SEMARANG (SUARABARU.ID)– Direktur Pesantren Tahfidz Alquran Masjid Agung Jawa Tengah-Baznas Jateng, Dr KH M Syaifudin MA mengatakan, sebanyak 31 santrinya mendapat pelatihan jurnalistik, sebagai bekal mereka agar mahir menulis berbasis fakta dan data yang akurat.
Pelatihan diselenggarakan selama tiga bulan, setiap Selasa, di Ruang Rapat MAJT. Sebagai pemateri, Wakil Ketua Bidang Organisasi PWI Jateng, H Isdiyanto Isman, yang juga menjabat sebagai Kepala Biro Harian Kedaulatan Rakyat Biro Semarang.
Dalam keterangannya, Dr Syaifudin menyebutkan, pelatihan jurnalistik ini merupakan yang keenam kalinya, dari 12 kali pertemuan yang dijadwalkan. Menurut dia, pelatihan dianggap penting, di tengah maraknya penyebaran konten bernarasi subjektif di media sosial.
BACA JUGA: 39 Sekolah di Kudus Raih Penghargaan Adiwiyata 2025
”Pelatihan jurnalistik ini diadakan, sebagai respons terhadap kondisi media sosial yang dipenuhi tulisan tanpa data. Tulisan di medsos cenderung memicu ujaran kebencian dan adu domba,” kata dia dalam keterangannya di Semarang, pada sejumlah awak media, Selasa (15/7/2025).
Sementara itu sebagai pemateri, Isdiyanto berharap, usai pelatihan semua santri dituntut mahir menulis artikel ataupun berita di media sosial ataupun media massa. Dan tulisan itu harus layak dibaca, dan bermanfaat untuk masyarakat.
”Banyak masyarakat yang menulis dan membagikan informasi di media sosial, tanpa teknik jurnalistik yang baik dan benar,” ungkapnya, saat memberikan materi pada peserta pelatihan.
BACA JUGA: 108 Sarjana Penggerak Pembangunan Batch 3 Asli Blora Siap Dukung Ketahanan Pangan dan Perbaikan Gizi
Disebutkan juga, kemampuan menulis jurnalistik yang baik, dimulai dari proses penggalian data dan informasi. Setelah data presisi, penulis atau wartawan menganalisis sebelum dituangkan ke dalam berita ataupun artikel.
Dalam pelatihan ini, santri juga dibekali pemahaman mulai dari teknik verifikasi di lapangan, wawancara, hingga menyusun informasi yang kredibel berbasis 5W+1H.
Dihubungi terpisah, Musyrif Pesantren, Gus Shulkhan Habib menyatakan, dengan pelatihan jurnalistik ini, santri dituntut aktif untuk mengikuti arus informasi yang pesat dengan cara menuangkan data presisi dan analisis dalam setiap tulisannya.
”Dalam pelatihan ini juga diajarkan berbagai teori dan teknik jurnslistik, di antaranya cara membuat berita yang benar. Santri kini tidak hanya dituntut berdakwah di panggung klasik, tapi harus merambah di media sosial,” pinta dia.
Riyan













