blank
Kepala Disbudpar Kudus Mutrika bersama Anggota DPRD Jateng Arief Wahyudi, Camat Dawe dan Kades Japan melepas burung merpati sebagai penanda dibukanya Japan Festival 2025. foto: Ali Bustomi

KUDUS (SUARABARU.ID) – Gelaran Japan Festival 2025 kembali memeriahkan Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus pada Minggu hingga Senin, 10–12 Mei 2025. Acara ini dipusatkan di area kompleks balai desa, menghadirkan beragam suguhan budaya, kuliner, dan kekayaan lokal yang memikat.

Tahun ini, Japan Festival tampil lebih meriah dengan beragam agenda menarik, seperti Festival Kuliner Tempo Doeloe, Palan Japan, Macak Muria, Festival Gedhangan, pertunjukan seni tradisional Mbalik Cilik, hingga bazar UMKM lokal.

Selain menampilkan kekayaan budaya dan kuliner khas, festival ini juga memanfaatkan potensi alam Desa Japan yang terletak di lereng Pegunungan Muria dan Perbukitan Patiayam. Letaknya yang berada di ujung utara Kabupaten Kudus menjadikan desa ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menginginkan suasana sejuk dan asri.

Kepala Desa Japan, Sigit Tri Harso, menjelaskan bahwa Japan Festival menjadi momentum penting untuk memperkenalkan potensi desa secara lebih luas, baik di sektor pertanian, perkebunan, seni budaya, maupun produk UMKM.

“Desa kami berada di dataran tinggi yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan. Melalui festival ini, kami ingin menarik wisatawan untuk datang, menikmati keindahan alam, serta membawa pulang produk lokal dan hasil bumi kami,” tutur Sigit, Sabtu (10/5/2025).

Memasuki tahun kedua penyelenggaraannya, Japan Festival menghadirkan sejumlah atraksi baru, termasuk pertunjukan tari serta inovasi dalam program Macak Muria dan Palana Muria.

“Macak Muria merupakan kolaborasi beberapa desa di wilayah Muria dan Patiayam yang peduli pada pelestarian lingkungan. Kami berharap, desa-desa ini bisa menjadi pionir dalam gerakan konservasi alam,” lanjutnya.

Dukungan juga datang dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus. Kepala Disbudpar Kudus, Mutrikah, mengapresiasi penyelenggaraan festival ini sebagai strategi efektif untuk mengenalkan potensi lokal ke level yang lebih luas, bahkan global.

“Japan Festival memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata internasional. Produk khas Desa Japan, seperti air tiga rasa yang unik dan hanya ada satu di dunia, serta komoditas unggulan seperti kopi lokal, bisa menjadi daya tarik luar biasa,” ujar Mutrikah.

Ia juga menyoroti inovasi dalam kuliner tradisional yang dihadirkan, seperti nasi jagung dan jajanan jadul lainnya. Masyarakat dinilai mampu mengolah hasil pertanian menjadi makanan khas yang menggugah selera.

“Kreativitas warga dalam mengolah pangan lokal menjadi kuliner tradisional adalah bukti nyata semangat inovasi. Ini menjadi salah satu kekuatan utama desa dalam mengembangkan sektor wisata berbasis kearifan lokal,” tambahnya.

Dengan keberagaman acara dan potensi yang diusung, Japan Festival 2025 diharapkan mampu menarik lebih banyak pengunjung serta menjadi agenda tahunan yang memperkuat citra Desa Japan sebagai destinasi wisata unggulan di Kudus.

Ali Bustomi