blank
egiatan selebrasi kompetensi spiritual peserta didik yang digelar Disdikpora Wonosobo. Foto : SB/Muharno Zarka

WONOSOBO (SUARABARU.ID) – Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Wonosobo menggelar acara “Selebrasi Kompetensi Spiritual Peserta Didik” yang diikuti 746 siswa dari jenjang SD dan SMP di Gedung Sasana Adipura Kencana setempat, Selasa (6/5/2025).

Event yang selenggarakan sebagai rangkaian kegiatan peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2025 itu merupakan program inovasi pendidikan di Wonosobo untuk mengungkit karakter baik peserta didik.

Kepala Disdikpora Wonosobo, Musofa menyampaikan, para pendidik sebenarnya sudah berikhtiar secara maksimal untuk mencoba melakukan gerakan revolusi mental. Tetapi nampaknya masih belum menemukan hasil yang baik dan cara yang efektif.

“Karena itu, kami mengambil cara berbasis kitab suci dengan siswa melakukan hafalan-hafalan surat-surat pendek di Al Quran maupun hafalan kitab suci lain bagi siswa yang beragama non muslim,” katanya.

Menurutnya, ada satu rekomendasi dari bagian kurikulum untuk pengembangan karakter melalui kompetensi seperti itu. Apalagi selain kompetensi moral dan sosial, ada pula kompetensi spiritual yang perlu dikembangkan pada siswa.

“Nah kompetensi spiritual itu belum banyak menjadi perhatian berbagai pihak. Karena itu, kami mengambil kompetensi spiritual itu sebagai bagian terpenting yang insya Allah akan bisa mengungkit karakter baik anak,” tegas dia.

Kompetensi Spiritual

Pertimbangannya karena anak-anak, termasuk orang tua dan guru, saat ini semakin jauh dengan kegiatan yang berbasis kitab suci. Maka pihaknya berpikir bagaimana cara mengembalikan agar peserta didik itu lebih dekat dengan kitab suci agamanya masing-masing.

“Maka menggunakan kompetensi spiritual berbasis Quran, Injil, Alkitab, Weda dan Tripitaka ini dilakukan. Alhamdulillah kegiatan tersebut sudah berlangsung selama satu semester,” paparnya.

Musofa berharap selebrasi kompetensi spiritual akan menjadi model yang bakal direplikasi di setiap sekolah. Setiap satuan pendidikan nanti dalam satu semester musti menyelenggarakan kegiatan ini di sekolahnya masing-masing

“Karena tanpa ada panggung, siswa itu tidak semangat. Maka dalam dunia pendidikan hal itu harus bisa diberikan. Dalam momentum tersebut, anak itu diberi apresiasi dan diberi panggung agar bisa berekspresi maupun melakukan selebrasi,” tuturnya.

Setelah siswa memiliki kemampuan untuk mengekspresikan, sambungnya, lalu peserta didik diberi stimulasi, misalnya acungan jempol atau hadiah dan seterusnya. Dengan demikian anak akan bangga dan lebih bersemangat dalam menguasai kitab sucinya.

“Target dari kegiatan ini yakni anak-anak semakin dekat dengan kitab sucinya. Sehingga nanti akan muncul kesadaran bahwa berbuat baik ternyata sudah diamanahkan di dalam kitab suci agamanya,” pungkas dia.

Muharno Zarka