blank
Prosesi kirab akbar haul KH Abdul Manan Dipomenggolo, dilepas dari tempat start Pendapa Kabupaten Pacitan, menyertakan bentangan Bendera Merah Putih sepanjang 168 Meter yang dibawa jalan kaki oleh para santri.(Dok.Prokopim Pacitan)

PACITAN (SUARABARU.ID) –  Haul (peringatan meninggal) Ke-168 KH Abdul Manan Dipomenggolo, ditandai dengan menggelar apel akbar dan prosesi kirab yang menyertakan Bendera Merah Putih sepanjang 168 Meter (M). Apel dilaksanakan Selasa (22/4/25) di halaman Pendapa Kabupaten Pacitan, Jawa Timur (Jatim).

Bagian Prokopim Pemkab Pacitan, mengabarkan, apel dipimpin oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji. Dalam kesempatan tersebut, Bupati mengajak seluruh elemen masyarakat dan keluarga besar Pondok Pesantren (Ponpes), untuk memperkuat semangat persatuan dan ukhuwah Islamiyah.

“Melalui momentum haul ini, mari kita kembali mengingat kisah perjuangan dan jasa-jasa beliau, KH Abdul Manan Dipomenggolo,” tegas Bupati. Yakni sebagai sosok ulama besar yang tidak hanya membawa dakwah Islam, tetapi juga mewariskan nilai-nilai perjuangan dan keteladanan.

Bupati menekankan, peringatan haul tidak semata-mata sebagai ritual tahunan, namun juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga harmoni sosial dan kerukunan antar umat. Khususnya di lingkungan pondok pesantren.

“Persatuan, kesatuan dan ukhuwah Islamiyah, harus terus kita jaga dan rawat. Baik antar Pondok Pesantren, maupun dengan seluruh masyarakat. Karena itu menjadi pondasi kuat untuk membangun Pacitan yang sejahtera dan bahagia,” tandas Bupati.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga mengajak seluruh masyarakat untuk mendoakan agar Kabupaten Pacitan senantiasa diberkahi dan dijauhkan dari mara bahaya. “Semoga daerah kita selalu diberi keselamatan, dijauhkan dari bala dan bencana, agar semua program pembangunan berjalan lancar,” ujar Bupati.

Ikut hadir dalam acara tersebut KH Muadz Haris Dimyati, KH Abdullah Sajad, jajaran Forkopimda, para Pimpinan Perangkat Daerah serta sejumlah tamu undangan lainnya.  Apel akbar tersebut diikuti jajaran TNI, Polri, Banser, Pemuda Anshor, para santri, personel Linmas, ASN dan massa pesilat anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI).

Orang Pertama


Momentum ini, menjadi awal rangkaian Kirab Panji Negoro. Usai apel, Panji-panji kehormatan yang terdiri atas lambang Burung Garuda dan Bendera Merah Putih, dikirab berjalan kaki sejauh tiga kilometer. Start dari Pendapa Kabupaten Pacitan menuju finish di Desa Semanten, tempat digelarnya Haul KH Abdul Manan Dipomenggolo.

Kirab juga dimeriahkan dengan pembentangan Bendera Merah Putih raksasa sepanjang 168 Meter (M) oleh para santri. Panjang bendera sekaligus menjadi simbol usia haul tokoh ulama kharismatik tersebut. Juga ikut dikirab, Pataka Jer Basuki Mawa Beya, Pataka Pondok Pesantren, Patak kecamatan dan desa. Semuanya ikut serta mengiringi prosesi kirab kirab yang berlangsung meriah, dan berjalan penuh kekhidmatan.

KH Abdul Mannan mempunyai nama kecil Raden Bagus Darso. Dia adalah putra Raden Ngabehi (RNg) Dipomenggolo, yang menjadi perintis pendirian Ponpes di Desa Semanten (sekitar 1 KM arah utara Kota Pacitan). Itu dilakukan setelah nyantri ke Ponorogo di bawah asuhan KH Hasan Besari.

Ponpes tersebut kemudian terkenal dengan Pondok Tremas. KH Abdul Manan wafat pada hari Jumat (minggu pertama) bulan Syawal Tahun 1282 H dan dimakamkan di desa Semanten. Beliau adalah generasi pertama orang Indonesia yang belajar mendalami agama Islam di Al Azhar Mesir.

Dalam buku Jauh di Mata Dekat di Hati; Potret Hubungan Indonesia-Mesir terbitan KBRI Kairo, disebutkan, pada Tahun 1850-an di komplek masjid Al-Azhar telah dijumpai komunitas orang Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan adanya Ruwak Jawi (hunian bagi orang Indonesia). Selain Ruwak Jawi, di masjid ini juga terdapat tiga Ruwak lain, yakni Ruwak Atrak (Turki), Ruwak Syami (Suriah) dan Ruwak Maghorobah (Maroko).

Salah satu pelajar pertama Indonesia yang tinggal di Mesir dan tercatat di buku terbitan Tahun 2010 tersebut, adalah KH Abdul Manan Dipomenggolo. Tinggal di Al-Azhar Mesir sekitar Tahun 1850 M. Selama di Negeri Piramid tersebut, dia berguru kepada Grand Syekh Ke-19, Ibrahim al-Bajuri.

Pengembaraan KH Abdul Manan Dipomengolo dalam menuntut ilmu di Timur Tengah, kelak diikuti oleh generasi selanjutnya, yaitu KH Abdullah (putera KH Abdul Manan Dipomengolo), Syekh Mahfudz at-Tarmasi, KH Dimyathi, KH Dahlan al-Falaki (ketiganya kakak beradik, putera KH Abdullah), yang menuntut ilmu di Makkah.(Bambang Pur)