blank
Bersih Desa di Dusun Jenar, Desa Praci, Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, menyertakan kirab budaya usungan gunungan hasil bumi dan ratusan encek kenduri.(Dok.Ist)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Masyarakat pedesaan di lintas selatan Pulau Jawa, terdiri atas Kabupaten Wonogiri (Jateng), Kabupaten Pacitan (Jatim) dan Gunungkidul Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), ramai-ramai pada menggelar tradisi Bersih Desa. Itu mereka lakukan sejak Bulan Besar 1958 atau Dzulhijjah 1446 H, dan akan berlanjut pada Bulan Sura 1959 atau Muharram 1447 H.

Camat Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Warsito SSos, MM, menyatakan, Bersih Desa yang digelar oleh masyarakat Dusun Jenar, Desa Praci, Kecamatan Pracimantoro, berlangsung meriah. Event wisata budaya ini, dimeriahkan kirab budaya, menyertakan prosesi kirab ratusan encek kenduri, usungan gunungan hasil bumi, kembul solah atau kiprah para warok Reog Ponorogo yang memainkan 25 unit dadak merak.

Juga menampilkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk, yang dimainkan oleh Ki Fajar Ariyanto, dalang dari Kabupaten Pacitan (Jatim). Bersih Desa di Dusun Jenar, Praci, dikemas sebagai tradisi Merti Bumi. Masyarakat beramai-ramai membuat sesaji kenduri yang diwadah dalam encek (terbuat dari gedebok pisang), untuk tempat menaruh nasi kenduri lengkap dengan beragam lauk pauknya.

Sebelum didoakan oleh Suranggama atau Modin sebagai pemandu juru doa, sesaji kenduri yang diwadah dalam encek, terlebih dahulu dikirab kelling dusun. Usai didoakan, nasi kenduri bersama lauk pauknya, itu dimakan bersama oleh seluruh warga sebagai bentuk pesta rakyat.

Bersih Desa, merupakan tradisi yang digelar setiap tahun sekali oleh masyarakat, yang penyelenggaraannya memilih Bulan Besar atau Bulan Sura. Anggota DPRD Kabupaten Wonogiri, Widiyatno SH, mengatakan, namanya populer sebagai Bersih Desa. ”Tapi itu digelar di masing-masing dusun. Sebab yang memiliki Pundhen atau Pedhayangan itu dusun, bukan desa,” jelas Widiyatno.

Widiyatno, legislator yang Mantan Kepala Desa (Kades) Eromoko, Kecamatan Eromoko, Kabupaten Wonogiri ini. menyatakan, pada umumnya Bersih Desa dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Tapi ada yang memeriahkannya dengan hiburan musik Campursari atau Dangdutan.

Wujud Syukur

Budayawan Jawa peraih Anugerah Bintang Budaya, Kanjeng Raden Arya (KRA) Drs Pranoto Adiningrat MM, menyatakan, Bersih Desa merupakan budaya Jawa yang turun temurun dari nenek moyang, menjadi wujud local wisdom atau kearifan lokal.

blank
Bersih Desa di Dusun Jenar, Pracimantoro, Wonogiri, dimeriahkan dengan 25 unit reog dadak merak dan puluhan penari Jathilan, yang ikut serta dalam prosesi kirab budaya bersama usungan gunungan dan barisan pembawa encek.(Dok.Ist)

Pranoto yang Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, mengatakan, tradisi Bersih Desa digelar sebagai manifestasi perwujudan rasa syukur telah diberikannya anugerah keselamatan dan kesejahteraan dari Tuhan. Masyarakat melalui ritual Bersih Desa, memohon agar anugerah itu senantiasa terus diberikan, sebagaimana diikrarkan dalam doa kenduri selamatan Bersih Desa.

Bagi kaum agraris, Bersih Desa menjadi bentuk penyampaian rasa syukur atas panen yang melimpah. Tradisi ini, juga disebut sebagai Memetri Desa. Yakni bentuk penghormatan kepada para leluhur cikal bakal (tokoh pendiri desa), yang disebut sebagai Dhanyang atau Pepundhen.

Dalam Buku Bauwarna Adat Tata Cara Jawa, Karangan Drs R Harmanto Bratasiswara (Yayasan Suryasumirat, Jakarta 2000), dituliskan bahwa Bersih Desa menjadi hajatan besar yang diselenggarakan masyarakat. Ada yang menyebutnya sebagai Sedekah Desa, karena dilaksanakan secara massal oleh semua warga.

Ada orang yang menyebut Bersih Desa sebagai momentum Rasulan. Karena selalu menyertakan kenduri selamatan rasulan yang menyajikan sega gurih lauk ingkung ayam. Disamping itu, juga disajikan sega ambengan, sega tumpeng dan jenang. Ada juga yang memeriahkannya dengan tayuban, janggrungan, klenengan, jathilan, reyogan dan lain-lain.(Bambang Pur)