blank
Menko Pemberdayaan Masyarakat memberikan keterangan pers di Ponpes Tegalrejo, hari ini (Senin 23 Juni 25). Foto: eko

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) –  Menko Pemberdayaan Masyarakat, KH Muhaimin Iskandar, mengatakan bahwa tidak kurang dari 3,170 juta jiwa miskin ektrem masih jadi tanggungjawab Pemerintah. Tidak kurang dari 24 juta warga miskin relatif yang rentan, dan 60 juta warga yang rentan menuju miskin yang harus dipikirkan secara bersama-sama.

Dia mengatakan hal itu dalam acara Forum Silaturahim Kiai & Alim Ulama Nusantara di Pondok Pesantren (Ponpes) API ASRI Tegalrejo, Kabupaten Magelang, hari ini, Senin (24 Juni 2025). Acara tersebut bertema: Pesantren sebagai Simpul Pengentasan Kemiskinan, Pemberdayaan dan Kemandirian Masyarakat.

“Tentu perlu dipikirkan agar rakyat dan bangsa kita benar-benar segera bebas dari kekurangan dan kemiskinan itu. Apalagi di tengah persaingan global yang tidak mudah,” tuturnya.

Selebihnya diingatkan, saat ini terjadi kompetisi yang begitu keras. Bukan saja perang dagang yang berujung pada perang ekonomi dan perang fisik yang sesungguhnya.

“Hari ini kita sedang menghadapi masa yang sangat sulit. Tinggal menunggu waktu, apa yang bakal terjadi terhadap ekonomi global. Akibat perang antara Iran yang menghadapi negara-negara besar yang begitu kuat,” katanya.

Negara-negara yang belum maju, termasuk Indonesia, tentu harus terus berbenah dan mengejar ketertinggalan. Iran saja yang termasuk negara Muslim maju dan kuat di antara lainnya, cukup memprihatinkan. Dia khawatir bakal terjadi seperti di Baghdad, Irak.

Ketergantungan kita kepada negara lain, lanjutnya, cukup besar. Seperti kepada Amerika, Cina, dan lainnya. “Kita memiliki ketergantungan sekitar 40 persen produksi barang kita diekspor ke Cina,” tuturnya.

Kebutuhan dalam negeri kita juga harus terus mengimpor dan sangat bergantung. Baik energi, minyak, maupun lainnya.
“Ketidakberdayaan kita berujung pada kemiskinan yang turun temurun,” katanya.

Terima Kasih

Pimpinan Ponpes API, KH M Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), berterima kasih atas kehadiran beberapa pihak dalam acara tersebut. Untuk bersama-sama menggali dan mengasah potensi pesantren. Terutama dalam bidang pemberdayaan perekonomian keumatan, percepatan pengentasan kemiskinan.

“Ponpes ibarat mutiara. Tinggal siapa yang akan mengasahnya. Agar lebih berkilau dan menyala. Hari ini mungkin masih redup. Karena belum diasah,” katanya.

Terkait hal itu, kata dia, Menko Pemberdayaan Masyarakat berupaya menyinergikan potensi kekuatan pesantren dengan berbagai pihak. Yakni dengan pemerintahan, Baznas, pengusaha, untuk bersinergi melakukan percepatan pengentasan kemiskinan masyarakat. Terkait hal itu dia berterima kasih kepada pihak terkait.

Disebutkan, acara hari ini mengundang pesantren di Jateng. Dengan maksud, posisi ponpes akan lebih disinergikan. Karena seperti di Ponpes Tegalrejo dengan sekitar 15 ribu santri bisa menggerakkan perekonomian masyarakat. Banyak santri dari kalangan tidak mampu diberdayakan. Itu potensi yang dimiliki dan itu akan dirajut.

Disebutkan pula, hari ini dilakukan peletakan batu pertama pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) program seribu pesantren. Menurut dia, untuk Jateng menargetkan 300-500 pesantren. Bulan ini lima pesantren, bulan Agustus 100 pesantren, sampai akhir tahun 300 pesantren di Jateng.
“Itu kontribusi pesantren untuk ikut menyukseskan program Presiden Prabowo Subiyanto berupa makan bergizi gratis,” tandasnya.

Disebutkan, setiap dapur bisa mengampu 3.000 santri. Adapun yang memasak, sebagian dari pesantren, dan masyarakat sekitar.

Lima Juta

Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, ketika ditemui di sela acara tersebut mengatakan, santri di negeri ini ada sekitar lima juta orang. Yang tersebar di 30 ribu pesantren.

Tidak semua pesantren akan memiliki SPPG. Karena sangat tergantung jumlah santri di tiap pesantren. Karena ada pesantren dengan 15 ribu santri, tapi banyak juga pesantren dengan 100 santri. Berdasarkan perhitungan dia akan ada 1.500 SPPG.

Dalam acara itu juga dihadiri Kepala Badan Amal Zakat Nasional, Noor Achmad. Dia sempat memberikan bantuan bagi dua buah pesantren.

Eko Priyono