blank
Orang tua diharapkan dapat kooperatif dan peduli dengan tumbuh kembang anak dengan mengikuti tata laksana pencegahan stunting yang disosialisaikan Puskesmas. Foto: Tya Widya.

GROBOGAN (SUARABARU.ID) – Upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Grobogan terus digencarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif.

Salah satu program unggulan yang saat ini dijalankan adalah Pediatric Social Responsibility (PSR).

PSR merupakan kegiatan penyuluhan dan pemeriksaan kesehatan yang melibatkan dokter spesialis anak di sejumlah Puskesmas.

BACA JUGA: Sunarsi Dikukuhkan sebagai Ketua PC IBI  Sragen yang Baru dengan Kemenangan Suara Mutlak, 

Kepala Dinas Kesehatan Grobogan, dr Djatmiko MAP, menjelaskan pekan ini PSR dilaksanakan sejak 17 hingga 24 Juli 2025.

Kegiatan akan ditutup dengan kegiatan pemeriksaan kesehatan di area Car Free Day (CFD) pada Minggu mendatang.

“Pekan ini kita ada PSR, mulai 17 sampai 24 Juli. Terakhir akan kita tutup dengan kegiatan di CFD,” ujar dr Djatmiko saat ditemui di kantornya, Senin (21/7/2025).

Melalui PSR, masyarakat mendapatkan edukasi tentang tumbuh kembang anak, konsultasi langsung dengan dokter anak, hingga pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan lokal bagi ibu hamil dan balita.

Kegiatan ini juga mencakup pemberian suplemen untuk balita dengan masalah gizi serta Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan (PMT-P) bagi ibu hamil dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK).

Dinkes Grobogan turut menggiatkan penyuluhan gizi kepada masyarakat untuk meningkatkan pemahaman tentang pentingnya asupan gizi seimbang, pola asuh yang tepat, dan peran aktif Posyandu dalam pencegahan stunting.

Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting di Kabupaten Grobogan tercatat sebesar 20,8 persen, angka yang masih cukup tinggi dibandingkan target nasional.

Guna menekan angka tersebut, Pemerintah Kabupaten Grobogan telah menetapkan 48 lokus stunting pada tahun 2025 dan 41 lokus untuk tahun 2026 sebagai fokus intervensi program kesehatan.

Seluruh Puskesmas di Grobogan juga melakukan skrining tumbuh kembang secara rutin di Posyandu, terutama memantau bayi yang tidak mengalami peningkatan berat badan selama dua bulan berturut-turut.

“Kalau berat badan tidak naik satu atau dua kali, maka harus segera dievaluasi di Puskesmas agar bisa diberikan relaktasi atau penanganan lain sesuai alur,” jelas dr Djatmiko.

Dinas Kesehatan Grobogan juga mengingatkan pentingnya pemberian Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang sesuai, bukan berupa menu tunggal seperti pisang atau bubur instan yang dijual di pinggir jalan.

“Menu tunggal masih sering diberikan orang tua. Kami imbau agar MP-ASI tidak digantikan dengan susu formula, terutama pada usia 6 bulan,” tegas dr Djatmiko.

Selain itu, edukasi juga disampaikan mengenai bahaya membiasakan anak-anak mengonsumsi jajanan dan susu kemasan rendah gizi, terutama pada usia di atas satu tahun.

BACA JUGA : BNNP Jateng: Sekolah di Banyumas Siap Jadi Zona Bebas Narkoba

“Masih banyak ditemukan kasus anak dibiasakan jajan dengan alasan supaya terbiasa. Ini justru berisiko menambah angka stunting di masa mendatang,” katanya.

Dinkes Grobogan berharap para orang tua aktif mendukung program pencegahan stunting dengan mengikuti pemeriksaan rutin, hadir di Posyandu, serta menerapkan pola makan sehat untuk anak-anak mereka.

Menurut dr Djatmiko, kesadaran orang tua sangat menentukan keberhasilan penurunan angka stunting di Grobogan, dan upaya ini harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.

TYA WIDYA