu, ini hasil terbaik. Bisa tampil di rumah sendiri sudah jadi kebanggaan,” ujarnya.

Legenda karate Indonesia, Umar Syarief, turut hadir dan mengapresiasi ajang ini. “PON Bela Diri Kudus 2025 adalah gebrakan luar biasa untuk membangun ekosistem bela diri di Indonesia. Kompetisi seperti ini penting untuk melahirkan atlet dari level daerah hingga internasional,” katanya.

Dalam klasemen akhir cabang karate, DKI Jakarta memimpin dengan enam medali (3 emas, 1 perak, 2 perunggu), disusul Jawa Barat (Jabar) dengan tujuh medali (2 emas, 2 perak, 3 perunggu), dan Sulawesi Selatan di posisi ketiga (2 emas, 1 perak, 3 perunggu).

Hasil Ju-Jitsu  Jateng Masuk Empat Besar

Di cabang ju-jitsu, Jawa Timur juga menempati posisi teratas dengan delapan medali (5 emas, 2 perak, 1 perunggu). Jawa Barat menempati posisi kedua dengan 11 medali (4 emas, 3 perak, 4 perunggu), diikuti DKI Jakarta dengan enam medali (4 emas, 2 perunggu), dan Jawa Tengah di posisi keempat (1 emas, 7 perak, 6 perunggu).

Menjelang hari terakhir PON Bela Diri Kudus 2025 pada Minggu (26/10), tujuh cabang olahraga telah menyelesaikan pertandingan: Di cabor Gulat: Jatim menyabet juara umum (6 emas, 3 perak, 1 perunggu). Untuk Judo, Judo: DKI Jakarta memimpin dengan 7 emas, 4 perak, 4 perunggu.

Sementara, untuk Taekwondo,  Jabar dominan dengan 10 emas, 4 perunggu. NTB menguasai Tarung Derajat: dengan 5 emas. Jateng merajai cabor Sambo dengan 5 emas dan Pencak Silat dengan 6 emas.Shorinji Kempo,  DKI Jakarta memuncaki klasemen dengan 7 emas.

Ali Bustomi