blank
Di tangan dalang muda ahli sabet, Ki Alifian Nur Rohmat, lima anak wayang sekaligus dikeluarkan untuk mengekspresikan beragam gerak atraktif di pakeliran.(Dok.Ist)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Di Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, semalam, dipentaskan Lakon Wahyu Katentreman yang mementaskan episode Sesaji Raja Suya. Ini dipilih dari 274 lakon di pakeliran wayang kulit. Pentas wayang kulit spektakuler ini, semalam digelar serentak di 25 kecamatan se Kabupaten Wonogiri. Menjadi event wisata budaya yang menakjubkan.

Wayangan Agustusan ini, digelar untuk memeriahkan perayaan genap 10 windu atau HUT Ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) Tahun 2025. Ini menjadi momentum budaya yang luar biasa dan baru pertamakalinya terjadi. Setidak-tidaknya di Kabupaten Wonogiri, selama ini belum pernah terjadi pementasan wayang kulit serentak dalam semalam di 25 tempat yang dimainkan oleh 61 orang dalang.

Ketua Persatuan Dalang Indonesia (Pepadi) Wonogiri, Ki Eko Sunarsono SSn, menyatakan, untuk Kecamatan Pracimantoro dimainkan oleh 6 orang dalang terdiri atas Ki Anjali Bintang Kusuma (juara pertama lomba dalang tingkat nasional Tahun 2024), Ki Yovian Giri Utomo, Ki Ilham Teten Putra, Ki Muhammad Aria Afandi, Ki Hendri Susanto dan Ki Paminto Sri Asmoro. Kecamatan Ngadirojo dimainkan 5 orang dalang, di Kecamatan Baturetno 4 orang dalang. Kemudian masing-masing 3 orang dalang, di Kecamatan Wonogiri Kota dan Kecamatan Purwantoro. Selebihnya, yakni di 20 kecamatan, dimainkan oleh masing-masing 2 orang dalang.

Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, Bupati Setyo Sukarno, hadir pada pementasan wayang Agustusan di Pendapa Kecamatan Baturetno. Semalam, kuartet dalang yang tampil di Baturetno, terdiri atas Ki Sudomo Redi Wiyoto SSn, Ki Egi Cahyo Widhi Asmoro, Ki Tulus Budiman dan Ke Agis Japa.

Untuk pementasan di Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri, menyajikan episode Sesaji Raja Suya. Dimainkan duet dalang Ki Alifian Nur Rohmat SSn bersama Ki Bambang Indri SSn. Diawali dengan penyerahan tokoh Werkudara oleh Camat Giritontro Sangga Okta Kharisma kepada Ki Dalang. Dirangkai dengan pemotongan parade tumpeng oleh para Kepala Desa (Kades) bersama para Lurah se Kecamatan Giritontro.

Di jagad pakeliran wayang purwa, banyak khasanah lakon yang memiliki tuah katentreman (aman, damai, sejahtera dan terjauhkan dari gangguan). Duet dalang Ki Alif dan Ki Bambang, menyajikan episode Sesaji Rajasuya yang masuk dalam salah satu dari 274 jenis lakon wayang, atau menjadi salah satu dari 225 lakon Wayang Mahabarata. Episode, merupakan bagian segmen dari suatu cerita atau kisah.

Dalam Buku Ensiklopedi Wayang, Penerbit Senawangi (Sekretariat Nasional Wayang Indonesia) Jakarta 1999, Sesaji Raja Suya masuk dalam urutan ke 50 dari 225 lakon Mahabarata, yang termuat di halaman 1.540 Buku Ke-5. Sebanyak 225 lakon tersebut, termasuk 4 lakon banjaran (riwayat) tokoh wayang. Yakni Banjaran Sengkuni, Bima, Karna dan Banjaran Kumbakarna.

Murwakala

Kecuali 225 jenis lakon baku di Mahabarata, masih ada sebanyak 26 jenis lakon Wayang Ramayana, mulai dari Lakon Bedah Ayodya sampai Anoman Obong. Dari Wayang Lokapala, tercatat ada sebanyak 8 lakon, mulai dari Sastra Jendra sampai Arjunasasra Pralaya. Kemudian Wayang Lakon Dewa ada 15, mulai dari Jagad Gumelar (Manikmaya) sampai Murwakala. Total yang baku ada sebanyak 274 lakon.

Sesaji Raja Suya, mengkisahkan usaha Pandawa untuk menobatkan Puntadewa sebagai Raja Gung Binatara (Raja Diraja). Syaratnya, disaksikan oleh 100 orang raja. Bersamaan itu, Raja Giribraja, Prabu Jarasanda, yang berupaya sama untuk penobatan dirinya sebagai Raja Diraja, akan menggelar Sesaji Kala Ludra dengan tumbal mempersembahkan kepala 100 orang raja.

Dari jumlah tersebut, Prabu Jarasanda telah berhasil menahan sebanyak 98 raja. Kurang dua raja, diharapkan dari Prabu Puntadewa, Kresna atau Baladewa. Tentu saja, ini memicu terjadinya perang tanding, dan Prabu Jarasanda akhirnya tewas oleh Werkudara, dengan cara dibelah tubuhnya dan dibuang ke arah berlawanan.

Sebanyak 98 raja yang jadi tawanan Prabu Jarasanda, akhirnya dibebaskan Werkudara dan diundang untuk menghadiri ritual Sesaji Raja Suya, bersama Raja Mandura Prabu Baladewa dan Raja Dwarawati Prabu Kresna. Sehingga genaplah jumlah 100 orang raja.

Karena ampuh sejak lahir, selama ini Prabu Jarasanda tidak pernah terkalahkan. Dia dilahirkan oleh dua ibu, yakni Dewi Kahita dan Dewi Kawita yang merupakan istri dari Prabu Wrehatrata. Dua istri Wrehatrata, masing-masing melahirkan separo tubuh bayi, yang akhirnya dibuang dan ditemukan oleh Raja Peri Nyi Jara. Di tangan Nyi Jara, dua belahan tubuh bayi itu dapat disatukan, dan jadilah Jarasanda, yang tumbuh memiliki keampuhan tak tertandingi.

Sebenarnya masih ada Lakon Wahyu Katentreman yang populer, yakni dengan mengambil back story upaya pemulihan musibah Pagebluk Mayangkara di Padepokan Karang Kedempel. Untuk membebaskan pagebluk, Ki Lurah Semar Bodronoyo, minta pertolongan para putra Pandawa untuk mencarikan syaratnya. Yakni Pusaka Jamus Kalimasada milik Puntadewa.(Bambang Pur)