JEPARA (SUARABARU.ID) – Suku Bugis adalah salah satu suku besar di Indonesia yang berasal dari Sulawesi Selatan, dengan populasi yang tersebar di berbagai wilayah nusantara, termasuk di Desa Kemujan, Kecamatan Karimunjawa, Kabupaten Jepara.
“Penduduk desa ini 60 persen adalah suku Bugis yang tersebar di dukuh Telaga, Kemujan, Merican dan Batulawang,” ujar Yarhannudin, generasi keempat suku Bugis yang membuka hutan di Desa Kemujan saat ditanya SUARABARU.ID Jumat (5/9-2025)

Walaupun bersentuhan dengan ragam budaya lain seperti Bajo, Mandar, Madura, Buton, dan Jawa, suku Bugis di Kemujan tak meninggalkan akar budaya leluhurnya. “Bahkan mereka dikenal gigih dalam melestarikan adat istiadat, meskipun terhimpit oleh gelombang modernisasi. Kaya akan tradisi dan budaya, suku Bugis di Karimunjawa memiliki berbagai upacara sakral yang hingga kini masih dijalankan oleh masyarakatnya,” tutur Yarhannudin
Upacara-upacara tersebut tidak hanya menjadi simbol keagamaan dan spiritualitas, tetapi juga mencerminkan filosofi hidup yang mendalam serta hubungan harmonis antara manusia, alam, dan leluhur.
Tradisi-tradisi ini terus menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari masyarakat Bugis yang tak lepas dari tradisi dan adat yang bertalian dengan agama Islam. “Salah satu tradisi masih dilestarikan di Kemujan erat hubungannya dengan praktik keagamaan, tak lain To’dok Tello’,” ungkapnya

Ritual bagian dari perayaan kelahiran Rasul setiap bulan Rabiul Awal di kalender Hijriah tersebut disertai dengan pembacaan Sure’ Makellu’ menceritakan risalah kelahiran Rasul serta Sure’ Malindrung berisikan risalah kematian Rasul. “To’dok Tello’ bermakna menusuk telur sehingga filosofinya terkait keseimbangan hidup duniawi dan samawi,” terangnya
Tradisi To’dok Tellok yang dari generasi ke generasi diselenggarakan di lingkungan masyarakat kecil ini, sejak dua tahun lalu oleh Pemdes Kemujan dibuat sebagai festival. “ Acara tersebut digelar di lapangan Dusun Telaga Desa Kemujan yang diikuti oleh masyarakat,” ujar Yarhannudin yang merupakan generasi ke empat suku Bugis yang babad alas di Kemujan.

Menurut Yarannudin, Takdok Minyak, isinya ketan hitam atau putih yang kemudian dimakan bersama telurnya. “ Maknanya adalah kerakatan dan kerukunan antar warga masyarakat tanpa melihat latar belakangnya,” ujar Yarhan Ambon.
Tokdok Tellok; telur masak yang ditusuk dengan bambu yang dihias ujung bambu dengan bunga dan ada bendera bermotif. Telur di ibaratkan bumi dan Tok’dok tusuk bambu melambangkan kejujuran dan keteguhan.

Ia juga menejelaskan, acara prosesi To’dok Tellok ini dimulai pagi hari dengan lantunan doa di masing-masing masjid dan siangnya dari tiap-tiap dusun mengarak telur menuju lapangan Telaga.
“Acara dibuka dengan tarian penyambutan iring-iring an telur dari masing dusun, mushala, masjid, TPQ dan sekolah yang ada di Kemujan. Juga ada rebana, tahlil dan doa. Selanjutnya ada pembagian telur & sokko atau ketan dan pada malam harinya dilanjut pengajian,” ujarnya
Tradisi dan budaya suku Bugis mencerminkan kekayaan warisan leluhur yang terus dipertahankan. Meskipun dunia modern telah membawa banyak perubahan, nilai-nilai sakral dan identitas budaya tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Bugis hingga kini.
Hadepe













