blank
Media diuntungkan oleh fakta, untuk diolah dan disajikan menjadi realitas. Foto: dok/istock

Oleh: Amir Machmud NS

blankELEMEN apakah yang paling menonjol dalam pola penyajian media, hari-hari ini?

Tak bisa ditampik, “konvergensi” kepentingan berkolaborasi dengan kondisi saling memanfaatkan. Media diuntungkan oleh fakta untuk diolah dan disajikan menjadi “realitas”, sedangkan fakta sebagai “objek” bisa mendapatkan keuntungan atau stigma tertentu yang diapungkan menjadi “realitas opini publik” sebagai fokus masif pembicaraan.

Kondisi itu merupakan orientasi media untuk menciptakan viralitas, dan pada sisi lain memberi keuntungan atau kerugian bagi fakta-fakta tertentu yang diviralkan ke bentuk “ending” seperti apa.

Saya katakan sebagai “orientasi media”, karena suka atau tidak suka, tingkat keterbacaan (akses) dalam konteks algoritma menjadi tujuan. Efeknya, pengaruh idealistik sebagai pemaknaan sebuah berita menjadi urusan kesekian alias bukan prioritas.

Para pengelola media paham, algoritma google merupakan serangkaian aturan mesin pencari itu untuk menetapkan peringkat situs web dalam hasil discovery atau penelusuran.

Dampaknya, dari sisi ini sangat sulit untuk menerjemahkan filosofi “pagar api” (fire wall) sebagai sikap newsroom yang membedakan antara wilayah editorial dengan wilayah bisnis. Bukankah jejak “bisnis” sudah dimulai dari teknik-teknik penulisan atau penyajian berita untuk menciptakan viralitas?

Efek Positif
Efek positif membangun realitas yang mendatangkan informasi viral akan terbaca dari kondisi, misalnya dalam ungkapan “no viral, no justice”. Artinya, sikap pemberitaan media dalam topik tertentu yang disajikan secara besar-besaran bisa berkontribusi dalam menyelesaikan sebuah persoalan publik.

Gempuran informasi dengan beragam tafsir dan opini ini, selain dimasifkan melalui pemberitaan media mainstream, juga dikuatkan oleh penetrasi berbagai platform media sosial.

Misalnya kasus-kasus penegakan hukum, bias sikap aparat penegak hukum, abuse of power, premanisme, serta berbagai penyimpangan kekuasaan dan persoalan sosial dieksplorasi sebagai konten media, yang bisa dipastikan diikuti oleh unggahan-unggahan dan respons komentar di media sosial.

Viralitas inilah yang secara tidak langsung melaksanakan fungsi “kontrol sosial” media, dengan mengepung otoritas-otoritas terkait untuk mendorong penuntasan sejumlah persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.

Secara sederhana, beberapa contoh kepentingan publik menghadapi “kekuatan-kekuatan” tertentu bisa dilambari oleh kebijakan editorial sebagai ungkapan keberpihakan masif sajian media.

Kondisi seperti itu tidak hanya berkisar pada masalah penegakan hukum, tetapi juga bisa terkait dengan bidang-bidang lain yang menjadi perhatian kuat publik, seperti ekonomi, olahraga, pariwisata, kriminalitas, pendidikan, dan banyak sektor lainnya.

Efek Negatif
Lalu apa efek negatifnya?

Ketika menyimak media, acapkali kita menemukan kemandegan pembahasan. Diskusi publik sebatas hanya menyangkut permukaan, belum menjawab “inti”, seperti ungkapan Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku Elemen-Elemen Jurnalisme, bahwa tugas utama media adalah “Memberikan sinar, dan orang-orang akan menemukan jalannya sendiri”.

Dalam fenomena mafia peradilan misalnya, yang muncul dan berkembang barulah realitas yang dieksplorasi sebagai sajian fakta-fakta informasi. Rata-rata media belum mendorong bagaimana tekad untuk membongkar penyakit laten dalam sistem hukum, mentalitas aparat, juga bagaimana kinerja penegakan hukum yang menjadi akar persoalan.

Karena mengejar algoritma, informasi-informasi yang tersaji terkesan hanya memenuhi unsur kecepatan unggahan, secara instan menonjolkan “aktor-aktornya”, statemen-statemen para tokoh — yang belakangan banyak disajikan media dengan mengutip cuitan-cuitan dari media sosial — , reaksi netizens, dan mengulang-ulang berita secara dangkal.

Media belum betul-betul menggali akar, sebab-musabab, dan bagaimana mengajukan terapinya. Hal-hal yang bersifat kedalaman belum diungkapkan sebagai temuan dari sebuah penelusuran investigasi.

Pemudaran Estetika
Hal lain yang semakin terasa adalah, kecenderungan pemudaran estetika jurnalistik seperti kekuatan kualitas yang pernah menjadi “mahkota” di era kejayaan media cetak.

Segi-segi tuntutan kecepatan postingan, teknik-teknik penulisan berbasis Search Engine Optimization (SEO) dan click bait menjadi realitas yang jelas-jelas mengabaikan elemen keindahan; karena proses penyajian diliputi sikap dasar “yang penting memenuhi tuntutan algoritma”. Juga kecenderungan lebih mengutamakan sajian visual — seperti video — yang dan tampilan praktis infografik. SEO adalah teknik pengotimalan website sebagai upaya masuk dalam peringkat atas hasil pencarian.

Maka, dalam rata-rata media digital, kita sulit menemukan sajian tulisan — berita maupun feature — dengan kualitas estetis. Seakan-akan memberi batas yang mengurung, “Tidak ada lagi tempat untuk berindah-indah dan bernarasi dengan kualitas susastra”.

Yang paling dirasakan sekarang adalah realitas “kolaborasi kepentingan”, dengan tujuan saling menopang. Media punya kepentingan untuk orientasi algoritma google, dan berbagai elemen masyarakat memiliki tujuan mengapungkan kepentingannya sendiri.

Saya belum melihat: adakah celah titik untuk kembali ke standar estetika produk jurnalistik? Atau tampaknya kita boleh skeptis, bahwa kondisi ke depan justru bakal makin banal dengan lompatan teknologi informasi.

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) misalnya, pada sisi lain juga menuntut respons penghayatan dan penerapan sikap etis tersendiri bagi para pekerja pers dalam etos berjurnalistik dan bermedia.

Amir Machmud NS; dosen Ilmu Komunikasi Fiskom UKSW, wartawan Suarabaru.Id, dan Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah