blank
Ilustrasi. Reka: SB.ID

blank

TIDAK semua ilmu kebal memiliki karakter mau dan bisa diajak “bercanda.” Menurut pengamatan saya, sebagian dari ilmu kebal itu tampak “keajaiban”-nya ketika terdesak bahaya.  Ilmu kebal itu sulit dirumuskan seperti ilmu pasti. Ilmu kebal itu antara ada dan tiada.

Sekitar 15 tahun lalu, datang dua tamu (pembaca buku) dari Kalimantan. Keduanya mengaku kelahiran Demak dan Jepara. Mereka datang ke kediaman saya bukan untuk belajar ilmu kebal, melainkan silaturahmi dalam kapasitas sebagai pembaca buku. Kedua tamu itu mempunyai pengalaman unik berkaitan ilmu kebal.

Rikan -bukan nama sebenarnya- salah satu dari tamu  mengaku pernah berguru ilmu kebal disuatu daerah yang terkenal dengan ilmu kebalnya.  Karena melegendanya, jika ilmunya saya tulis, hampir dipastikan semua peyakin ilmu kebal itu mengenalnya. Pada saat berguru ilmu, langsung dicoba gurunya dengan dibabat senjata tajam.

Sedangkan temannya yang bernama Bambang, mengaku tidak pernah secara khusus belajar ilmu kebal, tetapi dia pernah silaturahmi ke kediaman kiai di Temanggung dan disaran mengamalkan Surat At-Taubah: 128 – 129. Dikalangan ahli hikmah, laqadjaa-akum itu memang favorit dan banyak diamalkan sebagai doa untuk kekuatan lahir batin.

Tetapi, tradisi yang berlaku di kalangan ilmu hikmah, amalan itu tidak disebut untuk  ilmu kebal atau untuk jenis kesaktian yang lain.  Pengalaman yang dialami Rikan dan Bambang itu menyiratkan betapa kehebatan ilmu itu tidak dapat dipastikan keaajaibannya. Intinya, keampuhan ilmu kebal itu tidak mampu mengalahkan ilmu selamat.

Terbukti, ilmu kebal yang dikuasai Rikan, setelah diisi gurunya diyakinkan dengan uji coba, namun tidak berfungsi disaat ada bahaya. Sebaliknya, amalan doa perlindungan atau wirid yang diamalkan secara rutin oleh Bambang itu justru bereaksi saat diperlukan. Ternyata, ilmu apapun tidak dapat dipastikan.

Semua terjadi atas kehendak Allah. Saat mereka berkunjung ke kediaman saya, dari bekas lukanya, tampak jelas luka yang dialami Rikan. Sabetan clurit tembus dari pipi kiri hingga pipi kanan, nadi tangan kanan putus dan beberapa luka pada dada dan bagian pinggangnya.

Sedangkan Bambang yang mengamalkan ilmu selamat, malah selamat karena dia tidak tersentuh senjata tajam walau yang mengeroyoknya tujuh orang. Kedua tamu itu memiliki pengalaman tragis antara hidup – mati. Ketika  menambang emas di Kalimantan, tiba-tiba dikepung delapan kawanan pemalak dan semuanya bersenjata tajam jenis clurit dan golok.

Merasa pernah belajar ilmu kebal, Rikan mencoba melawan. Hingga terjadi perkelahian di kedua belah pihak yang sama-sama bersenjata tajam. Awalnya Rikan mengambil inisiatif menyerang kepala perampok terlebih dulu. Namun beberapa kali sabetan cluritnya tidak membuat kepala perampok terluka. Ternyata, kepala rampoknya memiliki ilmu kebal juga.

Dalam kondisi gugup, Rikan membaca mantra ilmu kebalnya, dan itu menyebabkan ilmu kebal kepala rampok itu luntur. Bersamaan dengan itu Rikan pun terluka. Kedua orang berilmu kebal itu sama-sama kehilangan fungsi ilmu kebalnya. Dalam perkelahian itu, kepala perampok meninggal, sedangkan Rikan ke Rumah Sakit di Jawa Tengah, karena luka yang dialaminya serius.

Yang unik, saat perkelahian antara Rikan dengan kepala rampok. Bambang yang justru menjadi sasaran keroyokan kawanan perampok lainnya berjumlah tujuh orang dan semuanya bersenjata tajam. Anehnya, beberapa sabetan senjata tajam yang diarahkan ke tubuhnya seperti menerpa angin. Dia tidak merasakan satu pun senjata lawan dapat mengenai tubuhnya.

Bambang mengatakan, dua ayat terakhir surat At-Taubah itu secara rutin dibaca sebagai doa perlindungan tujuh kali ulangan pada pagi dan petang (usai salat subuh dan maghrib). Jika kemudian yang muncul itu “keajaiban” semacam ilmu lembu sekilan, dia tidak mengetahuinya karena Guru yang mengijazahkan ilmu itu hanya mengatakan, untuk keselamatan.

Guru Kebal Terluka

Masih terkait ilmu kebal, suatu saat guru ilmu kebal yang sudah mempunyai banyak murid di berbagai negara, oleh warga diminta mengamankan tetangga yang mengamuk dengan senjata tajam. Tetapi guru ilmu kebal itu terluka. Dalam upaya pengamanan itu, beberapa sabetan senjata tajam hanya mampu merobek baju guru.

Namun, ketika ayunan pisau itu mengenai bagian kepala, guru kebal itu terluka bahkan darahnya  mengucur dari bagian kepala. Selain peristiwa naas yang dialami guru yang akan meringkus orang depresi seperti cerita diatas, salah satu guru muda (masih tetangga saya) pernah mengalami luka saat uji coba di hadapan dua calon muridnya.

Untuk meyakinkan ilmu yang diajarkan itu dapat dibuat uji coba (tidak harus disaat  bahaya) dia mengambil golok panjang yang biasa digunakan untuk menguji kekebalan murid-muridnya. Dengan sekuat tenaga, bagian ujung golok panjang itu dihujamkan tiga kali pada lengannya.

Namun pada sabetan ketiga, tangannya luka dan berdarah. Selanjutnya dua orang yang akan berguru itu mengurungkan niatnya. Kisah lebih tragis pernah dialami guru ilmu kebal yang lain. Saat mengendarai kendaraan pribadi bersama murid-murid seniornya.

Dalam perjalanan mendatangi panggilan gemblengan massal di Cirebon, kendaraan yang ditumpangi ditabrak bus.

Guru dan sebagian murid ada yang masuk rumah sakit karena ada beberapa yang terluka, namun ada beberapa yang mulus, dalam arti tidak sakit dan atau terluka. Timbul pertanyaan, berarti ilmu metafisika tidak dapat dipastikan “keampuhan-nya! Begini, kegagalan dalam uji coba itu sangat mungkin terjadi. Saya dan beberapa teman juga pernah terluka. Dan biasanya, “kecelakaan” itu

dianggap hal yang biasa untuk lebih hati pada ujicoba pada berikutnya. Tamat

Masruri, penulis buku praktisi metafisika tinggal di Sirahan, Cluwak, Pati