SEMARANG (SUARABARU.ID)– Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Universitas Semarang (USM), menyosialisasikan penggunaan styrofoam, sebagai wadah makanan. Kegiatan sosialisasi itu dilakukan di SMKN 4 Kendal, Kamis (25/9/2025).
Tim PKM USM terdiri dari Ketua C Hari Wibowo SPt MP, Ir Maria Sudjatinah MSi, Dr Iswoyo SPt MP, Antonia Nani Cahyani SSi MSi.
Dalam keterangannya, Hari Wibowo mengatakan, polystyren merupakan bahan yang digunakan dalam pembuatan styrofoam, yang banyak digunakan sebagai wadah atau kemasan untuk makanan atau minuman.
BACA JUGA: BEM FH USM Gelar Seminar Hukum Hadapi Tantangan di Era Modern
Menurut dia, bahan itu mengandung zat karsinogenik, yang bisa membahayakan tubuh manusia. Karena zat karsinogenik dapat memicu munculnya penyakit kanker.
Paparan polystyren kepada pengguna styrofoam, dapat menyebabkan iritasi pada kulit, mata, saluran pernafasan, dan saluran pencernaan.
”Penggunaan styrofoam sebagai wadah makanan, juga dapat membuat makanan terkontaminasi terhadap polystyren. Terutama pada makanan yang bersuhu tinggi, mengandung lemak tinggi, atau terlalu lama berada dalam wadah styrofoam, menjadikan makanan berpeluang lebih besar terkontaminasi,” katanya.
BACA JUGA: Mahasiswi Ilkom USM Sumbang Medali Emas Pomnas XIX/2025
Menurutnya, karena risiko penggunaan kemasan yang berbahan polystyren, maka perlu solusi yang bijak. Antara lain dengan melakukan daur ulang.
Polystyren tidak dapat terurai secara alami, dan dari waktu ke waktu akan pecah menjadi potongan-potongan kecil, kemudian bertahan di lingkungan selama ratusan tahun.
”Para ahli percaya, diperlukan waktu antara 500 sampai dengan 1 juta tahun, untuk bisa terurai secara alami. Polystyren yang amat ringan dan mudah terbang, dan tergolong sebagai objek yang sulit dibersihkan dari lingkungan. Polystyren dengan mudah lolos dari sistem pengumpulan sampah, dan akhirnya terakumulasi di darat dan air, karena mudah tertiup angin,” ujarnya.
BACA JUGA: Pascasarjana USM Bersinergi dengan Polresta Pati
Dia menambahkan, polystyren dapat didaur ulang menjadi bahan baku aneka produk daur ulang. Misalnya gantungan baju, pembugkus busa dan kotak cakram padat.
Namun demikian penting untuk dipastikan, metode yang digunakan sesuai dengan peraturan lingkungan yang berlaku. Hal ini supaya bisa meminimalkan emisi yang berbahaya atau Expanded Polystyrene (EPs) yang terkumpul, lalu diangkut ke pabrik daur ulang.
”Di sini busa EPs dibuat menjadi butiran, lalu dicuci dan diekstruksi untuk menghasilkan polystyren, kemudian digunakan kembali. Proses daur ulang ini memakan biaya yang tinggi dan rumit,” ungkapnya.
Riyan













