JEPARA (SUARABARU.ID) – Pada awal abad ke XVII saat kedatangan pertama kali orang Belanda ke pulau Jawa, Cornelis de Houtman mencatat telah ada produksi gula di Banten, Jayakarta, Kerawang dan Jepara. Bahkan kemudian Jepara pada tahun 1710 tercatat pembuatan gula di Jepara telah sejajar dengan Batavia, dan Cirebon.
Hal tersebut diungkapkan pegiat budaya Jepara Hadi Priyanto saat menjadi narasumber dalam Kegiatan Pembelajaran di Luar Kelas pada Mata Pelajaran Sejarah tentang Peninggalan Sejarah Belanda di Kabupaten Jepara yang berlangsung di Cagar Budaya Pabrik Gula Pecangaan dan Benteng Fort Japara , Sabtu 20 September 2025. Pabrik gula ini mulai dibangun tahun 1836.

Dalam kunjungan ini Hadi Priyanto telah menyerahkan buku Adipati Tjitrosomo yang di tulis bersama Ulil Abshor kepada manajemen PT Dasaplast Nusantara. Sedangkan Dr Pujiyanto menyerahkan buku Mozaik Gagasan R.A. Kartini untuk Bangsanya yang ditulis bersama 62 orang pegiat literasi Jepara.
Kunjungan yang diikuti 210 siswa kelas XI SMAN 1 Tahunan ini didampingi oleh guru mata Pelajaran Sejarah Dr Pujiyanto, S.Pd., M.Pd dan diterima oleh Manajer Produksi PT Dasaplast Nusantara, Jarod Prabasasangka dan tim.

Lebih jauh Hadi Priyanto menjelaskan, menjelang akhir masa kekuasaan VOC, perusahaan gula di Jepara telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dengan diperkenalkannya lebih awal teknologi silinder metal pada penggilingan gula, bersama dengan Pasuruan. “Wajarlah bila Jepara sebagai salah daerah perintis pembuatan gula di Jawa yang memiliki pabrik gula yang tersebar di sejumlah wilayah,” ujarnya.

Dalam perjalannya di Kabupaten Jepara tercatat tiga pabrik gula yaitu di Cumbing dimiliki M. Soekias dengan luas penanaman 250 bahu, Pabrik Pecangaan milik E. Vos dengan penanaman seluas 400 bahu dan Pabrik Mayong De Hoop milik I Haig dan Clifford seluas 550 bahu. “ Disamping itu berdiri pula pabrik gula Bonjot, Banyuputih, Jerukwangi dan Mlonggo,” ujar Hadi.
“Kini yang tersisa dari sejarah kejayaan gula di Jepara hanya tinggal cerobong asap yang dibangun oleh De Hollandsche Beton Maatschappij dari Mei 1927 – September 1927. Bangunan dengan tinggi 60 meter di bangun saat H.E.W. Hendriksz menjadi administrator pabrik tersebut,” ungkap Hadi
Sementara Manajer Produksi PT Dasaplast Nusantara, Jarod Prabasasangka menjelaskan, dalam perjalannya pabrik gula Pecangaan kemudian berubah menjadi pabrik karung goni dengan bahan baku rosela dan terakhir pada tahun 2004 menjadi PT Dasaplast Nusantara yang memproduksi karung plastik. “ Disamping untuk mencukupi kebutuhan 27 pabrik gula di Indonesia, juga di ekspor ke Jepang dan Amerika,” ujarnya.
Ia mengaku kunjungan siswa SMAN 1 Tahunan ini adalah kunjungan pertama siswa sekolah SLTA yang dilakukan setelah pabrik gula tersebut beralih menjadi PT Dasaplast Nusantara tahun 2004. “Kami sangat senang karena anak-anak dapat belajar dari perjalanan sejarah kotanya,” ujar Jarod
Hadepe













