blank
Napak tilas peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonogiri Ke-284, dikemas sebagai kegiatan olahraga yang bercitarasa budaya. Peserta wajib mengenakan busana tradisional.(Dok.Prokopim Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Jarang ditemukan event olahraga (sport) yang dikemas dalam cita rasa budaya layaknya karnaval. Barangkali, itu hanya ditemukan di lomba gerak jalan napak tilas memperingati Hari Jadi Ke-284 Kabupaten Wonogiri. Yang mewajibkan pesertanya berbusana tradisional.

Untuk memenuhi syarat wajib mengenakan busana tradisional, menginspirasi peserta mengenakan aneka ragam pakaian yang bernuansa budaya. Ada yang mengenakan busana Rewanda Seta (kera putih), tampil seperti Panakawan (Semar, Gareng, Peteruk dan Bagong), berbusana Warok Reog, berpenampilan tokoh wayang wong (wayang orang). Ada yang berpenampilan bagai petani memakai caping bercelana komprang warna hitam.

Juga ada yang tampil layaknya Abdi Dalem Keraton Kasunanan Surakarta, yakni mengenakan pakaian beskap, blangkon dan berjarik. Sebagian lainnya, mengenakan busana beskap lurik sebagaimana lazimnya pakaian dinas harian para Abdi Dalem di Keraton Kasultanan Yogyakarta.

Sebagian peserta mengenakan seragam hulu balang prajurit keraton membawa senjata tombak. Ada yang berpenampilan tentara Kompeni Belanda. Mewakili budayawan, ada peserta yang mebawa serta aksesoris Gunungan (Kayon) wayang kulit.

Regu Smegi dari SMK Negeri 1 Wonogiri, mengenakan pakaian beskap Surjan gaya Mataraman dan celana hitam serta memakai Caping. Anggota Regu Smegi, Rafi, berkesan karena sepanjang jalan banyak warga yang peduli menyuguhkan aneka krowotan (ubi, singkong dan kacang rebus) serta minuman gratis kepada peserta gerak jalan napak tilas.

Petilasan

Lomba gerak jalan beregu menempuh jarak 8,4 KM ini tergolong unik, dikemas dalam citarasa budaya dengan mengedepankan riang gembira. Dilaksanakan Kamis (15/5/25) dan dibuka resmi oleh Wakil Bupati Wonogiri Imron Rizkyarno dengan kibasan bendera start. Setelah sebelumnya digelar upacara pembukaan yang berlangsung di Lapangan Desa Pule, Kecamatan Selogiri, Kabupaten Wonogiri.

Bagian Prokopim Pemkab Wonogiri, mengabarkan, lomba gerak jalan napak tilas tersebut, diikuti oleh 1.500 peserta. Terbagi dalam formasi beregu yang masing-masing beranggotakan sebanyak 10 orang. Mengambil start dari Pule, Kecamatan Selogiri dan finish di halaman Kantor Bupati Wonogiri.

Routenya melewati sejumlah petilasan Raden Mas (RM) Said atau Pangeran Sambernyawa, yang bernilai historis berkaitan dengan perjuangannya saat melawan ketidakadilan keraton dan penjajah Belanda. Seperti Batu Gilang Nglaroh, yakni tempat yang diyakini sebagai pakuwon (markas) dan lahirnya embrio pemerintahan perdana Pangeran Sambernyawa.

Melewati Sendang Siwani yang merupakan petilasan pertapaan Pangeran Sambernyawa. Melalui Krisak Desa Singodutan, Kecamatan Selogiri, sebagai tempat bala tentara Belanda yang berhasil Karisak (diporakporadakan) oleh para prajurit Pangeran Sambernyawa.

Sampai berita ini diturunkan, masih belum diperoleh siapa regu juaranya. Dinas Pariwisata Pemuda Olahraga (Parpora) dan Bagian Pemerintahan Pemkab Wonogiri sebagai leading sector-nya, semalam, menyatakan, masih memproses penilaian untuk menentukan siapa juaranya. Hasil kejuaraan, nanti akan diumumkan bersamaan dengan acara gelar silaturahmi bersama masyarakat, yang digelar dalam nuansa Kejawen, Hari Senin (19/5/25) mendatang.(Bambang Pur)