blank
Ilustrasi anak-anak bermain air di sungai. Foto: pixabay/sasint

Oleh: Suranto Tjiptowibisono

blankBULAN Juni menjadi bulan yang sangat istimewa bagi masyarakat dunia, tidak terkecuali bangsa Indonesia. Bulan yang diperingati sebagai Hari Lingkungan Hidup, yang mengingatkan kita, bahwa planet bumi yang kita tempati saat ini sebenarnya bukan milik kita. Akan tetapi milik anak cucu kita yang harus kita jaga, rawat dan lestarikan, agar pemilik sejatinya tidak kecewa di masa-masa yang akan datang.

Apabila kita berkaca pada kepentingan alam di masa silam, banyak kualitas lingkungan hidup yang telah berubah demikian dahsyatnya. Sungai-sungai di masa silam banyak yang mengalirkan air yang bening, bahkan dasar sungai kadang-kadang dapat teramati biota penghuninya. Demikian juga danau atau empang ataupun kolam-kolam alami, masih dapat kita amati dengan kualitas air yang jernih, tidak berbau dan tidak berasa.

Di beberapa daerah di Indonesia, masyarakatnya dapat menikmati indahnya air terjun, umbul bahkan dapat dinikmati dengan mandi di dalamnya beramai-ramai, dengan teman-teman dan keluarga. Bahkan bagi penulis, minum air sawah atau parit yang nampak bening dengan memanfaatkan potongan jerami padi pada saat masih duduk di bangku sekolah dasar, adalah kenangan yang sangat berharga.

Karena di zaman sekarang, tidak satupun mahasiswa yang penulis tanya, berani minum air parit atau sawah. Hal itu disebabkan, kualitas air yang mereka percayai telah tercemari oleh polutan dari pestisida, herbisida atau pupuk sintesis yang “over-dosis”, dalam aplikasinya di dunia pertanian.

Kita menghargai sikap dan respek mereka, dalam merespon kondisi lingkungan yang sekarang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Dan benar adanya, kalau di zaman sekarang tidak mungkin berani minum air langsung dari parit atau bahkan sumber air umbul sekalipun, karena ditengarai banyaknya aktivitas pertanian, industri bahkan rumah tangga yang demikian luar biasa, dalam memanfaatkan produk-produk pembasmi serangga atau hama.

Bahkan, penyubur tanaman atau deterjen pembersih pakaian atau perkakas rumah tangga, yang secara masif diproduksi oleh pabrik-pabrik raksasa dunia atau milik bangsa Indonesia. Dan sebagai dampaknya, hampir semua lingkungan perairan kita telah tercemari oleh produk tersebut.

* * * * *

Konsekuensinya adalah, banyak kualitas perairan di beberapa kota sangat tidak layak untuk dijadikan bahan baku air minum, atau untuk irigasi pertanian pun tidak direkomendasi. Dan tidak jarang kita dapat melihat, banyaknya ikan pada suatu perairan tertentu tiba-tiba mati mendadak, dan menjadi pemandangan yang sangat menyedihkan. Karena sebenarnya betapa sayangnya, sumber makanan kaya protein hewani itu, terbuang percuma. Demikian juga bahaya yang ditimbulkan, tatkala ada sekelompok kecil yang tega mengonsumsinya.

Gambaran ini marak terjadi di beberapa daerah, terutama dimana pertumbuhan industri tekstil dan sejenisnya begitu cepat, namun kontrol atas pengelolaan lingkungan seperti perlunya IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah), tidak dibangun dan ditegakkan pemberlakuannya.

Bahkan di kota-kota tertentu di Tanah Air, terjadi pemandangan yang sangat kontradiktif. Air parit yang cukup besar yang melintas tepat di depan kantor Badan Pengendalian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup di suatu kota atau kabupaten, airnya berwarna coklat atau gelap.

Tentunya hal tersebut menjadi cermin atau gambaran, betapa lemahnya penegakan aturan dan etika lingkungan di tempat itu. Nampaknya ini akan menjadi fenomena yang akan terjadi di banyak tempat, dan akan terulang terus-menerus apabila penegakan prinsip-prinsip pengelolaan air permukaan tidak ditegakkan. Salah satu cermin kualitas lingkungan hidup suatu bangsa, dapat dilihat dan amati dari bagaimana kualitas airnya.

Kita dapat menyaksikan bagaimana bangsa-bangsa yang telah maju pembangunannya, memperhatikan fasilitas publik terhadap air yang disediakan oleh pemerintahnya. Kita dapat bandingkan tetangga kita Singapura, yang sama-sama anggota ASEAN. Masyarakatnya dapat mengakses fasilitas yang disediakan pemerintahnya, akan kualitas air yang diberikan. Dan dipastikan, bahwa air yang tersambung di saluran air dapat dikonsumsi atau diminum tanpa harus dimasak.

Ini membuktikan, bahwa tanggung jawab pemerintah, dengan jaminan bahwa air yang dibagikan ke masyarakat, bebas dari cemaran bakteri berbahaya bagi tubuh. Demikian juga dengan kualitasnya atau dan sifat air lainnya, seperti tidak boleh ada bau dan tidak berasa. Dan salah satu ciri yang dapat dipelajari atau diamati, bahwa air yang siap minum publik umum salah satunya, adalah arah kran air keluar atau memancar mengarah ke atas.

* * * * *

Jadi konsumen dipastikan tinggal pencet, dan air yang keluar dapat diminum atau masuk ke mulut kita itu adalah air yang dijamin sehat dan aman. Bahkan fasilitas-fasilitas itu juga dapat kita jumpai di terminal dan bandara, dimana semua penumpang yang singgah di Singapura, dapat dengan bebas menikmati fasilitas publik itu, walaupun bukan warga negaranya.

Gambaran tentang kebutuhan dasar bagi manusia untuk hidup yaitu air, juga dapat dinikmati dengan gratis di negara tetangga kita juga, walaupun bukan bagian dari anggota ASEAN, yaitu Australia.

Sebuah negara yang menempati satu benua, dengan penduduk hanya kurang lebih 25 juta orang ini, menerapkan standar kualitas hidup yang cukup bagus. Terutama yang berhubungan dengan kualitas air.

Hal ini dapat dilihat pada orang yang bertugas dan bertanggung jawab atas perusahaan air negara di setiap negara bagian, harus bergelar Doktor mikrobiologi atau sejenis. Ini berarti, bahwa negara sangat peduli bagaimana kebutuhan dasar yang berupa air ini, harus mengalir ke seluruh rumah tangga rakyatnya, dengan kualitas yang sangat baik.

Setiap tetes air yang keluar dari kran perusahaan PDAM negara bagian itu, dijamin langsung bisa diminum. Bahkan pada negara bagian tertentu, masyarakatnya ada yang digratiskan dari kewajiban membayar tiap bulannya. Dan yang luar biasa adalah, warga asing pun termasuk menikmati fasilitas gratis ini, dan dari kewajiban membayar retribusi air tiap bulannya.

Hal tersebut terjadi, tatkala penulis menikmati studi di Negara Bagian Tasmania, yang beribukota di Hobart, pada tahun 1988 sampai 1991. Bukan hanya masalah harga air yang sangat murah, sehat dan pelayanan yang prima yang tersalurkan ke setiap rumah tangga warganya, tetapi juga fasilitas-fasilitas umum juga telah terkoneksi dengan jaringan air bersih dan sehat ini.

* * * * *

Jadi semua masyarakat yang menikmati tempat umum, seperti taman-taman kota pun, tak luput dari fasilitas air ini. Di samping itu, pemerintah setempat juga telah mengaliri energi berupa aliran elpiji, yang dapat digunakan secara gratis, dan dapat digunakan untuk BBQ dengan memanggang atau memanaskan makanan yang dibawa, dan akan dikonsumsi bersama-sama.

Hal ini memberi inspirasi kepada kita, bagaimana kebutuhan dasar manusia tentang air ini harus dipenuhi dengan kualitas prima. Dan nampaknya kita boleh bermimpi tentang hal itu, kapan kira-kira akan terjadi di negara kita yang berdasarkan Pancasila ini.

Kita berharap, para pemimpin kita yang mempunyai kuasa, dapat menjadikan fenomena yang terjadi di dua negara tetangga tersebut, untuk dapat berbuat lebih nyata dalam mensejahterakan warga yang dipimpinnya. Walaupun kita akui, dua contoh negara tetangga tersebut, jumlah total warganegaranya tidak sebesar Indonesia.

Dan tentunya hal itu yang mungkin akan menjadi alasan, bahwa mengurus negara sebesar Indonesia tidaklah mudah, jika dibandingkan dengan Singapura yang hanya 5-6 juta penduduknya. Demikian juga dengan negara Australia, dengan penduduk yang hanya sekitar 25 juta jiwa.

Padahal salah satu indikator keberhasilan kemajuan suatu negara dalam masyarakat global adalah, kualitas lingkungan hidupnya. Semakin maju suatu negara, maka semakin bagus kualitas lingkungannya. Dan salah satu kualitas lingkungan tersebut adalah, kualitas air permukaannya.

Secara umum, kebutuhan air yang berkualitas telah banyak dikaji secara ilmiah. Bahkan sekitar 4 (empat dekade) yang silam, ketika penulis belajar di salah satu perguruan tinggi terbaik di Jawa Barat (Bandung), kebutuhan akan air telah diperkirakan akan menjadi berlipat ganda, seiring dengan pembangunan suatu negara. Pada saat sekarang, kita dapat menyaksikan betapa penting dan mahalnya harga suatu kualitas air di masyarakat modern.

* * * * *

Ini menjadi tantangan yang harus disikapi secara bijaksana, karena air termasuk sebuah pokok yang akan selalu melengkapi dan dicari. Karena air tidak hanya untuk dikonsumsi, tetapi juga dicari dalam setiap praktik kehidupan di muka bumi. Baik di dunia farmasi, makanan dan bangunan maupun mikrobiologi, selalu membutuhkan “komplemen” yang berupa air, baik fisiknya yang berupa cair, gas ataupun dalam keadaan beku.

Secara kasat mata, air yang nampak bening, bersih dan dingin, sejatinya mudah dijumpai di pegunungan, seperti di perairan Tawangmangu. Kualitas air ini, tentunya bagi orang awam, sangat baik untuk air minum. Namun betapa mengejutkan, ternyata di balik kondisi air yang jernih, dingin dan bening tersebut, ternyata di air itu tidak terkandung unsur penting yang sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia, yaitu yodium.

Padahal, yodium ini sangat menentukan kecerdasan anak-anak pada masa pertumbuhan. Dan hal ini telah ditemukan oleh mahasiswa S3 yang meneliti tentang kualitas air Grojogan Sewu, yang ternyata tidak mengandung yodium.

Dengan rekayasa dan penambahan dosis yodium tertentu pada air minum yang semula tidak mengandung yodium, maka ditemukan formula yang sangat berguna dalam peningkatan kecerdasan anak-anak tangkat SD, di sekitar daerah pengambilan sampel air.

Namun yang menarik untuk dicermati adalah, bahwa penambahan yodium pada anak-anak SD tersebut, akan mencapai puncaknya pada dosis tertentu. Dan setelah itu, penambahan seberapa pun banyaknya yodium yang ditambahkan pada air minumnya, tidak akan menambahkan kecerdasan individu peserta didik yang dijadikan sampel penelitian tersebut. Jadi pentingnya yodium di dalam air minum manusia, berpengaruh terhadap kecerdasan anak pada masa pertumbuhannya.

Penambahan totalitas jumlah yodium pada air minum anak setelah mencapai batas tertinggi, tidak dapat mencapai kenaikan lagi, walaupun ditambahkan dosisnya lebih tinggi. Ini memberikan penjelasan dan pengertian kepada kita, betapa pentingnya air dalam kehidupan sehari-hari, seperti untuk minum, mandi dan rekreasi. Air juga sangat menentukan dalam masa pertumbuhan anak, khususunya kecerdasan yang dimiliki.

Selamat Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, semoga air yang mengalir di muka bumi tidak akan pernah berhenti untuk dapat dikonsumsi oleh setiap insani, seperti matahari yang tidak pernah bosan menyinari bumi. Amin!

Suranto Tjiptowibisono; Ketua Dewan Profesor UNS