JEPARA (SUARABARU.ID)- Sebanyak 199 calon pegawai negeri sipil (CPNS) dari berbagai kantor wilayah Kementerian Hukum mengikuti ceramah core value BerAKHLAK yang disampaikan oleh widyaiswara , Dr. Muh Khamdan, Senin (26/8/2025). Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian Pelatihan Dasar (Latsar) yang berlangsung hingga akhir November mendatang.
Dalam paparannya, Khamdan menekankan bahwa nilai-nilai dasar profesi harus menjadi fondasi ASN di era transformasi birokrasi. “ASN adalah pelayan publik. Itu bukan slogan, melainkan jati diri profesi,” ujarnya lantang di hadapan peserta. Ia kemudian menguraikan tujuh pilar BerAKHLAK, yaitu Berorientasi Pelayanan, Akuntabel, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif.
Nilai BerAKHLAK, menurutnya, lahir dari kebutuhan birokrasi menghadapi lingkungan strategis yang kian kompleks. Disrupsi digital, perubahan sosial, hingga dinamika global menuntut aparatur sipil negara lebih gesit dan kompetitif. “Kita sedang menuju ASN Robust 2030 dan ASN Kompetitif 2045. Itu bagian dari jalan menuju Indonesia Emas berkelas dunia,” kata Khamdan.
Ia mengingatkan pentingnya membangun mindset positif ASN sebagai pelayan publik. Khamdan mencontohkan keteladanan tokoh-tokoh agama. “Isa Al Masih membasuh kaki muridnya, Umar bin Khattab memanggul gandum sendiri untuk keluarga miskin. Semua agama menekankan makna melayani. Itu relevan bagi ASN hari ini,” tuturnya.
Kisah-kisah inspiratif itu rupanya memberi kesan mendalam bagi peserta. Sabrina Rahmi, CPNS dari Kantor Wilayah Kalimantan Selatan, mengaku sangat terinspirasi. “Ternyata menjadi ASN bukan soal kedudukan, tapi bagaimana benar-benar melayani rakyat. Kisah-kisah itu membuat saya ingin menguatkan nilai berorientasi pelayanan,” katanya.
Sementara itu, Nurul Rachmadani dari Kantor Wilayah Sulawesi Selatan menyoroti pentingnya harmoni dalam keragaman. “Sebagai PNS, kami berperan sebagai pemersatu bangsa. Nilai harmoni dan kolaborasi sangat relevan untuk menjaga keutuhan masyarakat,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Fahrul Rozy dari Kantor Wilayah Kalimantan Timur. Ia menekankan perlunya karakter adaptif di tengah percepatan perubahan. “Kalau ingin menjadi ASN berkelas dunia, kita harus smart, terbuka terhadap inovasi, dan berani beradaptasi,” ujarnya.
Ceramah Khamdan tidak berhenti pada teori. Ia mengaitkan nilai BerAKHLAK dengan praktik keseharian birokrasi digital. Menurutnya, penguatan budaya kerja mesti sejalan dengan pengembangan layanan berbasis teknologi. “ASN Kementerian Hukum harus menjadi tunas Pengayoman yang siap bertransformasi. Digitalisasi pelayanan bukan pilihan, tetapi keharusan,” tegasnya.
Kementerian Hukum, imbuhnya, harus tampil sebagai organisasi pembelajar. ASN muda perlu menginternalisasi BerAKHLAK sembari memanfaatkan teknologi digital sebagai instrumen peningkatan mutu pelayanan. “Kita tidak boleh ketinggalan. Setiap inovasi digital harus berpijak pada Pancasila dan semangat pengayoman,” katanya.
Momentum Latsar CPNS tahun ini, menurut Khamdan, menjadi ruang strategis menanamkan nilai kerja ASN. Ia berharap 199 peserta angkatan ini mampu menjadi motor penggerak birokrasi yang melayani, bukan dilayani.
“Jika ASN muda mampu menginternalisasi nilai BerAKHLAK, maka pelayanan publik kita akan semakin berkualitas dan berkeadilan,” ujarnya.
Bagi Sabrina dan kawan-kawan yang berasal dari 12 provinsi, sesi ini menjadi pengingat bahwa status CPNS bukan sekadar formalitas. Mereka adalah generasi yang akan mewarnai wajah birokrasi digital di masa depan. “Kami ingin meneguhkan diri sebagai ASN BerAKHLAK yang bisa memberi manfaat nyata,” kata Nurul.
Ceramah yang berlangsung satu jam setengah itu ditutup dengan pesan kuat dari Khamdan: “ASN bukanlah menara gading. Kita adalah pelayan rakyat. Dengan BerAKHLAK, mari kita wujudkan birokrasi digital yang manusiawi, berlandaskan Pancasila, demi Indonesia Emas 2045.”
Balai Diklat Hukum Jawa Tengah menargetkan seluruh CPNS peserta Latsar mampu menyelesaikan rangkaian pembelajaran hingga November. Mereka nantinya akan melakukan proses aktualisasi berupa rangkaian kegiatan untuk membantu meningkatkan tampilan layanan di unit kerja masing-masing, sekaligus membawa bekal nilai-nilai kerja yang menjadi inti profesionalisme ASN.
ua













