blank
Ritual penganten tebu Pabrik Gula Rendeng. Foto:Ali Bustomi

KUDUS (SUARABARU.ID) — Pabrik Gula (PG) Rendeng yang terletak di Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus, resmi memulai musim giling tebu tahun ini dengan menggelar tradisi unik dan sakral bernama Ritual Penganten Tebu. Acara yang berlangsung khidmat namun meriah ini menjadi penanda dimulainya proses produksi gula tahun 2025.

Ritual tersebut menampilkan dua pasang “pengantin tebu” yang diperlakukan layaknya pengantin manusia. Sang mempelai pria diberi nama Sri Narendra Rosan Prakoso, sementara mempelai wanitanya diberi nama Sri Ratu Rosan Nan Indah. Keduanya merupakan batang tebu pilihan yang berasal dari kebun unggulan di Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo.

Prosesi diawali dengan arak-arakan kedua penganten dari seberang pabrik, diiringi alunan kesenian tradisional barongan dan diusung oleh para pekerja berseragam batik. Mereka kemudian diterima oleh rombongan pekerja di dalam area pabrik, menciptakan suasana layaknya resepsi pernikahan. Alunan gending Kebo Giro yang biasanya mengiringi pernikahan adat Jawa semakin memperkuat nuansa sakral acara.

Setelah prosesi serah terima, penganten tebu beserta batang-batang tebu lainnya langsung dibawa ke dalam pabrik untuk menjalani proses giling perdana. Prosesi ini dilakukan oleh para pejabat dan tamu undangan sebagai simbol dimulainya produksi.

Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, yang turut hadir dalam acara tersebut, menyampaikan harapannya agar produksi gula tahun ini bisa meningkat drastis.

“Target awal adalah peningkatan produksi hingga 200 persen. Tapi mari kita doakan bisa mencapai 300 persen, tentu dengan didukung kualitas tebu terbaik dari petani,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Keuangan PT Sinergi Gula Nusantara PG Rendeng, Haryanto, mengungkapkan bahwa tahun ini sebanyak 312 ribu ton tebu siap digiling. Dari jumlah tersebut, ditargetkan akan menghasilkan sekitar 20 ribu ton gula.

Proses giling akan berlangsung mulai 4 Mei hingga Oktober 2025, dengan masa operasional selama 120 hari. Untuk mendukung target peningkatan produksi, pihak pabrik telah melakukan berbagai persiapan, seperti perbaikan mesin penggiling, perluasan area kebun tebu, hingga penyediaan bibit unggul bagi para petani.

Haryanto menambahkan bahwa bahan baku tebu berasal dari petani di wilayah Muria Raya, termasuk dari Kabupaten Semarang.

“Kami terus berupaya meningkatkan rendemen gula yang saat ini berada di angka 7,15 persen. Dengan adanya program swasembada gula dari pemerintah dan pengaturan impor, diharapkan produksi gula lokal semakin kompetitif dan menarik minat petani,” pungkasnya.

Ali Bustomi