JEPARA (SUARABARU.ID)- Salah satu bangunan di kota Kudus yang paling ikonik adalah Menara Kudus. Bangunan dengan arsitektur Hindu-Budha ini diyakini sebagai salah satu hasil karya Raden Ja’far Shodiq atau yang lebih dikenal dengan Sunan Kudus yang dibangun sekitar tahun 1549 Masehi.
Dalam catatan sejarah, Sunan Kudus sering disebut-sebut sebagai panglima perang Kasultanan Demak dan guru utama Adipati Jipang Panolan, Arya Penangsang yang merupakan putra Pangeran Seda ing Lepen. Di sinilah cerita konflik itu dimulai dengan perseteruan antara trah Demak yang melibatkan Ratu Kalinyamat, Sultan Hadlirin, Sunan Prawoto, Arya Penangsang hingga Sultan Hadiwijaya.
Drama konflik yang termuat dalam kitab Babad Tanah Jawi inilah yang sampai saat ini masih dipercaya oleh masyarakat Jawa. Menurut Moh Aslim Akmal, pemerhati sejarah asal Kota Kretek, Kudus ini, cerita-cerita tersebut merasuk hingga mempengaruhi masyarakat secara sosial bahkan aqidah.
Salah satunya tentang Rajah kalacakra milik Sunan Kudus. Rajah Kalacakra merupakan ajian atau azimat yang mempunyai kekuatan magis. Dalam kepercayaan Jawa, rajah ini sering dikaitkan dengan weton sakral dan dianggap semakin kuat jika dipadukan dengan energi weton tertentu.
“Di sudut masjid menara Kudus ada sebuah gapura yang dikenal sebagai gapura Arya Penangsang. Masyarakat Jawa, khususnya Kudus, percaya bahwa gapura tersebut dipasang Rajah kalacakra oleh Sunan Kudus”, ujar pria yang akrab disapa Kiai Aslim ini.
Konon, rajah kalacakra tersebut dahulu dipasang di gapura yang akan dilewati oleh Sultan Pajang (Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir) ketika ia diundang Sunan Kudus untuk berdamai dengan Arya Penangsang.
“Jika Sultan Pajang berjalan melewati pintu tersebut, maka kedigdayaan Sultan Pajang akan melemah dan luntur sehingga tidak berdaya dan akan dengan mudah ditaklukkan oleh Arya Penangsang”, ungkap Kiai Aslim.
Gapura tersebut selanjutnya oleh masyarakat disebut dengan gapura Arya Penangsang. Dalam perkembangan berikutnya, gapura Arya Penangsang sangat ditakuti oleh para pejabat pemerintahan mulai dari presiden, menteri, hingga sampai bupati yang sedang berkuasa.
Masih menurut Kiai Aslim, mereka meyakini rajah tersebut masih ada dan masih memiliki pengaruh buruk kepadanya (pejabat), sehingga jika mereka mendekat, maka ia akan lengser keprabon.
“Bahkan ironisnya, bupati Kudus sendiri pun meyakini adanya kekuatan mistis tersebut sehingga tidak berani dekat-dekat dengan menara. Apalagi menziarahi makam Sunan Kudus”, bebernya.
“Menurut saya, rajah kalacakra adalah cerita rekayasa jahat yang sengaja diciptakan oleh kolonial untuk menjauhkan terjadinya hubungan baik antara umara (pejabat) dengan ulama. Padahal jika keduanya bersanding dengan baik tak ayal akan tercipta tatanan kehidupan masyarakat yang baik”, tandas pria yang juga hobi menelusuri makam-makam kuno ini.
ua













