blank
Drg Sutanti, Kepala Puskesmas Miroto, bersama rekan-rekannya Kagama Beksan Semarang menari untuk memeriahkan Festival Kota Lama. Foto: Dok Sutanti

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Festival Kota Lama (FKL) kota Semarang kembali digelar pada 6–14 September 2025 dengan berbagai even yang lebih menarik. Mengusung tema “Color of Unity”.

Festival ini menegaskan semangat persatuan dalam keberagaman melalui seni, budaya, musik, kuliner, hingga pertunjukan internasional yang menghidupkan kawasan Kota Lama sebagai warisan budaya dunia.

Festival Kota Lama juga menghadirkan para penampil dari berbagai daerah. Bahkan, yang selalu rutin tampil adalah Kagama Kolaborasi, Keluarga Alumni Gadjah Mada. Kagama Klaborasi tampil Sabtu malam 6 September lalu di Laroka, Jalan Cendrawasih.

Hadir alumnus UGM Prof Dr Ir Sri Puryono, mantan Sekda Jateng yang kini dosen di Undip,Ketua Kagama Jateng Haerudin yang kini menjabat Kepala Kesbangpol Jateng, Prof Hardono Susanto dan istrinya Drg Grace W Susanto.

Seperti biasa yang tampil adalah tampil Kagama Sekar Gending (karawitan/gamelan), Kagama Bersendandung (paduan suara). Kagama Dance (tari), dan Kagama Beksan Semarang (tari tradisional).

Biasanya Kagama Beksan melibatkan banyak sekali personel, tetapi kali ini tidak semuanya hadir. Drg Dian Nirmalasari, yang aktif di Kagama Beksan, mengatakan tidak berangkat ke Semarang karena situasi sekarang yang kurang kondusif.

“Kami rapat terakhir bersama kawan-kawan, melihat situasi yang kurang kondusif, kemudian memutuskan batal,” ujar dokter gigi yang tinggal di Jalan Kaliurang, Sleman, DIY ini.

“Kami tampil hari Sabtu kemarin bersama teman-teman alumni dari berbagai daerah. Kami dari Kagama Beksan Semarang menampilkan tarian,” kata Drg Sutanti, almunus UGM yang kini menjadi Kepala Puskesmas Miroto, Semarang Tengah.

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng meyakini bahwa FKL 2025 berlangsung lebih semarak dan berkesan dibanding tahun-tahun sebelumnya. Ia juga menegaskan festival kali ini menghadirkan rangkaian acara yang lebih kaya dan variatif.

“Festival Kota Lama selalu jadi momen seru yang dinanti setiap tahun. Dan saya yakin tahun ini acaranya makin lengkap dan meriah. Jadi saya ajak warga kota Semarang dan siapapun dari luar kota untuk hadir, merasakan sendiri vibes Kota Lama yang hidup dengan beragam pertunjukan,” ungkap Agustina.

Baca juga Buah Maja Itu Tidak Pahit, Buktikan di Desa Jarum Rasanya Manis Aromanya Wangi

Festival Kota Lama menurut rencana akan dibuka pada Senin, 8 September 2025, dengan Opening Ceremony di Laroka Theater, kawasan Kota Lama Semarang. Pertunjukan orkestra megah menghadirkan harmoni musik klasik modern berpadu tata cahaya dalam nuansa bangunan bersejarah.

Sehari setelahnya, Selasa 9 September 2025, Kota Lama Orchestra di Gereja Blenduk akan memberikan pengalaman mendengarkan musik klasik dalam kubah megah berarsitektur Eropa abad ke-18.

blank
Kagama Beksan Semarang memeriahkan Festival Kota Lama lewat tarian yang ditampilkan. Foto: Dok. Sutanti

Kemudian pada Rabu, 10 September 2025, giliran Jazz Kota Lama di Laroka Theater menghadirkan musisi nasional seperti Soegi Band dan musisi Parradice dari Belanda. Suasana semakin meriah pada Kamis, 11 September 2025, lewat Fiesta Folklore Nusantara di Plataran Marba Jalan Letjen Suprapto yang menampilkan parade kesenian dari Korea, Jepang, Yogyakarta, Minang, Bugis, Kudus, hingga Reog Ponorogo.

Di hari yang sama hingga 14 September 2025, Gedung Oudetrap menghadirkan dua pameran spesial, yakni Pikat Wastra Nusantara, yang menampilkan ragam kain batik dan wastra tradisional lengkap dengan demo membatik serta fashion show. Serta Royal Hanbok Exhibition, yang mempersembahkan keindahan busana hanbok tradisional Korea Selatan.

Tidak ketinggalan, panitia Festival Kota Lama 2025 juga menghadirkan Pasar Sentiling Kuliner Nostalgia di Parkir Metro Point mulai 6 – 14 September 2025. Acara ini menyajikan kuliner legendaris dari Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Aceh, Makassar, hingga Pontianak.

Mengusung konsep akulturasi empat entitas budaya Kota Semarang yakni Belanda, China, Melayu, dan Khoja, pasar ini mengajak masyarakat bernostalgia sambil mendukung pelestarian kuliner tradisional.

Puncak perayaan akan digelar pada Minggu, 14 September 2025 dengan menghadirkan Wayang on The Street di Jalan Letjen Suprapto. Lakon “Sang Pinilih” dibawakan dalam format modern yang akrab dengan generasi muda, dipadukan parade cosplay, flashmob, serta lomba kostum dengan Piala Wali Kota Semarang sebagai hadiah utama.

Selama sembilan hari, berbagai titik Kota Lama seperti Gedung Marba, Gereja Blenduk, Laroka Theater dan Metro Point akan hidup dengan panggung musik, seni rupa, komunitas, serta kuliner khas. Festival ini melibatkan seniman, pelajar, komunitas, hingga mitra internasional dari Belanda, Korea, dan Taiwan.

Dengan rangkaian acara yang semakin kaya, Festival Kota Lama 2025 diharapkan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menggerakkan ekonomi kreatif, meningkatkan kunjungan wisatawan, serta memperkuat identitas Semarang sebagai kota budaya yang terbuka bagi dunia.

Hery Priyono