WONOSOBO (SUARABARU.ID)-Ribuan supir truk dan mobil angkutan barang dari berbagai daerah, bergolak. Mereka melakukan aksi turun ke jalan, memblokade jalur lalu lintas dan menggelar demontrasi di titik-titik strategis.
Demo yang digelar tidak hanya dilakukan para sopir, tapi mereka juga menyertakan truk yang biasanya dikendarai untuk di parkir di tempat aksi. Sopir truk melakukan aksi mogok jalan. Aksi massa tersebut terjadi di berbagai daerah. Di Kudus, Salatiga, Karanganyar, Wonosobo dan Banyumas, para driver truk menggelar aksi protes dengan cara sendiri-sendiri.
Ada yang menggeruduk Kantor Dinas Perhubungan dan Satlantas Polres setempat. Ada yang memarkirkan truknya di terminal. Ada pulau yang memblokade jalan alternatif maupun pintu masuk jalan tol. Jalur lalu lintas pun sempat lumpuh dan pengguna jalan mengeluh.
Aksi itu punya satu tujuan, yakni menolak aturan zero Over Dimension Over Load (ODOL) yang akan diperlakukan pada raja jalanan itu. Regulasi zero ODOL dinilai merugikan para pengemudi truk dan angkutan barang lain.
Pasalnya, adanya aturan itu, para supir jadi korban pemerasan oleh para preman dan oknum aparat terkait di perjalanan. Selain itu, jika melanggar ODOL, para supir bisa terancam di penjara alias masuk bui.
Masuk Bui

Bagi para driver, masuk bui atau hotel prodeo, memang bukan merupakan sebuah “aib”. Sebab, mereka bukan pelaku kriminal atau koruptor. Tapi mereka adalah pejuang sesuap nasi bagi anak dan istri di rumah. Jika para supir tidak bekerja sehari saja, mereka khawatir asap dapur tidak akan mengepul. Lantaran mereka bukan profesi yang dibayar bulanan layaknya pegawai negeri atau karyawan tetap. Mereka adalah buruh lepas.
Para supir baru dapat ongkos ketika berangkat nyupir. Rata-rata mereka bukan pemilik truk tapi buruh yang dibayar bila ngode kerja. Otomatis jika tidak berangkat kerja maka tidak akan dapat uang sepersen pun.
Maka jika sampai “Bang Thoyib” kerja tidak pulang karena kena tilang akibat kecokok regulasi ODOL, ongkosnya adalah terancam masuk penjara. Sebuah situasi yang bertaruh “hidup- mati” bagi keluarganya.
Karena tulang punggung masuk penjara, maka fulus bagi keluarga bakal tiada. Apalagi rata-rata, aku mereka, sebagian istrinya tidak bekerja dan hanya jadi ibu rumah tangga di rumah. Praktis hidup anak-istri para supir, tergantung dari tangan suami yang memegang setir. Sekali saja setir tidak memutar bisa menjadi tanda perut keluarga dijamin akan getir.
Hukum Tumpul

Dalam aksi menolak regulasi ODOL, salah satu supir asal Wonosobo yang tidak mau disebut namanya, duduk terdiam dengan tatapan mata kosong di sebuah sudut di pinggir Gerbang Mandala Wisata Wonosobo, tempat para supir truk berkumpul untuk menggelar demontrasi.
Dia duduk ditemani segelas plastik berisi kopi yang sudah habis. Rokok yang ada di sesela jari pun tinggal putungnya tapi tetap sesekali dihisap. Kaos dan celana tampak lusuh, jadi tanda bahwa penghasilan sebagai pengemudi truk, hanya pas-pasan.
“Situasi ekonomi wong cilik sedang paceklik. Harga kebutuhan pokok melonjak naik. Buruh kena PHK dan merasa tercekik. Supir truk belum tentu setiap saat narik. Masa kalaupun supir bisa jalan masih ditarik,” keluh dia tampak panik.
Pria paruh baya itu pun, merasa heran di saat ekonomi rakyat kecil terjepit, para pejabat-pejabat asyik masyuk korupsi alias main duwit dan tetap bisa berkelit. Hanya sebagian kecil saja para koruptor yang tak teriris pisau hukum.
Hukum tajam ke bawah tapi tumpul ke atas, seolah telah menjadi tradisi dan rahasia umum di negeri ini. Aksi pungut liar terjadi di mana-mana, termasuk di alami kalangan supir truk di jalanan.
Padahal, kisah dia, yang namanya pejabat penghasilanya tentu sudah lebih dari cukup. Tanpa harus korupsi anak-istri di rumah tak bakal kelaparan. Tapi nafsu serakah seakan masih menghantuinya.
Banting Tulang

Sebaliknya, para supir truk yang meski selalu banting tulang dan memeras keringat di jalanan dengan hasil pas-pasan, masih saja jadi korban pungli dan pemalakan. Sudah penghasilan sedikit, masih diperas atas nama regulasi ODOL.
“Ini yang membuat hati saya terasa sakit, Mas. Sudah hasilnya pas-pasan masih jadi korban pemerasan. Mereka mau jadi orang jalanan karena hanya itulah yang bisa dilakukan. Sementara peluang kerja lain belum tentu ada kesempatan,” tuturnya.
Sebenarnya ia hanya ingin hidup normal-normal saja. Bisa nyupir ke mana saja tanpa dihantui rasa ketakutan. Mereka bisa pulang kerja dengan selamat dan membawa uang untuk anak istri sudah cukup.
Rasa lelah terasa terobati jika istri bisa tersenyum karena suami pulang sehat dan bisa menafkahi keluarga. Tidak ada keinginan lain kecuali itu. Betapa ketulusan tersebut tidak bisa diterima dan pengemudi harus menghadapi perlakuan yang semena-mena.
Tidakah hati nurani para penguasa, tersadar bahwa wong cilik yang bernama driver truk perlu dilindungi. Dijaga dari rasa khawatir dan was-was tidak saja dari keselamatan di jalan raya, tapi juga dari perilaku tidak terpuji dari oknum pungli.
Para supir hanya butuh keamanan dan keselamatan di jalanan. Berangkat sehat pulang selamat. Pergi berniat cari nafkah pulang dapat uang berkah. Jika pulang tak bawa nafkah, itu menjadi petaka yang membuat orang rumah jadi susah.
Hidup dan Mati
Susilo, supir truk yang lain, mengaku tak kalah ngeri. Jika mau berangkat berjuang ke medan perang, menyusuri jalanan untuk mengantar barang, pamit sama anak dan istri seakan antara hidup dan mati.
“Bagi seorang pengemudi bila pamit ke luar rumah untuk bekerja, pesan pada anak-istri hanya bertaruh nyawa. Karena resiko di jalan hanya ada dua, antara selamat atau sekarat. Siapa yang akan tahu jika berangkat sehat pulang sudah jadi mayat,” khawatirnya.
Istri dan anak di rumah pun, kisah dia, hanya akan menunggu kabar, apakah suaminya atau bapaknya pulang selamat atau tamat. Tidak semua istri dan anak akan siap dengan situasi itu. Hanya anak dan istri bermental baja yang siap menghadapi situasi seperti itu.
“Doa dan harapanlah yang jadi penguat hati para pengemudi agar masih tetap panjang umur dan berpijak di bumi ini. Jika seorang supir keluar rumah untuk bekerja ikhlaskanlah untuk tidak kembali,” renung dia.
Jika pulang masih ber panjang nyawa, harapan lain istri dan anak pun, tak lain hanya sesuap nasi. Sebab, hasil dari peluh dan keringat di sepanjang jalan, sekadar untuk memperpanjang umur orang-orang yang ada di rumah karena masih bisa makan dari hasil keringat suami berupa uang.
Bilang sampai suami sebagai pengemudi, pulang tidak membawa hasil gegara habis untuk setor “penjaga jalan”, akan menjadi sebuah petaka besar. Nafkah yang diharap bisa digondol pulang raib karena disetor atas nama ODOL, membuat pikiran kosong.
Dikaji Ulang
Maka sebelum semua itu terjadi, pihak terkait harus berfikir ulang, bahwa regulasi ODOL, bisa membuat pekerja transportasi muatan barang kian merana. Situasi ekonomi sedang tidak baik-baik saja masih diterjang dengan kebijakan yang tidak bijaksana.
“Saya betul meminta pihak terkait membatalkan regulasi ODOL. Karena untuk apa kebijakan ditelurkan jika itu tidak membawa manfaat yang baik bagi para pengemudi. Ekonomi sedang susah jangan buat kami lebih susah lagi,” tegasnya.
Jika hal ini tidak bisa teratasi, dia khawatir, membuat situasi semakin susah. Supir tidak bekerja, truk tidak jalan dan usaha logistik akan mandeg. Jika kondisi tersebut tetap di pelihara lagi-lagi rakyat kecil yang kena getahnya.
Biarlah semua kembali pada asalnya. Polisi mengatur keamanan berlalulintas. Perhubungan mendesain skema alur jalan raya. Usaha pengusaha tetap jalan. Para supir juga bisa bekerja dengan aman dan nyaman.
Keselamatan perjalanan, kerusakan jalan terpelihara dan lingkungan tetap nyaman bisa diciptakan bersama tanpa ada salah satu pihak yang merasa dirugikan. Hidup ini bisa dinikmati bersama untuk semua.
Tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada semua yang sempurna. Marilah saling mengisi dan berbagai demi untuk kebahagiaan dan kesejahteraan bersama. Hidup ini bisa dijalani dengan mudah jika semua memberi kemudahan bagi orang lain.
Muharno Zarka













