blank
Wakil Wali Kota Magelang dr Sri Harso membuka kegiatan kontak bisnis. (Bag Prokompim, Pemkot Magelang)

 

MAGELANG (SUARABARU.ID) – Pemkot Magelang menggelar forum kontak bisnis dengan enam calon mitra Koperasi Merah Putih (KMP) di Aula Borobudur Golf, Kota Magelang, Kamis (10/7). Kegiatan ini menjadi langkah awal dalam memperkuat jaringan usaha koperasi kelurahan, dan mendorong kolaborasi lintas sektor.

 

Kegiatan itu dihadiri Sekda Hamzah Kholifi, kepala OPD terkait, camat dan lurah serta pengurus Koperasi Merah Putih di Kota Magelang.

 

Forum tersebut mempertemukan koperasi dengan enam mitra usaha kredibel. Yaitu Perum Bulog, PT Pertamina Patra Niaga, PT Pupuk Indonesia, Bank Jateng, PT Jateng Agro Berdikari dan Bapenda Provinsi Jawa Tengah.

 

Wakil Wali Kota Magelang, dr. Sri Harso mengatakan, kegiatan ini merupakan strategi konkret untuk membuka akses pasar dan meningkatkan daya saing koperasi.

 

“Inilah bentuk sinergi konkret yang kita harapkan dalam membangun ekonomi kerakyatan. Koperasi tidak bisa dibiarkan berjalan sendiri, melainkan harus bersinergi dengan lembaga usaha, keuangan dan instansi pemerintah,” ujar Sri Harso.

 

Menurutnya, kolaborasi antarlembaga adalah kunci agar koperasi tidak hanya berkembang secara administratif, tetapi juga secara ekonomi dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

 

Di sisi lain, mantan Direktur RSU Tidar Magelang itu mengingatkan, agar koperasi bertindak hati-hati terutama koperasi yang menjalankan unit simpan pinjam.

 

“Jadi perlu hati-hati, karena biasanya anggota pinjam dengan mudah, tapi sulit saat waktunya mengembalikan atau mengangsur,” kata Sri Harso yang juga mantan Kepala Dinas Kesehatan Kota Magelang.

 

Kepala Dinas Perdagangan, Perindustrian, Koperasi dan Usaha Mikro (DPPKUM) Kota Magelang, Syaifullah, menjelaskan, Koperasi Merah Putih di Kota Magelang telah terbentuk dan berbadan hukum.

 

Ia menuturkan,  Kelurahan Koperasi Merah Putih merupakan bagian dari target nasional pembentukan 80.000 koperasi, yang akan dicanangkan Presiden RI di Kabupaten Klaten.

 

Meski demikian, Syaifullah mengakui masih ada sejumlah tantangan yang harus diselesaikan. Antara lain terkait permodalan, perizinan dan ketersediaan tempat usaha.

 

“Hanya dengan niat yang sungguh-sungguh dan kolaborasi antarentitas, koperasi kelurahan akan mampu tumbuh dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian lokal,” pungkasnya.

 

Kepala Balai Pelatihan Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah, Dwi Silo Raharja, menekankan pentingnya forum ini dalam memberikan pemahaman kepada koperasi, agar mampu menjalankan unit usaha sesuai dengan klasifikasi yang tertera dalam akta pendirian mereka.

 

“Tidak cukup hanya membentuk lembaga, koperasi juga harus mampu menjalankan usaha sesuai dengan Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI). Kontak bisnis ini penting untuk menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara koperasi kelurahan dan stakeholder,” ujarnya.

 

Dwi menambahkan, sesuai dengan ketentuan nasional, terdapat delapan jenis usaha yang dapat dikembangkan oleh Koperasi Merah Putih. Antara lain gerai sembako, klinik desa, apotek desa, unit simpan pinjam, kantor koperasi, cold storage, logistik dan usaha lain sesuai potensi masyarakat. (prokompimkotamgl)