Oleh: Dr. Muh Khamdan
JEPARA (SUARABARU.ID)- Dalam catatan sejarah Islam Indonesia, Jepara bukan hanya dikenal sebagai kota ukir, melainkan juga kota yang mengukir sejarah keulamaan. Dari tanah inilah lahir KH. Ahmad Fauzan (1905–1972), sosok ulama, organisator, dan birokrat yang menyatukan tiga arus besar dalam diri seorang santri, yaitu keilmuan, perjuangan, dan pengabdian. Haul ke-53 yang digelar di pemakaman Suromoyo, Bangsri, 5 Oktober 2025, menjadi momentum mengenang lahirnya model kepemimpinan ulama-umara yang mengilhami lahirnya Islam Jepara yang berkarakter dan terbuka.
Sebagai pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Jepara sekaligus Kepala Kantor Kementerian Agama Jepara yang kedua (1952), KH. Ahmad Fauzan menghadirkan diri sebagai sosok ulama yang tidak alergi pada birokrasi, dan birokrat yang tidak tercerabut dari spiritualitas pesantren. Dalam kapasitasnya sebagai Rais Syuriyah pertama NU Jepara, beliau memadukan struktur organisasi modern dengan tradisi keagamaan salafiyah yang kokoh.
Jejak Politik Islam dan Tahun 1952
Tahun 1952 menandai sejarah penting ketika NU memisahkan diri dari Masyumi, menegaskan jati dirinya sebagai gerakan sosial keagamaan yang mandiri. KH. Fauzan yang menjabat dalam periode ini memaknai pemisahan itu bukan sekadar langkah politik, melainkan penegasan identitas peradaban Islam ala Nusantara. Islam yang berpijak pada tradisi, tetapi terbuka pada perubahan.

Dalam kepemimpinannya, KH. Fauzan tampak menghayati konsepsi Al-Mawardi tentang relasi ulama-umara. Ia memimpin Kantor Urusan Agama dengan prinsip bahwa jabatan adalah amanah moral. Karena itu, kepala KUA di tiap kecamatan ia pilih dari kalangan tokoh agama yang menguasai kitab salaf dan memiliki otoritas sosial. Para pejabat agama di bawahnya ia bentuk menjadi Syuriyah MWCNU, menyatukan fungsi negara dan dakwah dalam satu tarikan nafas.
Warisan Darah Ba‘alawi
Garis keturunan ba’alawi KH. Fauzan berasal dari ibundanya, Nyai Thohiroh, yang bersambung kepada Sayyid Abdullah Al Adny dari trah Ba‘alawi Hadhramaut asal Aden, Yaman, melalui Yik Muhammad Arif Banjaran Bangsri. Sementara ayahnya, KH. Abdurrasul, adalah ulama keturunan salah satu pemimpin pasukan Diponegoro, Kyai Ahmad Sanwasi, sekaligus pemimpin jamaah haji yang wafat di Tanah Suci dan dimakamkan di Ma‘la, Makkah. Warisan spiritualitas Ba‘alawi inilah yang menanamkan adab, keilmuan, dan kesalehan kosmopolit. Ciri khas Islam Nusantara yang terbuka terhadap dunia.
Dari garis ayah, KH. Fauzan mewarisi darah juang KH. Ahmad Sanwasi, ulama Kasunanan Surakarta yang menjadi panglima pasukan Pangeran Diponegoro, dimakamkan di dukuh Penggung Desa Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari. KH. Sanwasi menikah dengan Nyai Darojah binti Kyai Umar dari Mayong, panglima perang Diponegoro di pesisir utara Jawa. Dari sini, KH. Fauzan bersambung nasab dengan KH. Sholeh Darat Assamarany, ulama besar guru KH. Hasyim Asy‘ari dan KH. Ahmad Dahlan. Relasi ini menunjukkan bahwa jejaring keilmuan KH. Fauzan bertaut langsung dengan dua pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia.
Santri Kasingan dan Tradisi Keilmuan Salaf
KH. Fauzan tumbuh sebagai santri di Pesantren Kasingan, Rembang, di bawah asuhan KH. Kholil Harun. Dari pesantren ini, beliau belajar tafsir, hadis, dan fiqih dengan pendekatan sanad klasik. Kasingan dikenal sebagai “madrasah kader” yang melahirkan ulama besar seperti KH. Bisri Mustofa, KH. Mahrus Aly, dan KH. Abdul Hamid Pasuruan—nama-nama yang kelak membentuk poros keulamaan NU.
Usai nyantri, KH. Fauzan menerjemahkan pengalaman pesantrennya ke dalam pendidikan Jepara. Ia mendirikan madrasah di Bangsri dengan sistem berjenjang, meniru model modern yang ia pelajari dari gurunya, KH. Sholeh Amin Tayu, menantu KH. R. Asnawi Kudus yang mendirikan Madrasah Qudsiyyah. Madrasah ini menjadi pusat kaderisasi santri yang menggabungkan ilmu agama dan pengetahuan umum, menjembatani dunia pesantren dengan sistem sekolah modern.
Ulama Penulis dan Seniman Dakwah
Selain organisator dan pendidik, KH. Fauzan juga dikenal menulis nadzam dan syi‘ir pengajian untuk media dakwah dan pembelajaran. Dalam syairnya, ia menyisipkan nilai-nilai tauhid, etika sosial, dan cinta tanah air. Dari kalimat-kalimat berirama itu, tampak kemampuan beliau memadukan tasawuf dan seni lokal, membentuk corak Islam Jepara yang lembut, komunikatif, dan mendidik.
Ketika memimpin Kantor Kementerian Agama, KH. Fauzan menanamkan prinsip bahwa administrasi agama adalah ibadah sosial. Ia menolak dikotomi antara agama dan negara, memperjuangkan pelayanan keagamaan berbasis moralitas. Kepemimpinan semacam ini melahirkan gaya birokrasi beradab, model pemerintahan yang mencerminkan nilai-nilai Islam Nusantara.
Dari pernikahannya, KH. Ahmad Fauzan dikaruniai 13 putra-putri, yang kini menciptakan diaspora intelektual dan dakwah di Indonesia, Kanada, dan Australia. Beberapa menjadi dosen, birokrat, penulis, aktivis, dan penggerak komunitas Islam moderat di luar negeri. Mereka membawa etos orangtua dan kakeknya, menjadikan ilmu dan akhlak sebagai wajah Islam Indonesia di dunia internasional.
Santri Global dan Citra Islam Jepara
Diaspora keluarga KH. Fauzan ini memperluas jangkauan pesantren Jepara hingga lintas benua. Di Kanada dan Amerika Serikat, pengajian keluarga Mbah Fauzan menjadi pusat pembelajaran Islam Nusantara, termasuk dalam PCINU. Di Australia, generasi cucunya mengembangkan riset Islam dan kebudayaan. Fenomena ini menunjukkan bahwa santri Jepara kini menjadi warga dunia, membawa karakter wasathiyah (moderat), ilmiyyah (intelektual), dan insaniyyah (kemanusiaan).
Melalui ajaran dan keteladanan KH. Fauzan, Islam Jepara berkembang menjadi model keilmuan yang inklusif dan berakar. Para santrinya mewarisi semangat untuk berpikir terbuka, berdialog, dan berjejaring global tanpa kehilangan akar lokal. Jepara menjadi simbol Islam yang rahmatan lil ‘alamin, berbudaya, rasional, dan berkeadaban.
Kini, setelah lebih dari setengah abad wafatnya, jejak KH. Ahmad Fauzan masih terasa, baik di langgar, madrasah, dan keluarga diaspora. Ia meninggalkan warisan peradaban yang hidup, yaitu ulama yang membangun lembaga, birokrat yang berakhlak, dan pendidik yang menanamkan semangat global dalam nilai-nilai lokal. Dari Suromoyo, Bangsri, generasi muslim Jepara mesti berani kembali berbicara kepada dunia bahwa tradisi tidak harus bertentangan dengan modernitas, sebagaimana KH. Ahmad Fauzan telah mencontohkannya dengan seluruh hidupnya.
Dr. Muh Khamdan, Doktor Studi Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; LTN NU MWCNU Nalumsari Jepara













