blank
Septiana Wibowo penulis buku Bukan Kartini bersama Ibu Dandim Eniek Yuniarti, M. Pd dan Ibu Wakil Bupati Jepara Inez Ibnu Hajar. Foto: Hadepe

JEPARA (SUARABARU.ID) — Malam itu lantunan musik tradisional Jawa mengiringi gerak-gerik rancak para penari Mutia Vie, saat mereka melangkahkan kaki ke tengah panggung. Pertunjukan tari bertajuk “Dewi Tri Sekti” ini menjadi persembahan tunggal Mutia Vie pada   Malam Penganugerahan Kartini Awards di Pendopo Kabupaten Jepara yang digelar Rabu (28/5-2025) malam.

Koreografi disusun dengan cermat dan rapi oleh Mutia Vie sendiri, ditarikan oleh Bila, Naurel dan Ulfa tampak menghipnotis penonton. Pencahayaan yang meriah turut mengarahkan fokus penonton pada setiap detail gerak dan ekspresi.

“Berkesempatan tampil di Kartini Awards adalah kesempatan yang sangat baik dalam mengenalkan seni tari kepada khalayak umum, karena menari tidak hanya sekedar gerakan tubuh. Ada makna, ada ketulusan dan ada pesan,” ujar Joharta selaku perwakilan sanggar Mutia Vie.

blank
Bila, Naurel dan Ulfa tampak menghipnotis penonton dalam tari Dewi Tri Sekti yang dibawakan pada malam Penganugerahan Kartini Awards di Pendopo Kabupaten Jepara yang digelar Rabu (28/5-2025) malam. Foto: Septiana

Dia juga memaparkan bahwa inisiatif memberikan cinderamata buku secara simbolis kepada tokoh perempuan Jepara yang hadir adalah representasi bahwa dalam menari selalu ada pesan dan kesan yang bisa tersampaikan sebagai perempuan modern yang berkarya dan pintar.

Ketiga penari masing-masing membawa sebuah buku bersampul sebuah lukisan seorang perempuan berjudul “Bukan Kartini” karya Septiana Wibowo, penulis Jepara. Mereka secara simbolis memberikan bukunya kepada tokoh perempuan yang hadir yaitu Ibu Dandim Eniek Yuniarti, M. Pd dan Ibu Wakil Bupati Jepara Inez Hajar.

Terkait judul, Septiana menjelaskan bahwa pilihan kata Bukan Kartini bukan dimaksudkan sebagai penolakan terhadap sosok R.A. Kartini, melainkan sebagai representasi pemikiran perempuan masa kini yang lahir dalam kondisi social, budaya  dan teknologi yang berbeda. “Saya menulis tentang perempuan ideal menurut saya, perempuan yang bijak menyikapi teknologi, pendidikan, dan hubungan sosial,” ungkapnya.

Acara dilanjutkan dengan penganugrahan kepada 10 Perempuan Inspiratif Jepara. dalam sambutannya Wienarto selaku Ketua Yayasan Kartini Award Indonesia menyampaikan, acara ini di gelar sebagai sumbangsih bagi pengembangan perempuan berdedikasi dan berkarakter di Jepara.

Dalam prosesnya, Penganugerahan ini dikurasi oleh 3 kurator yaitu Eniek Yuniarti M.Pd, Drs Hadi Priyanto MM, Prof Dr Alamsyah dengan Kategori perempuan teladan dan berprestasi di bidang : Kesehatan—Sukaenah. Pendidikan—Heni Ambarwati, S.Pd. Sosial Budaya—Sudarwati, SKM., M.Kes. Politik—Nining Fitriani, M.Pd, M.Kom. Disabilitas Tangguh—Wahyu Cahyanti Oktavia. Peduli Lingkungan—Al Alamin. Pengusaha Peduli UMKM—Hj. Dewi Irawati, M.Pd. Relawan Kemanusiaan—Yuli Kusrini. Kepala Keluarga Tangguh—Komariatun. Pelestari Ukir—Rumini.

Septiana Wibowo