blank
Agung Tri Laksono yang akrab disapa Mas Agung, bersama Kang Brodin dan Kang Ngateman.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Setelah hampir dua tahun absen “Sambatan Roso” Sabtu 27 September 2025 hadir Kembali.  Malam itu menjadi semacam oase yang mengobati dahaga rindu yang terpupuk lama. Dengan format baru dan tempat baru “Sambatan Roso” seperti menemukan semangat Baru.

Seperti yang disampaikan moderator acara,   Agung Tri Laksono yang akrab disapa Mas Agung, sebelumnya “Sambatan Roso” dilaksanakan setahun sekali ditempatnya Mas Wawan (Sanggar Persing – Langon, Red). “Setelah dua tahun tidak dilaksanakan kali ini kita coba melaksanakan dengan semangat baru untuk merespon kondisi sosial yang berlangsung hari ini,” ujar Mas Agung

blank
Grup music Supremasi mengajak semua yang hadir untuk menyanyikan lagu Buruh Tani Mahasiswa Miskin Kota dari Marjinal.

Mas Agung juga menjelaskan kenapa pilihan Tema Sambatan Roso malah itu adalah Tauhid Sosial “Vox populi, vox Dei. Suara Rakyat adalah Suara Tuhan. “Ketika suara Rakyat tidak didengar, maka jangan salahkan Murka Tuhan,” tegasnya

Mas Agung kemudian mempersilahkan Kang Brodin (Fahrudin) untuk memantik diskusi. Kang Brodin menyampaikan tentang ketidakadilan yang seharusnya tanggung jawab kita bersama. Kang Brodin juga menyampaikan bahwa buah Tauhid Sosial adalah Sholeh Sosial.

blank
Para pegiat budaya Jepaera antusias ikuti acara

Lantas Kang Brodin menjelaskan tentang krisis kepemimpinan hampir di setiap lini, hukum yang tumpul, kegagalan pendidikan politik, dan terakhir politik yang kehilangan jiwa kemanusiaan.

Senada dengan Kang Brodin, Ngateman Bagus (Kang Ngateman) sebagai pemantik kedua menyampaikan keprihatinan yang senada. Kang Ngateman merupakan Ketua Lesbumi NU Jepara.

Kang Ngateman melalui organisasi Lebumi NU beberapa kali berupaya melakukan ‘perlawanan’ dengan langsung menyampaikan aspirasi kedalam. Meski upayanya mungkin kecil, beberapa ada yang berhasil tapi lebih banyak yang tidak.

blank

Kang Ngateman kemudian menyatakan bahwa memang hampir semua lini mengalami kebuntuan, hampir tidak ada celah untuk melakukan perubahan, celah kecil yang menurut Kang Ngateman dan teman-teman LESBUMI mempunyai peluang besar itu adalah budaya. Selain budaya di internal LESBUMI mencanangkan program menanam, agar tidak frustasi dengan kenyataan bahwa suara kita banyak diabaikan.

Sebelum melanjutkan diskusi, grup music Supremasi mengajak semua yang hadir untuk menyanyikan lagu Buruh Tani Mahasiswa Miskin Kota dari Marjinal. Lagu yang membawa semua yang hadir memasuki kehangatan diskusi. Mas Agung Nampak seringkali membiarkan Mic berpindah secara alami dari satu orang ke orang lainnya.

Didit Endro S – Sastrawan kemudian menyampaikan pandangannya tentang banyak orang yang ingin menjadi penjilat Tuhan. Mas Didit menyampaikan tentang Tuhan seringkali di kambing hitamkan dengan bahasa sastra yang penuh metafor. Mic kemudian berpindah ke Mas Wawan menyampaikan bahwa tidak bertauhid kalau tidak bersosial.

Hampir semua yang hadir terlibat aktif bicara dengan sukarela. Bahkan orang-orang yang sebelumnya tidak pernah bicara di forum besar, seperti; Mas Toto, Dani, termasuk Mas Agung dan Kang Ngateman. Speak Up, begitu Mas Agung seringkali menyinggung. Dorongan hati untuk bicara tentang kondisi sosial yang memprihatinkan membuat mulut dimudahkan untuk bicara.

Forum itu juga menjadi ajang tabayyun. Kang Brodin dengan Gentle meminta maaf kepada para Gen Z yang malam itu di wakili oleh Romi. Romi memang sebelumnya melalui komentar di status Facebook Kang Brodin yang terkesan menyalahkan pendemo atas kerusakan yang terjadi.

Meski pertentangan pikiran juga menjadi kewajaran adanya seperti keberatan Satrio ketika Agama dipersalahkan, dianggap tidak bisa menjadi solusi. Ketidaksamaan sikap, perbedaan cara pandang tidak lantas mengaburkan kesamaan keresahaan, kebersamaan kegelisahan untuk melakukan perlawanan-perubahan.

Selain dihadiri oleh berbagai macam latar belakang profesi, aktivitas, juga lintas daerah. Ada Romadhon dari Bae Kudus yang ikut memberi prespektif. Dengan latar belakangnya sebagai Ustad di sebuah pondok pesantren, Romadhon menghubungkan fenomena yang terjadi hari ini dengan menarik latar sejarah mulai jaman nabi Adam, Idris, Ibrahim dan seterusnya.

Mas Agung memuncaki acara dengan menegaskan kembali sesuai kesepakatan bahwa forum ini harus tetap ada. Bulan depan dengan waktu yang sama di Sabtu minggu terakhir atau setiap Minggu Pon tergantung kondisi.

Maka terakhir, sampai bertemu di Sambatan Roso berikutnya di waktu dan tempat yang akan diberitahukan kembali.

Hadepe – Wafa