blank
Kegiatan Shalat Idul Adha 1446 Hijriah, di Masjid Darussalam, Perumahan Plamongan Indah, Pedurungan, Semarang, Jumat (6/6/2025). Foto: nuridin

Oleh: Nuridin & Ira Alia Maerani

AGAMA Islam mengenal dua hari raya yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Hari Raya Idul Fitri dirayakan pada tanggal 1 Syawal tahun Hijriah, sedangkan Hari Raya Idul Adha dirayakan pada tanggal 10 Dzulhijjah tahun Hijriah.

Dua hari raya itu memiliki makna yang sama-sama penting, bagi umat Islam. Jika Hari Raya Idul Fitri merupakan hari raya yang ditandai terlebih dahulu dengan puasa di bulan Ramadan selama satu bulan, maka Hari Raya Idul Adha ditandai dengan dilaksanakannya ibadah haji, yakni ibadah yang merupakan rukun Islam kelima. Satu hari sebelum Hari Raya Idul Adha bagi jamaah haji melaksanakan wukuf di Arafah. Wukuf adalah puncak dari ibadah haji, yang dilakukan bagi seluruh jamaah umat Islam dari seluruh penjuru dunia, pada 9 Dzulhijjah.

Hari Raya Idul Adha juga ditandai dengan ibadah kurban, yakni ibadah penyembelihan hewan kurban seperti sapi, kambing, kerbau atau unta, yang dagingnya dibagikan kepada fakir miskin.  Oleh karena itu, ibadah kurban ini berkelindan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Konsep berbagi, berempati, tolong menolong, peduli, rela berkorban adalah konsep universal yang selaras, terjalin erat dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Ibadah kurban ini merupakan ibadah yang mula pertama disyariatkan kepada Nabi Ibrahim Alaihissalam, yang pada saat itu Nabiyullah Ibrahim bermimpi untuk menyembelih anaknya. Namun Allah SWT menggantinya dengan domba, sehingga anaknya, Nabiyullah Ismail, tidak jadi disembelih. Sebagai penggantinya adalah domba, untuk dikurbankan sebagai bentuk ibadah ketaatan pada perintah Allah.

Seluruh ulama sepakat, bahwa kurban merupakan syariat (tuntutan agama) yang hukumnya adalah sunnah muakkad, atau sunnah yang dikuatkan. Nabi Muhammad SAW tidak pernah meninggalkan ibadah kurban sejak disyariatkannya sampai beliau wafat.

Lalu apa saja keutamaan berkurban itu? Sebagaimana dikutip melalui https://kabtulungagung.baznas.go.id/news-show/keutamaanqurban/6830, dijelaskan tentang keutamaan kurban yakni:
Pertama, amalan yang paling dicintai Allah SWT di Hari Raya Idul Adha. Banyak hadis yang menjelaskan bahwa, menyembelih kurban merupakan amalan yang paling dicintai Allah pada hari Nahr (Idul Adha), seperti yang ditegaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari nahr (Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah, melebihi mengalirkan darah hewan kurban. Sesungguhnya ia datang pada hari kiamat dengan tanduk, kulit dan bulu-bulunya. Sesungguhnya darah itu telah sampai kepada Allah SWT, sebelum darah itu tumpah ke tanah, maka hendaknya kalian senang karenanya‘. (HR At-Tirmidzi).

* * * * *

Kedua, media untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Barang siapa berkurban karena takwa kepada Allah, maka Allah akan menerima kurban itu menjadi amalan baik di sisi-Nya. ‘Sesungguhnya Allah hanya menerima (kurban) dari orang-orang yang bertaqwa‘. (QS Al-Maidah: 27)

Ketiga, media untuk meraih ketaqwaan. Apa yang ingin kita raih dalam ibadah kurban ini, bukanlah persembahan daging dan darahnya, melainkan untuk mendapatkan ketakwaan. ‘Daging-daging unta dan darahnya itu, sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya‘. (QS Al-Hajj: 37)

Keempat, media untuk menambah amal kebaikan. Salah satu keutamaan berkurban yang lain yaitu, dapat menambah amal kebaikan untuk bekal kehidupan di akhirat. Dalam keutamaannya, Allah akan memberikan pahala yang berlipat-lipat bagi setiap umat Muslim yang menggunakan sebagian hartanya untuk berkurban.

Dari Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah SAW, apakah kurban itu?‘, Rasulullah menjawab, ‘Kurban adalah sunnahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim‘. Mereka menjawab, ‘Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu?‘. Rasulullah menjawab, ‘Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan‘. Mereka menjawab, ‘Kalau bulu-bulunya?‘. Rasulullah menjawab, ‘Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan‘. (HR Ahmad dan ibn Majah).

Kelima, hewan kurban sebagai saksi di Hari Kiamat. Rasulullah telah bersabda dalam sambungan hadis yang diriwayatkan Aisyah, ‘Sesungguhnya hewan kurban itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat di sisi Allah, sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya‘. (HR Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Hakim). Menurut Tirmidzi, hadis tersebut hasan, sedangkan Hakim berpendapat bahwa isnadnya shahih. Sebagian ulama mengatakan isnadnya lemah. Namun karena hadis itu mengandung ajaran tentang keutamaan kurban, hadis itu tidak tercela.

Keenam, dimensi sosial dan kemanusiaan. Ibadah kurban tidak hanya bermanfaat untuk orang yang berkurban (Mudhohi), tapi secara tidak langsung juga bisa membantu fakir miskin dari kelaparan. Islam telah mengatur bagaimana menyeimbangkan perekonomian dan aspek kemanusiaan sosial, salah satunya dengan berkurban. Daging yang dibagikan dapat menghubungkan rasa kasih sayang dan kepedulian antara fakir miskin dengan mudhohi. Dengan berkurban, juga kita dapat merasakan kenikmatan rezeki dan berkah yang senantiasa diberikan Allah.

* * * * *

Sedemikian rupa keutamaan berkurban bagi umat Islam, maka efek sosial yang bisa dirasakan adalah masyarakat dhuafa bisa ikut merasakan kebahagiaan dengan menikmati daging kurban. Suasana ini tentu menjadi suasana yang sangat membahagiakan, karena Idul Kurban juga menjadi momentum untuk berbagi dengan sesama.

Pada konteks ini, maka peran masjid benar-benar sangat urgen dalam melayani umat. Masjid menjadi garda terdepan, dalam memasilitasi layanan kesejahteraan umat yang memberikan dampak positif terhadap hubungan sosial yang harmonis.

Satu di antara masjid yang berkhidmat melayani umat adalah, Masjid Darussalam di Perumahan Plamongan Indah, Pedurungan, Kota Semarang. Masjid Darussalam setiap tahun menyelenggarakan peringatan Idul Kurban, dengan memasilitasi masyarakat untuk berkurban yang dikelola secara terampil oleh panitia.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, maka pada tahun 1446 Hijriyah ini, Masjid Darussalam mengarahkan Hari Raya Idul Kurban melalui serangkaian kegiatan, yakni Shalat Idul Adha, dilanjutkan dengan penyembelihan hewan kurban, sekaligus menyalurkan kepada yang berhak menerimanya.

Tercatat pada tahun ini ada tujuh ekor sapi dan 44 ekor kambing, yang siap disembelih sebagai ibadah kurban dari para mudhohi (pekurban). Jumlah itu relatif konsisten dengan tahun-tahun sebelumnya. Penyembelihan hewan kurban dan penyalurannya dilakukan secara serentak pada hari Sabtu 11 Dzulhijjah 1446 Hijriyah, bertepatan dengan 7 Juni 2025.

Masjid Darussalam Plamongan Indah akan terus berikhtiar berkhidmat melayani umat, melalui serangkaian kegiatan yang dapat mempererat silaturahim dan ukhuwah Islamiyah, serta melayani umat dari aspek sosial maupun keagamaan.

Dr H Nuridin SAg MPd (Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Unissula) & Dr Hj Ira Alia Maerani SH MH (Dosen Fakultas Hukum Unissula) —