KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Prof Totok Rusmanto dosen UIN Walisongo Semarang, berpendapat, pengelolaan Candi Borobudur harus ada evaluasi. Apalagi sudah menyandang predikat warisan dunia, atau peringkat internasional.
Dia mengatakan hal itu dalam penutupan acara kompetisi opini pengelolaan Candi Borobudur dalam rangka Kongres Borobudur III, di depan bangunan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, hari ini Rabu (27/8/25). Juara pertama kompetisi tersebut adalah pedagang Kampung Seni Borobudur Riyanto, dengan judul tulisan: Dampak perubahan kebijakan tata kelola Borobudur. Disusul juara dua adalah Totok Rusmanto dengan judul tulisan: Pradaksina – Desa Borobudur pengembangan berbasis pelestarian nilai spiritual Borobudur. Kemudian juara tiga adalah Basir dari komunitas mobil wisata VW dengan tulisan: Peran VW dalam membangun wisata lintas kawasan Borobudur.
Selebihnya Totok Rusmanto mengatakan, menurut
pengamatan dia, dengan keberadaan Candi Borobudur, seharusnya desa di sekitarnya makmur. “Seperti Desa Bumisegoro dan Sabrangrowo, itu dahulu dibebaskan dari pajak. Di zaman Majapahit juga bebas pajak. Sebenarnya dengan adanya Candi Borobudur, masyarakat sekitarnya disejahterakan,” katanya.
Hasil pengamatan dia, di banyak cagar budaya, masyarakat di sekitarnya belum terkait.
Di sisi lain, arsitek kurang perhatian. Misalnya, ketika ada wacana dibangun lift di Candi Borobudur, para arsitek belum tertarik. Mungkin bisa ada sinergi antara Taman Wisata Candi dan pihak lain untuk mengeksplore menjadi masukan berharga yang akan dimanfaatkan.
Menurut dia, ketika hendak ke Candi Borobudur mulai akan dirasakan ketika menyeberang jembatan Sungai Progo. Dia tidak langsung tertarik untuk ke Candi Borobudur. Karena tidak ada pengantar yang disampaikan sejak awal.
Selama ini, menurut dia, informasi di internet simpang siur. Karena dibuat oleh perorangan. Seharusnya ada informasi lengkap, berupa pamflet, baik dari masyarakat, maupun komunitas yang ada di Borobudur.
Itu sekaligus untuk menghidupkan sinergi antardesa. Hingga masyarakatnya berkreasi dan berpartisipasi menumbuhkan destinasi baru. “Orang dari sini (Borobudur) ke Desa Wanurejo, dari Wanurejo ke selatan. Seharusnya berhenti di sini,” ujarnya.

Pengamatan dia, setelah dari Candi Borobudur kalau ditawari ke Gereja Ayam, Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, tidak langsung tertarik untuk ke sana. Karena terpengaruh kurangnya pelayanan untuk ke sana.
Sebaiknya, lanjut dia, selain Candi Borobudur, di 20 desa se-Kecamatan Borobudur memiliki daya tarik yang memiliki kekhasan. “Pariwisata itu baru berhasil kalau seseorang datang beberapa kali, tidak hanya sekali,” katanya.
Maka, menurutnya, perlu ditumbuhkan kreativitas dan partisipasi dari masyarakat dan komunitas yang ada.
Masalah
Pemrakasa kegiatan itu, Sucoro Setrodiharjo, dalam kesempatan itu mengatakan, sejak fungsi bangunan indah itu dialihkan menjadi Taman Wisata Candi Borobudur, yang sebelumnya merupakan Taman Purbakala Nasional, diliputi banyak masalah. Masalah yang terkait dengan pelestarian, eksploitasi besar-besaran, masyarakat yang tidak bisa menikmati, masyarakat yang masih miskin, menurut dia membuat suatu keprihatinan.
Dia yang sudah 23 tahun membuat Yayasan Ruwat Rawat Borobudur, ternyata belum bisa memberikan dorongan semangat, untuk membuat ruang evaluasi bersama. Melalui kompetisi opini itu dia berharap kepada pengelola, maupun pemerintah, untuk melakukan evaluasi berbagai persoalan. Untuk mendorong pengelolaan Candi Borobudur yang berkualitas dan berkelanjutan.
Dia kemukakan, banyak persoalan yang tidak bisa disebutkan semuanya. Salah satunya, terkait upaya pelestarian dirasa sangat penting untuk diperhatikan. Kemudian tentang manfaat spiritual juga perlu perhatian. “Borobudur kan awalnya tidak untuk destinasi wisata, tapi untuk kepentingan spiritual. Tapi kepentingan spiritual terabaikan,” tuturnya.
Akibatnya, menimbulkan banyak persoalan. Itu menurut dia yang perlu diurai untuk menjadi bahan pengelolaan yang berkualitas.
Koordinator Unit Warisan Dunia Borobudur dan Prambanan, Wiwit Kasiyati, ketika menutup acara itu berterima kasih kepada panitia dan peserta. Dia harap tahun depan diadakan lagi kegiatan seperti itu.
Juara
Juara pertama kompetisi tersebut adalah pedagang Kampung Seni Borobudur, Riyanto dengan judul tulisan: Dampak perubahan kebijakan tata kelola Borobudur. Disusul juara dua adalah
Totok Rusmanto dengan judul tulisan: Pradaksina – Desa Borobudur pengembangan berbasis pelestarian nilai spiritual Borobudur. Kemudian juara tiga adalah Basir dengan tulisan: peran VW dalam membangun wisata lintas kawasan Borobudur.
Eko Priyono













