KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Kalau ingin merasakan alam dengan panorama indah dan berhawa dingin, silahkan datang saja ke objek wisata Tol Kayangan di Dusun Surodadi, Wonolelo, Sawangan, Kabupaten Magelang. Lokasinya berada di ketinggian 1.300 mdpl.
Untuk membuktikannya harus merasakan secara langsung udara dingin di lokasi. Caranya, silahkan datang ke lokasi yang berjarak 29 kilometer dari Kota Magelang atau 33 kilometer dari Salatiga itu.
Daya tarik objek wisata tersebut adalah panorama alam dan tempatnya dikelilingi beberapa gunung. Yakni Gunung
Merapi, Merbabu, Sumbing, Sindoro dan Ungaran.
Tentu yang menjadi idaman pengunjung adalah panorama sunrise dan sunset. Dengan catatan kalau pas tidak berkabut.
Petugas marketing,Medi Gondezt menyebutkan, pengunjung selain bisa menikmati panorama alam yang asri, juga udara dingin.
Hawa paling dingin pernah sampai 9 derajat celcius. Udara normal sekitar 12-13 derajat celcius.
“Hawanya setiap detik bisa berubah, maka disebut negeri kayangan,” jelas pria berputra satu itu.
Dia yang didamping karyawan setempat, Pak Rum atau Pak Kumis, menyebutkan, selama ini banyak pengunjung dari kota-kota besar. “Surabaya, Jakarta, Bandung, Cirebon, Jambi, Aceh, pernah juga dari luar negeri,” jelasnya.

Jumlah pengunjungnya kalau dirata-rata 200 orang/hari. Tapi pernah pecah rekor pas hari Minggu hampir empat ribu orang dalam sehari,” tuturnya.
Adapun tiket masuknya untuk
Senin-Jumat Rp 20 ribu/orang. Hari Sabtu, Minggu dan tanggal merah Rp 25 ribu/orang. Sedangkan untuk biaya parkir sepeda motor Rp 2 ribu, mobil Rp 5 ribu, Elf dan Hiace Rp 10 ribu. “Free semua spot foto yang ada,” tuturnya.
Disebutkan, objek wisata Tol Kayangan atau Negeri Kayangan atau Negeri di Atas Awan itu berdiri sejak pandemi Covid-19 sekitar tahun 2020. Mulanya ada pegowes turun dari dusun tersebut dan berfoto-foto di balik pemandangan indah. Kemudian fotonya di-uplaud di akun pribadinya. “Sejak itu banyak orang yang berkunjung ke sini,” jelasnya.
Pengaruh positifnya, sejak saat itu, warga setempat yang semula bekerja sebagai petani sayur seperti kubis, cabai, sawi, tomat dan kentang itu pindah haluan bekerja di objek wisata.
Objek wisata tersebut buka setiap hari, mulai pukul 06.00 – 18.00. Sebenarnya buka 24 jam, tetapi kalau malam penerangan belum mencukupi. Kalau untuk camping atau berkemah bisa.
Sewa peralatan berkemah Rp 450 ribu untuk empat orang. Sedangkan kalau membawa peralatan sendiri, hanya membayar tiket masuk dan sewa tempat Rp 45 ribu.
Kini objek wisata tersebut dilayani 34 karyawan, semua dari desa setempat. Tugas karyawan termasuk memberikan pengaturan jalan masuk menuju objek wisata. Karena dari jalan aspal Magelang-Boyolali harus masuk jalan desa sejauh satu kilometer yang relatif sempit.
Untuk makan dan minum pengunjung, di sana ada 11 warung makan. Uniknya di setiap warung tidak sendiri, melainkan pedagangnya berkelompok. Warung yang tergolong besar, milik 10 keluarga setempat.
Eko Priyono













