blank
Deret depan urut dari kiri ke kanan, Wakil Bupati Imron Rizkyarno, Bupati Setyo Sukarno dan Kepala DLH Wonogiri Bahari, saat memimpin kegiatan bersama aksi bersih-bersih sampah di ruang publik, dalam memperingati WCD Tahun 2025,(Dok.Prokopim Wonogiri)
WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Kepedulian memelihara lingkungan hidup, terutama dalam pengelolaan sampah, sangatlah berharga untuk kelestarian bumi dan demi anak cucu. Setiap tindakan kecil menjaga kebersihan, jika dilakukan bersama, akan memberikan dampak besar bagi kelestarian bumi.
Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, Rabu (1/10/25), mengabarkan, penegasan di atas disampaikan Bupati Wonogiri Setyo Sukarno, saat memipin puncak peringatan World Cleanup Day (WCD) Tahun 2025. Kegiatan ini, ditandai dengan menggelar upacara yang dipusatkan di Gedung Olahraga (GOR) Giri Mandala, Kabupaten Wonogiri.
“Marilah bersama-sama kita perkuat komitmen untuk menjaga kelestarian bumi,” tegas Bupati Setyo Sukarno. World Cleanup Day, tandas Bupati, bukan hanya tentang kegiatan memungut sampah sehari. Tapi hendaklah menjadi momentum membangun kesadaran kolektif masyarakat, untuk mengubah kebiasaan. ”Dimulai dari hal kecil seperti memilah sampah di rumah, dampaknya akan besar bagi keberlanjutan lingkungan,” ungkap Bupati.


Puncak peringatan WCD dipimpin langsung oleh Bupati Wonogiri Setyo Sukarno bersama Wakil Bupati Imron Rizkyarno. Ikut hadir mendampingi Bupati, Sekretaris Daerah (Sekda) FX Pranata, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wonogiri, Bahari, beserta ratusan relawan pecinta lingkungan. Kegiatan ini, diisi dengan aksi bersih-bersih yang dilakukan secara gotong royong, untuk mengembalikan fungsi ruang publik agar tetap asri dan nyaman.
Data dari DLH Kabupaten Wonogiri, menyebutkan, dari total jumlah timbulan sampah di seluruh wilayah Wonogiri di Tahun 2024, mencapai sebanyak 127.166,54 ton. Sementara prosentase sampah yang terkelola, baru mencapai 56,74 %. Prosentase pengelolaan sampah ini meliputi jumlah sampah yang tertangani oleh Pemerintah Daerah (Pemda) dengan melaksanakan pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebesar 17,43 %. Kemudian pengurangan sampah di masyarakat melalui komposting, bank sampah, budidaya magot sebesar 39,31%.
Beban Berat
Kabupaten Wonogiri, masih dihadapkan pada permasalahan masih minimnya sarana prasarana (Sarpras) penanganan sampah. Di sisi lain, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah masih perlu ditingkatkan.
Saat ini, praktik pengelolaan sampah dengan sistem Kumpul Angkut Buang (KAB) masih banyak dilakukan, sehingga volume sampah yang harus diangkut ke TPA menjadi semakin besar. Hal ini mengakibatkan beban TPA yang terlalu berat, dengan Sarpras pendukungnya semakin tidak mencukupi. Diperkirakan umur TPA Ngadirojo hanya sampai tahun ini.
Sudah saatnya pengelolaan sampah dengan sistem KAB segera ditinggalkan, dan beralih pada paradigma baru pengelolaan sampah. Yakni dengan melaksanakan pemilahan sampah, pengurangan dan pembatasan  sampah (reduce), pemanfaatan kembali sampah (reuse) dan pengolahan sampah (recycle). Pengelolaan sampah diharapkan lebih efektif dan efisien sejak di hulu, yakni di semua sumber sampah. Sehingga volume sampah yang ke hilir, yakni yang menuju ke TPA dapat dikendalikan dan diminimalisir. Pengelolaan sampah dapat dilaksanakan secara mandiri di rumah tangga, desa, sekolah dan skala kawasan dengan 3R. Tujuannya, supaya tidak ada sampah lagi yang keluar dari kawasan atau zero waste.
Pengelolaan sampah 3R, adalah pendekatan penanganan sampah yang fokus pada tiga prinsip. Yakni reduce (mengurangi), Resue (menggunakan kembali) dan recycle (mendaur ulang). Tujuannya adalah untuk meminimalkan jumlah sampah yang berakhir di TPA, mengurangi pencemaran dan memaksimalkan potensi bahan untuk digunakan kembali.(Bambang Pur)