blank
Kunker para Pimpinan DPRD Wonogiri yang dipimpin Supriyanto bersama Wakil Bupati Imron Rizkyarno (ketiga dan kelima dari kanan) foto bersama dengan Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Banyuwngi Taufik Rohman (keenam dari kanan).(Dok.DPRD Wonogiri)

BANYUWANGI (SUARABARU.ID) – Banyuwangi, merupakan kabupaten terluas di Jawa Timur (Jatim), luasnya mencapai 5.782,50 Kilometer Persegi. Sebagai salah satu destinasi wisata di Jatim, Banyuwangi dikenal sebagai bumi Sunrise of Java, yang memiliki potensi keindahan alam beragam, terdiri atas gunung, hutan, air terjun, pantai serta mempunyai taman nasional.

Sebagai bumi yang menerima sorot matahari terbit paling duluan di Pulau Jawa ini, Banyuwangi memiliki garis pantai terpanjang di Pulau Jawa (175 KM). Setiap tahun, menggelar 127 festival event wisata. Baik event wisata bersifat lokal, regional, nasional maupun internasional.

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Taufik Rohman, mengatakan, rata-rata per bulan menggelar event wisata 10 kali. Tahun 2024, Banyuwangi menerima kunjungan wisatawan domestik sebanyak 3,4 juta orang, dan wisatawan asing sebanyak 129 ribu orang. ”Sebelum pandemi Covid-19, kunjungan wisatawan mencapai 4 juta orang lebih,” jelas Taufik Rohman.

Banyaknya event wisata ini, diciptakan sejak kepemimpinan Bupati Abdul Azwar Annas (2010-2020). Tujuannya, untuk menghapus stigma negatif Banyuwangi sebagai Gudang Santet. Agar wisatawan tidak takut melancong ke Banyuwangi. Event wisata yang terkenal diantaranya Gandrung Sewu, Padang Bulan, Petik Laut Nelayan dan lain-lain.

Juga event sport tourism yang melombakan olahraga surfing tingkat internasional. Potensi ombak laut selatan Banyuwangi, dikenal sebagai tempat terbaik untuk menyelenggarakan olahraga surfing. Ini karena, potensi gulungan ombaknya di hamparan bibir pantai sepanjang 2 KM, memiliki ketinggian 8 sampai 9 Meter yang senantiasa datang sambung menyambung tanpa henti.

Pemkab Banyuwangi, setiap tahunnya mengalokasikan dana Rp 11 miliar dari APBD untuk pengelolaan pariwisata. Pendapatan sektor pariwisata Kabupaten Banyuwangi per tahun mencapai Rp 75 miliar. Ini menjadi bagian dari Pendapatan Aseli Daerah (PAD) yang mencapai Rp 650 miliar.

Internasional

Kata Taufik Rohman, wisatawan yang berekreasi ke Banyuwangi, diperlukan waktu kunjungan paling tidak sepekan agar dapat mengunjungi semua destinasi yang ada. Untuk akomodasi tersedia 12 hotel berbintang. Destinasi unggulan, diantaranya wisata Gunung Ijen, Alas (hutan) Purwo, Pulau Merah, Watu Dodol yang dikenal sebagai Raja Ampat-nya Banyuwangi, hutan de Jawatan, Pantai Mustika dan Pantai Watu Bedil.

Penjelasannya ini, disampaikan saat menerima kunjungan kerja (Kunker) para Pimpinan DPRD Kabupaten Wonogiri yang dipimpin Ketua Komisi-2 Supriyanto bersama Wakil Bupati Wonogiri Imron Rizkyarno. Kunker dari Wonogiri ini, awalnya untuk melakukan studi banding masalah kinerja kehumasan dan kemitraan bersama awak media. Juga ingin ngangsu kawruh (menimba ilmu) tentang tata kelola kepariwisataan.

Tim DPRD Kabupaten Wonogiri terdiri atas Supriyanto, Titik Sugiyarti, Sutoyo, Ari Sumantri, Suyoto, Dani Mursito, Astarno, Mariji, Heru Sukoco dan Nyamik Saptati. Mereka didampingi Kabag Umum Sunardi dan Kabag Persidangan Wasis P beserta sejumlah staf Sekretariat Dewan.

Ikut serta dalam kegiatan tersebut, para wartawan yang selama ini setia melakukan peliputan di DPRD Kabupaten Wonogiri. Terdiri atas Bambang Pur (suarabaru.id), Joko Santosa (KR), Wibatsu Ari Sudewo (Jawa Pos), Tulus PE (Jatengpress.com), Erlangga Bima Sakti (Tribune), Aris Yulianto (Joglosemar), Aris Munandar (Kabar Wonogiri), Noto (TA TV) dan Fendy (Radio Giri Swara).

Berkaitan dengan Kunker DPRD Kabupaten Wonogiri ini, disampaikan pantun: Bunga Telasih indah warnanya. Dibeli dari Pasar Raya. Terima kasih atas penerimaannya. Semoga Banyuwangi ringan berbagi ilmu wisata.

Berbicara kepariwisataan, kita mengenal beberapa filsuf pariwisata seperti David Tribe, Hudjolly dan Sarbini Mbah Ben. Mereka membahas tentang isu-isu mengenai relasi antara subjek (pelaku) wisata dan objek wisata, perkembangan pariwisata yang tidak terkontrol (Runway Tourism) serta bagaimana pariwisata memenuhi kebutuhan masyarakat.(Bambang Pur)