Oleh : Septiana Wibowo
Pementasan teater bertajuk “Para Petarung” yang digelar di Gedung Auditorium Muria Kudus pada Sabtu malam (18/10), berhasil memukau ratusan penonton dengan sajian dramatik yang kuat dan pesan moral yang mendalam.
Diproduksi oleh Teater Djarum dan disutradarai oleh Asa Jatmiko, sebuah pementasan teater musikal “Para Petarung” adalah serangkaian pentas keliling yang telah dipentaskan di Surabaya, Bandung, Solo dan yang terahir di Kudus.
Mengangkat kisah sekelompok karyawan dari latar belakang berbeda yang berada dalam satu sistem kerja dalam satu perusahaan. Dengan menunjukan sisi kemanusiaan yang baik dan kelam serta ketidakadilan di tengah mereka yang penuh konflik dan ketimpangan.

Dengan durasi sekitar dua jam, pementasan ini menyajikan kombinasi akting yang memukau, tata panggung minimalis namun simbolik, para penari dan paduan suara yang mengiringi, serta musik latar dan sebagian dialog para aktor yang dilagukan memperkuat suasana emosional setiap adegan.
Konflik awal adalah tidak naik pangkatnya Suli yang seorang karyawati sehingga membuat gaduh kator dan memecah kubu menjadi dua. Ada yang membela Suli agar diikutkan naik pangkat namun yang lain acuh tak acuh dan mementingkan diri sendiri. Cerita yang juga mengangkat pergulatan batin Suli yang membuat penonton larut dalam emosi.
Namun pertanyaan penonton terjawab dengan kenyataan bahwa Suli tidak naik pangkat dikarenakan tidak mau mengugurkan kandungan yang ternyata adalah anak dari Den Karso, pemilik perusahaan tersebut, bahkan nekat melahirkannya. Walau pada ahirnya, anaknya tak mampu bertahan hidup.

Sepanjang pementasan, konflik yang padat diantara para pemain lain juga terjadi. Persaingan dan rasa ingin lebih unggul, kemarahan serta kepentingan pribadi masing-masing menjadi warna yang memperkaya naskah “Para Petarung” ini.
Di ahir cerita, kemalangan Den Karso yang menderita sakit keras disambut kematian yang tragis membawa pesan moral bahwa segala perbuatan akan selalu melahirkan karmanya. Beberapa penonton bahkan tampak larut dalam setiap adegan yang sarat makna, yang menggambarkan rasa setia kawan, peperangan batin antara kemanusiaan, kejujuran dan rasa bersalah.

Penonton memberikan tepuk tangan yang riuh di akhir pertunjukan, sebagai bentuk apresiasi atas penampilan yang total dari seluruh pemain.
“Saya senang berproses dengan teman-teman Teater Djarum. Mereka ulet dan keras dalam berlatih, sehebat apapun tantangannya. Mereka menyadari tak memiliki banyak kemampuan berteater, berangkat dari ketiadaan. Namun melihat mereka di empat kota ini, mereka telah membuktikan bahwa mereka ada, berdenyut dan hidup dengan penuh daya,” ujar Asa Jatmiko saat ditemui setelah pementasan.
Menurutnya, dalam proses mempersiapkan “Para Petarung”, mereka semakin menyadari kekuatan tim. Masing-masing tidak lagi membuat dirinya paling penting, tetapi justru ingin membuat orang lain semakin penting di setiap tahapan proses kreatifnya. Dari sanalah kekuatan tim mulai mewujud dan melahirkan setiap pementasan yang unik dan solid.
Pementasan “Para Petarung” seluruhnya diperankan oleh para Karyawan PT Djarum yang menjadi anggota dari Teater Djarum itu sendiri, mereka adalah Heru Nugroho sebagai Birawa, Wijayanto Franciosa sebagai Martosuto, Anggi Putri Hartanti sebagai Suli, Apriliyana Dewi sebagai Rukmi, Dewy Evelyn Murti sebagai Partiyem, Aeliza Mariyana sebagai Wartiyah, Aditya Debe Seputra sebagai Malik, Abdul Soleh sebagai Karsito, Tania Kirana sebagai Sukeni Kasmin sebagai Den Karso.
Koor dan koreo diisi oleh Lulu’atul Mufida, Nabila Khurul Aini, Uptalia, Putri Lestari, Deni Anggaresta Marlistian, Abdul Ghofar, Muh. Galuh Eka Pradana, Anang Ma’ruf dan Riska Meriani.
Dengan tim produksi, Pimpro Teresa Rudiyanto, Stage Manager Arvian Yofi Pratama, Tim Astrada Andreas Teguh, Masrien Lintang dan Bambang Susanto, Penata Cahaya Ahmad Huzaeni dan Syarief Hidayat, Tim Artistik Kemal Maesal Azam dan Rizki Ananda, MUA Wardrop oleh Sriyatun Lala dan Umi Setiyani, Logistik Rahmat Syaifudin, Purna Irawan dan Isromi, Dokumentasi: Ricky Marthin Rumuat dan Vico Gazella Hutomo Putro.
Komposer Lagu digarap oleh Ninin Widhiyanto, dengan Komposer Musik dan Ilustrasi oleh Giwang Topo bersama Madha Soentoro dan Denny Dumbo.
Penulis adalah Jurnalis SUARABARU.ID dan pegiat budaya













