blank
Bajaj, kendaraan roda tiga asal India mengaspal di Kota Semarang berbasis aplikasi daring. (Dok)

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Ayu Anggraeni (33) turut penasaran akan kehadiran moda transportasi umum pabrikan otomotif asal India, yakni Bajaj RE di Kota Semarang pada 17 September 2025.

Selama ini, tentu saja, kendaraan roda tiga itu hanya dia temui di Jakarta. Kehadiran Bajaj di kota kelahirannya Semarang menjadi oase baru pilihan moda transportasi umum yang sudah ada.

Ibu dua anak itu tertarik menjajal langsung Bajaj untuk keliling Kota Semarang, Sabtu, 4 Oktober 2025 malam. Bersama keluarga kecilnya, dia merasa nyaman berkeliling kota dengan Bajaj.

“Murah, seru, semilir, anak happy,” kata sosok yang lama bergelut pada pekerjaan di bidang pariwisata itu.

Kehadiran Bajaj di Kota Lumpia Semarang menggunakan konsep layanan daring, laiknya ojek daring maupun taksi daring. Ayu harus mengunduh aplikasi Maxride untuk kemudian memesan layanan transportasi Bajaj.

“Nunggunya gak terlalu lama, walaupun kata bapaknya (pengemudi) armadanya masih sedikit. Baru total 30 unit saja,” ucap Ayu.

Dia berpendapat, kehadiran Bajaj di Kota Semarang tak sekedar berfungsi moda tranportasi umum sehari-hari. Akan tetapi bisa menjadi pilihan kegiatan berwisata di Kota Semarang.

Seperti diketahui, Kota Semarang memiliki spot pariwisata yang tersebar di pusat kota hingga penjuru wilayah. Ada Heritage Lawangsewu, Kawasan Kota Lama, Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Pantai Marina, pusat-pusat perbelanjaan, dan lain-lain.

Terpisah, salah satu pengemudi Bajaj Maxride, Adi Saputra (37), mengatakan, mulai mengoperasikan kendaraan pukul 11.30 – 21.00 WIB. Pekerjaan itu dijalaninya sebagai alternatif kedua, karena saat pagi dia bekerja pada bidang elektronik.

“Biasanya penumpang ramai saat jelang malam hari pukul 18.00 WIB. Kalau mayoritas penggunanya saar ini kalangan anak muda,” katanya.

Adi bilang, meskipun moda transportasi itu berbasis aplikasi, namun pengemudi juga bisa melayani penumpang secara konvensional. Tarifnya dihitung melalui aplikasi agar memastikan transparansi berjalan.

Penanggung Jawab Maxride Cabang Semarang, Siva Gesita, mengatakan, Kota Semarang menjadi ekspansi kedua Bajaj Maxride setelah DI Yogyakarta. Kota Lumpia dinilai punya potensi besar untuk bisnis transportasi umum alternatif.

Dikatakannya, aplikasi Maxride telah diunduh lebih dari 1.000 kali dan terus bertambah sejak diluncurkan.

“Alhamdulillah, animo masyarakat sangat positif,” ujarnya.

Siva mengatakan, sebanyak 22 unit bajaj kini beroperasi di titik-titik strategis seperti Simpanglima, Kota Lama, dan pusat-pusat perbelanjaan.

Siva mengklaim, kehadiran Bajaj Maxride lebih dari sarana angkutan, di mana menyasar menjadi bagian dari gaya hidup. Fenomena ini, kata dia, sudah lebih dulu terlihat di Yogyakarta, di mana menjadi tren bagi wisatawan maupun warga lokal.

“Pun di Kota Semarang kami ingin menghadirkan hal serupa. Terutama untuk ibu-ibu yang butuh transportasi aman saat ke pasar atau mengantar anak sekolah,” katanya.

Selain memberikan pengalaman mobilitas baru bagi penumpang, Bajaj Maxride juga membuka kesempatan peluang ekonomi untuk warga yang ingin menjadi mitra pengemudi. Cara kerjanya berbasis sewa unit Bajaj, dengan biaya yang diklaim terjangkau.

City Manager Maxride dan Maxauto, Bayu Subolah, mengatakan, harapannya aagar masyarakat semakin terbiasa menggunakan aplikasi transportasi tersebut. Dia bilang, saat ini tarif bajaj Maxride dipatok Rp14 ribu untuk 3 kilometet (km) pertama. Kemudian Rp3 ribu per km berikutnya.

Bayu mengatakan, Maxride memang menyasar konsumen untuk mobilitas pribadi. Akan tetapi juga menargetkan peran sebagai feeder Bus Rapid Transit (BRT)Trans Semarang. Artinya, bajaj akan berfungsi menghubungkan jalur utama dengan kawasan permukiman.

“Kami ingin berkolaborasi dengan Trans Semarang agar layanan transportasi lebih terintegrasi,” katanya. (*)

Diaz Azminatul Abidin