WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Tanggal 2 Oktober merupakan Hari Batik Nasional (HBN). Peringatan HBN 2025, hadir dengan nuansa istimewa, mengusung tema Batik Merawit. Yakni pola yang menekankan keindahan, kerumitan dan detail halus dalam motif batik sebagai simbol ketekunan, kreativitas dan identitas bangsa.
Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, memiliki batik tulis khas Wonogiren. Batik ini dikukuhkan dalam Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah Tingkat II Wonogiri bernomor: 431/03/501/1993 tentang Batik Khas Wonogiri (Batik Wonogiren). Memiliki 4 hal baku. Pertama, motif bledak. Kedua, dasaran warna jene sogan, yakni coklat kekuningan. Ketiga, memiliki lukisan jenis sekaran (bunga). Keempat, guratan babarannya retak-retak atau pecah-pecah (tidak utuh). Corak retak atau remukan ini, terjadi dari ketidaksengajaan yang kemudian menjadi ciri khas Batik Wonogiren yang terlihat alami, unik dan cantik.
Karya Batik Wonogiren yang begitu unik dan khas tersebut, layaknya Keris Sumur Bandung atau Keris Pamengkang Jagad. Yakni karya yang sebenarnya gagal, tapi justru memiliki nilai keunggulan yang spektakuler. Karena melahirkan tampilan yang khas, unik, sangat menarik, bernilai luar biasa, serta menjadi sesuatu yang spesifik dan mengagumkan.
Keris Sumur Bandung, adalah keris yang pada bilahnya memiliki lubang. Lubang pada bilah Keris Sumur Bandung, terlahir tanpa sengaja ketika Empu melakukan proses penempaan. Tapi kemunculan lubang pada bilah keris yang tanpa sengaja ini, justru memberikan nilai lebih pada keunggulan Keris Sumur Bandung. Demikian halnya pada Keris Pamengkang Jagad, yang pada bilahnya ada celah retak.
Begitu pula dengan Batik Wonogiren, sama-sama memiliki kesamaan ciri sebagai karya yang sebenarnya gagal ketika diproses, karena memiliki cacat pembuatan. Tapi kemudian, itu dianggap sebagai karya menarik dan banyak digandrungi konsumen. Cacat yang terlahir tanpa sengaja pada proses pembuatan Batik Wonogiren, dianggap sebagai nilai lebih yang memunculkan citra seni adi luhung. Meski gurat pecah-pecah yang muncul pada Batik Wonogiren, merupakan hal yang tidak selazimnya pada proses pembatikan.
Eksklusif
Penegasan Batik Wonogiren sebagai karya gagal, pernah dikedepankan oleh Pakar Batik yang sekaligus Pengusaha Batik Kanjengan Solo, Raden Ayu (RAy) Praptini Partaningrat. Dikatakan, Batik Wonogiren dengan dasar Bledak yang guratannya tidak utuh atau pecah, yang tercipta tanpa sengaja. Membuat batik yang dasarannya tidak utuh, hakikatnya merupakan suatu kesalahan teknis.

Sementara itu, Kementerian Perindustrian RI di Jakarta, menyatakan, perayaan HBN 2025 akan berlangsung cukup panjang, yakni mulai Tanggal 2 Oktober sampai dengan Tanggal 30 November 2025. Kegiatan ini diselenggarakan melalui kerja sama dengan Museum Tekstil, yang menjadi salah satu pusat pelestarian warisan budaya Nusantara.
Rangkaian acara HBN 2025 tidak hanya menampilkan pameran batik dari berbagai daerah, tetapi juga menghadirkan kegiatan edukasi, lokakarya, hingga peragaan busana batik modern untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap batik.
Pengusaha Batik Wonogiren TSP, dari Kelurahan Tirtomoyo RT 01/RW X, Kecamatan Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ikut pameran batik HBN 2025 di Jakarta. Keikutsertaannya di pameran tingkat nasional ini, TSP membawa beragam corak eksklusif Batik (tulis) Wonogiren. Tirtomoyo, Wonogiri, Jawa Tengah, menjadi sentra produksi beragam batik tulis eksklusif dan menjadi lokasi wisatawan pemburu batik berkelas.
Untuk diketahui, sejarah HBN berawal dari pengakuan dunia internasional terhadap batik sebagai warisan budaya Indonesia. Pada 2 Oktober 2009, UNESCO secara resmi menetapkan batik Indonesia sebagai Masterpieces of the Oral and Intangible Heritage of Humanity atau Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Takbenda Manusia.
Pengakuan ini diberikan karena batik tidak hanya sekadar kain bermotif, melainkan juga menyimpan nilai filosofis, simbolik, serta makna mendalam yang diwariskan turun-temurun dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sejak saat itu, pemerintah Indonesia melalui Keputusan Presiden menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional. Penetapan ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa bangga, memperkuat identitas bangsa, sekaligus mendorong pelestarian dan pengembangan batik sebagai salah satu sektor ekonomi kreatif unggulan.(Bambang Pur)













