blank
Ribuan umat Buddha berjalan kaki dari Candi Mendut ke Candi Borobudur, hari ini (Senin 12 Mei 2025). Foto: eko

KOTA MUNGKID (SUARABARU.ID) – Sekitar 20 ribu umat Buddha asal berbagai daerah se-Tanah Air dan mancanegara  mengikuti kirab, dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur, Senin (12 Mei 2025). Sebelum kirab diawali dengan pembacaan doa Paritta, Mantra, Sutra, dan Gatha oleh Bhikkhu Sangha bersama umat, di Candi Mendut.

Dimulai sekitar pukul 14.00, iring-iringan mobil hias dan barisan umat berjalan kaki menuju Borobudur dengan semangat kebersamaan. Seusai kegiatan itu di pelataran Candi Borobudur dilakukan Puja Bakti menyambut Detik-Detik Waisak pukul 23.55.29 WIB. Agenda hari ini juga dilakukan dua kali pelepasan lampion Waisak.

Bhiksu Dwi Virya Stavira dari Sangha Mahayana Tanah Suci Indonesia  menyebutkan, arak-arakan itu merupakan rangkaian perayaan Hari Suci Waisak. Pesertanya sekitar 20 ribu orang.

Memberikan suatu persembahan, yaitu aneka jenis kebutuhan yang berwarna, berbau, berasa. Artinya, dalam perjalanan hidup, butuh suatu kekuatan untuk mencapai tujuan dan kebahagiaan.

Begitu juga dengan perjalanan hidup kaum Buddha, apa yang dirasakan, berwarna, berbau, adalah yang bisa dilakukan untuk menuju hidup bahagia. “Apa yang dirasakan, diucapkan, kata-kata, pengetahuan, dalam pikiran kita, itulah yang membawa ke tujuan hidup. Suka dan duka silih berganti. Senjata kita adalah cinta kasih, kasih sayang, rasa empati. Itu selalu hadir dalam tindakan kita,” tuturnya.

Itu dilakukan dalam tindakan dan perbuatan, supaya hal buruk tidak terjadi. “Mari persembahkan jiwa raga kita untuk mencapai sebuah kebahagiaan,” ajaknya.

blank
Sebelum kirab diawali pembacaan doa di Candi Mendut, hari ini Senin 12 Mei 2025). Foto: eko

Dia sebutkan, yang dibawa dalam kirab antara lain berupa api. Itu melambangkan bahwa otak kita tidak boleh bodoh. “Kalau gelap kan seperti tidak tahu arah. Dengan adanya cahaya bisa tahu mana yang baik dan buruk,” jelasnya.

Selebihnya disebutkan, dalam kirab juga membawa air. Menggambarkan, dalam hidup diperlukan kerendahan hati. Dengan kerendahan hati itu melambangkan adanya sifat cinta kasih.

“Kita hidup harus pegang cinta kasih. Apa pun kondisinya, cinta kasih adalah suatu peranan penting, supaya tidak merugikan diri kita dan orang lain,” tuturnya.

Adanya aneka makanan dalam kirab itu melambangkan buah pahala yang dihasilkan menjadi sesuatu yang baik. Persembahkanlah jiwa raga, pikiran, ucapan, beraneka macam, artinya apa yang kita miliki diperjuangkan untuk kebahagiaan yang sesungguhnya.

Di sisi lain dijelaskan, doa yang dilakukan sebelum kirab, supaya kemuliaan di dalam tubuh bisa tumbuh. Peserta doa dari Indonesia dan mancanegara, antara lain dari Tibet.

Salah satu peserta kirab, Aheng, asal Tengerang, menilai perayaan Waisak tahun ini sangat bagus. Dia sudah sampai Borobudur sejak 9 Mei 2025. “Mantap, saya happy,” katanya.

Eko Priyono