BLORA (SUARABARU.ID) — Pemerintah Kabupaten Blora Jawa Tengah melalui Dinas Pangan, Pertanian, Peternakan, dan Perikanan (DP4) Kabupaten Blora menggalakan kemandirian pertanian dengan pelatihan pembuatan pupuk kandang atau pupuk berbahan organik.
Hal itu menyusul banyaknya petani di wilayah Kabupaten Blora yang memiliki ternak, selain kesehariannya mengolah lahan pertanian.
Kabid Sarpras DP4 Blora, Sukandar mengungkapkan program kemandirian pertanian melalui pelatihan pembuatan pupuk hingga bantuan obat prebiotik untuk pupuk kandang, sudah berjalan 3 tahun belakangan.
Bahkan saat ini, kesadaran petani di wilayah Kabupaten Blora yang tertarik memanfaatkan kotoran ternak menjadi pupuk siap pakai, sudah mencapai 2000 lebih petani.
“(Program) dari tahun 2021, ya sekitar berjalan tiga tahun. Saat ini sudah lebih dari 2000 petani yang melakukan hal itu. Kita berharap bertambah terus,” ujar Sukandar, Jumat 3 Oktober 2025.
Dijelaskan, pelatihan pupuk kandang atau pupuk organik yang telah dilakukan, guna mengoptimalkan potensi kotoran ternak yang banyak dimiliki para petani di Kabupaten Blora. Sehingga kotoran ternak yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, dapat digunakan menjadi pupuk siap pakai.
Lalu, ia menjelaskan dalam praktiknya, pembuatan pupuk itu menggunakan kotak-kotak wadah fermentasi pupuk organik. Melalui kotak-kotak itu, proses fermentasi pupuk selalu berjalan sesuai kotoran ternak yang tersedia.
“Sistemnya selang-seling, jadi bergantian. Satu penuh diambil, lalu diisi kembali,” ujar Sukandar.
Sukandar mengasumsikan, jika satu petani memiliki dua ekor sapi dewasa, maka terdapat 10 kilogram kotoran ternak yang diproses menjadi pupuk. Sehingga dalam satu wadah dapat di isi secara bergantian.
“Hingga saat ini, penyuluh pertanian tetap mendampingi para kelompok tani. Dimana setiap prebiotik yang habis bisa minta ke penyuluh,” ucap Sukandar.
Lebih lanjut, menurut Sukandar, pupuk kandang yang telah di produksi menggunakan senyawa organik yang ramah terhadap tanah di Kabupaten Blora. Sehingga ketergantungan terhadap pupuk kimia atau pupuk konvensional dapat ditekan, untuk kemandirian kelompok tani.
“Hingga saat ini belum ada yang mencapai taraf komersial. Masih pada penggunaan pribadi, menggunakan ternak sendiri dan digunakan untuk tanamannya sendiri,” jelas Sukandar.
Dikemukakan, pengolahan kotoran ternak yang tidak optimal dapat mengganggu lingkungan masyarakat sekitar. Sehingga pembuatan pupuk organik memiliki dua fungsi penting. Yaitu menekan gangguan dari pembuangan kotoran ternak sembarangan dan memaksimalkan potensi kotoran ternak itu sendiri.
“Lingkungan dapat bersih, dan hasil dari tanaman organik juga terbukti lebih sehat,” kata Sukandar.
Kudnadi Saputro













