blank
Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Al-Hikmah Jepara melakukan anjangsana institusional ke BEM Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara, Sabtu 19 Juli 2025. Foto: SB / Adi Pratama

JEPARA (SUARABARU.ID) — Dalam rangka membangun konsolidasi nalar kritis serta memperkuat artikulasi gerakan kemahasiswaan berbasis nilai dan keilmuan, Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Al-Hikmah Jepara melakukan anjangsana institusional ke BEM Universitas Islam Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara.

Kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu, 19 Juli 2025, tersebut tidak sekadar menjadi medium silaturahmi antar-lembaga, tetapi merupakan ekspresi praksis dari kesadaran kolektif akan pentingnya revitalisasi peran mahasiswa dalam ekosistem keilmuan nasional.

Di tengah dinamika masyarakat yang bergerak secara simultan dan kompleks, pertemuan ini menjadi medan artikulatif yang mempertemukan dua entitas kemahasiswaan dalam konstruksi dialog yang bukan hanya horizontal secara sosial, tetapi juga vertikal secara intelektual.

blank
Melalui pertukaran gagasan diharapkan tidak berhenti pada level taktis kegiatan kampus, melainkan menyentuh dimensi strategis menyangkut posisi mahasiswa dalam arsitektur epistemik bangsa.. Foto: SB / Adi Pratama

Pertukaran gagasan yang terjadi tidak berhenti pada level taktis kegiatan kampus, melainkan menyentuh dimensi strategis menyangkut posisi mahasiswa dalam arsitektur epistemik bangsa.

Dalam pembukanya, Presiden Mahasiswa Universitas Al-Hikmah, Bidzikril Hakim, mengemukakan urgensi transendensi peran mahasiswa dari sekadar pelaksana  program menjadi aktor transformasional yang memiliki daya cipta terhadap ruang-ruang diskursus kebangsaan dan kebudayaan.

“Momentum ini bukan sekadar perjumpaan formalistik antar-lembaga, melainkan elaborasi nilai-nilai paradigmatik yang harus senantiasa kita jaga. Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga produktif secara intelektual dalam menghadapi konvergensi krisis global dan lokal,” ungkap Bidzikril dalam pemaparan reflektifnya.

Diskursus yang berkembang mencakup wacana tentang reposisi kelembagaan mahasiswa dalam menghadapi tantangan Generasi Emas 2045, dengan pendekatan multidisipliner yang menggabungkan aspek struktural, kultural, dan spiritual.

BEM UNISNU, Adam Mahfud  dalam responsnya menekankan pentingnya membangun jejaring afiliasi yang berbasis pada epistemologi kerakyatan dan keberpihakan pada nilai-nilai etik keadaban publik.

Pertemuan ini menghasilkan simpulan bahwa keberlangsungan gerakan mahasiswa harus ditopang oleh kemampuan untuk membangun ekosistem diskursus yang otonom, reflektif, dan integratif—sehingga mampu menanggapi kompleksitas zaman dengan perangkat analitis yang tajam, namun tetap berakar pada nilai-nilai lokalitas dan spiritualitas.

Anjangsana ini bukan sekadar perjalanan kelembagaan, tetapi sebuah manifestasi epistemologis atas semangat interkoneksi nalar, spiritualitas, dan tindakan sosial, sebagai modal penting dalam merumuskan masa depan kepemudaan Indonesia yang beradab dan berdaulat secara intelektual.

Hadepe – Adi Pratama