blank
Kebakaran pasar tradisional, membuat nasib para bakul bagai menerima pukulan KO, dan mengalami trauma mendalam.(Dok.Ist)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Berbagai kalangan mendesak, tentang perlunya melakukan kajian dengan memakai filosofi keledai. Tujuannya, agar kebakaran pasar tidak terulang dan terulang lagi. ”Keledai, tidak akan jatuh ke lubang yang sama dua kali.”

Makna dari peribahasa itu, adalah sebodoh-bodohnya seseorang, ia tidak akan mengulangi kesalahan sama yang pernah dibuatnya dulu. Dengan kata lain, orang yang bijak akan belajar dari pengalaman buruknya, agar tidak terjerumus ke dalam masalah yang serupa.

Peribahasa ini, mengajarkan tentang pentingnya belajar dari kesalahan yang pernah dilakukan. Untuk kemudian, berhati-hati dan waspada, serta memiliki kesadaran agar tidak terjebak dalam masalah yang sama.

Musibah kebakaran Pasar Kota Wonogiri Senin (6/10/25) lalu, merupakan kejadian keduakalinya. Yang pertama, terjadi pada Tahun 2002. Yang kedua, terjadi lagi setelah berselang 23 tahun.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Wonogiri (Perdasari) Honru Suryanto berkata: ”Trauma kebakaran yang dulu saja belum sepenuhnya terpulihkan, kini malah kebakaran lagi.” Bagi para bakul, kebakaran pasar tradisional, itu merupakan pukulan Knock Out (KO).

Wacana

Desakan untuk melakukan evaluasi dan kajian, antara lain disampaikan Ketua Fraksi PKS DPRD Kabupaten Wonogiri, Wawan Arifianto dan Mukhlas (tokoh pedagang yang menjabat sebagai Pelindung Perdasari).

Mukhlas dan Wawan, banyak menerima masukan dari para pedagang, bahwa kebakaran pasar mestinya dapat diantisipasi sejak awal, dan dampaknya tidak total sebagaimana terjadi. ”Apalagi lokasinya relatif berdekatan dengan Markas Damkar,” tutur Wawan yang duduk di Komisi-III DPRD Kabupaten Wonogiri. Ibaratnya, lokasi pasar dengan markas induk Damkar hanya selemparan galah.

blank
Personel TNI-Polri bersama aparat dari dinas instansi terkait, dan para relawan, melakukan kerja bakti membersihkan puing-puing sisa kebakaran pasar.(Dok.Pendim 0728 Wonogiri)

Berkembang aneka wacana, untuk saling mengemukakan pendapat dengan pembenaran sepihak. Mestinya, sumber api cepat dapat dipadamkan, selagi belum berkobar. Caranya ? Cepat semprotkan tabung Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Tapi mengapa ini tidak dilakukan ? Bisa jadi, ini karena keburu panik, lupa mencari APAR berada di mana ?

Lebih celaka, bila tabung APAR disimpan di dalam kantor, dan dikunci serta tidak dapat dibuka oleh petugas jaga. Sisi lain, disebutkan, fasilitas hydrant yang berada di sisi barat, tempat api bermula menyala, tidak dapat dibuka oleh personel fire fighter.

Hydrant

Koordinator Lapangan (korlap) Damkar Pemkab Wonogiri, Sriyanto Kembo, menyatakan, permohonan bantuan pemadaman, mestinya disampaikan secara cepat melalui kontak telepon. ”Tidak dengan cara mendatangi ke Markas Damkar, perjalanan menuju Markas jelas butuh waktu. Sementara api makin berkobar tidak terkendali,” jelas Sriyanto Kembo.

Sriyanto Kembo, merupakan tokoh senior Fire Fighter Damkar Wonogiri yang alumni pendidikan tingkat nasional di Ciracas. Dalam mekanisme pemadaman kebakaran, peran Damkar dengan mobil brandweer-nya berposisi di ring-3. Posisi ring-1 adalah pemilik, dalam hal ini pedagang, pegawai dan penjaga (security) pasar. Kemudian ring-2 adalah warga sekitar.

Yang pertama ambil bagian pemadaman, mestinya yang berada di ring-1. Ini bisa dilakukan dengan langsung memutuskan arus listrik yang disebut-sebut terjadi korsleting. Bersamaan itu, secepatnya mengoperasikan tabung APAR. ”Tapi mungkin karena tidak pernah menjalani pelatihan, bisa jadi tidak dapat menggunakan tabung APAR,” ujar Sriyanto Kembo.

Ketua DPRD Kabupaten Wonogiri, Sriyono, menyatakan, kajian terkait kebakaran pasar, menjadi penting dilakukan. Karena sebelumnya, kebakaran pasar juga terjadi di Kecamatan Slogohimo (sekitar 40 Kilometer arah timur Ibukota Kabupaten Wonogiri). ”Untuk mencegah kebakaran pada pasar-pasar lainnya, perlu secara periodik dilakukan pengecekan sistem kelistrikan yang terpasang di pasar,” tandas Sriyono.(Bambang Pur)