blank
Para pemenang terakhir serangkaian Festival Monolog Tuman (Fesmotu) 2025 yang diselenggarakan oleh Teater Kampus Tuman Unisnu bekerjasama dengan Djarum Foundation Bakti Budaya. Foto: Dok Tuman

Oleh :  Septiana Wibowo

Malam Penganugerahan adalah malam terakhir serangkaian Festival Monolog Tuman (Fesmotu) 2025 yang diselenggarakan oleh Teater Kampus Tuman Unisnu bekerjasama dengan Djarum Foundation Bakti Budaya. Acara yang berlangsung selama tiga hari berturut-turut, pada 27-29 Juli ini menjadi angin segar bagi insan seni peran di Jepara.

Para aktor menunjukkan pemahaman yang mendalam terhadap tokoh yang diperankan sebagai pusat narasi. Hampir keseluruhan berhasil menyampaikan kompleksitas emosi dari idealisme, ketakutan, hingga kepasrahan. Perubahan ekspresi yang tampak, terutama saat menceritakan penyiksaan dan kehilangan kawan-kawan seperjuangan, terasa otentik dan menyentuh.

Satu hal yang menonjol dari pertunjukan ini adalah kematangan blocking dan pemanfaatan ruang. Meskipun para aktor hanya berdiri sendirian di atas panggung, banyak dari mereka yang berhasil menciptakan yang atmosfer penuh. Bergerak dinamis namun tidak berlebihan, tetap menjaga fokus penonton pada narasi.

blank
Para juri terakhir serangkaian Festival Monolog Tuman (Fesmotu) 2025 yang diselenggarakan oleh Teater Kampus Tuman Unisnu bekerjasama dengan Djarum Foundation Bakti Budaya.. Foto: Dok Tuman

Intonasi digunakan efektif untuk menegaskan makna, terutama dalam bagian-bagian puisi atau narasi puitis khas Laut Bercerita. Penggunaan jeda dan ritme ucapan juga memperkuat efek dramatik. Meski demikian, ada beberapa bagian awal pertunjukan yang tempo bicara sedikit terlalu cepat sehingga beberapa detail narasi kurang terserap dengan baik.

Dalam malam penganugerahan, pada 29 Juli 2025, tampak beberapa sekolah yang berasal dari luar kota datang dan menyaksikan serangkaian Acara Malam Penganugerahan hingga akhirnya diumumkan bahwa KMT ISBI, Bandung sebagai juara pertama, diikuti Dengung Teater Temanggung sebagai juara kedua, dan Teater Bubat 212 Bandung sebagai juara ketiga. Untuk harapan pertama diraih oleh Teater Tembang Balekambang Jepara,  Harapan kedua diraih oleh Ndadak Teater Sukowati Sragen, dan Teater Turi Jepara pada harapan ketiga.

blank
Para penerima hadiah dalam Festival Monolog Tuman 2025. Foto: Tuman

Berbicara soal hadiah juga tak kalah menyenangkan dimana untuk juara pertama mendapatkan tropi beserta uang tunai lima juta rupiah, diikuti oleh juara dua dengan tropi dan uang tunai tiga juta lima ratus ribu rupiah dan juara ketiga dengan tropi dan nominal tunai dua juta lima ratus ribu rupiah. Dimana untuk masing-masing juara harapan juga mendapatkan tropi dan uang tunai masing-masing lima ratus ribu rupiah.

Sebuah festival teater yang sangat bergengsi dengan juri yang juga luar biasa berkompeten pada bidangnya yaitu Seni Peran dan Keteateran. Mereka adalah Seniman dan Sutradara Senior Gigok Anurogo dari Surakarta, Irwan Jamal Sutradara, Aktor dan Dosen Seni Peran dari Bandung dan sebagai juri tuan rumah, Penulis, Pendongeng sekaligus Praktisi Teater Jepara Den Hasan.

Dalam sambutannya, Murniasih selaku dosen di Fakultas Komunikasi dan Desain serta Pembina Teater Tuman menyampaikan apresiasi yang sangat baik dimana Fesmotu menjadi wadah apresiasi insan muda terutama praktisi seni peran itu sendiri.

Avis Nur Mufidah, salah satu Mind Crafter acara Festmotu 2025 menjelaskan bahwa festival teater ini sudah tujuh kali berturut-turut digelar, mulai pada 2016 hingga 2025. Absen tiga tahun pada 2017,2019 dan 2020, namun menurutnya ini tak menjadi alasan untuk tidak produktif berkarya.

Avis menyampaikan bahwa Fesmotu adalah ruang kolektif bersama tidak hanya anggota Teater Tuman saja. Kami berusaha memberikan manfaat yang luas, untuk seluruh pegiat teater, untuk Kampus Unisnu dan juga untuk Jepara sendiri. Karena baginya ruang kolektif adalah tempat paling nyaman bagi inisiatif-inisiatif yang telah dan akan lahir.

Kesimpulannya, pertunjukan ini merupakan contoh kuat bagaimana monolog bisa menjadi media yang sangat emosional dan taktis. Para aktor yang berhasil menghidupkan naskah Laut Bercerita begitu memukau, tidak hanya sebagai kisah personal seorang aktivis, tapi juga sebagai simbol dari ingatan kolektif bangsa. Meski ada beberapa catatan teknis minor, kualitas seni peran yang ditampilkan sangat layak diapresiasi.

Penulis adalah aktivis budaya Jepara