blank
Kapolres Wonogiri AKBP Jarot Sungkowo (kiri) memimpin apel konsulidasi Kompi Dalmas (Pengendalian Massa), dalam upaya menjaga situasi wilayah yang kondusif.(Dok.Humas Polres Wonogiri)

WONOGIRI (SUARABARU.ID) – Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Tengah (Jateng), telah merumuskan perubahan konsep penanganan unjuk rasa (Unra). Yakni dengan perubahan paradigma pengamanan Unra antara lain, polisi bukan sasaran unjuk rasa, polisi adalah mediator bagi pengunjuk rasa, serta polisi adalah kawan demokrasi bagi pengunjuk rasa.

Berkaitan hal tersebut, Kapolres Wonogiri AKBP Jarot Sungkowo, menekankan perlunya mengedepankan peran negosiator. Yakni sebagai langkah untuk mengoptimalkan langkah cooling system, dalam penanganan unjuk rasa, melakukan negosiator sebagai juru runding yang akan menjembatani antara pengunjuk rasa dengan objek unjuk rasa.

Kasi Humas Polres Wonogiri AKP Anom Prabowo, mengabarkan, penegasan Kapolres itu disampaikan saat memimpin apel konsulidasi Kompi Dalmas (Pengendalian Massa), dalam upaya menjaga situasi wilayah yang kondusif.

Kesiapsiagaan Kompi Dalmas, memiliki peran penting dalam menghadapi perkembangan situasi Kamtibmas pasca-Perayaan Idul Fitri 1446 H (2025 M). Terkait ini, Polres Wonogiri menggelar apel konsolidasi Kompi Dalmas, Peleton POH (Power Of Hand) Raimas dan Tim Negosiator. Apel digelar di halaman Mapolres Wonogiri. Senin (14/4/2025).

Kapolres Wonogiri AKBP Jarot Sungkowo, dalam arahannya mengatakan, tujuan pelaksanaan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesiapsiagaan personel, dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan pasca-Perayaan Idul Fitri 1446 H. Apel ini, merupakan bagian dari langkah preventif kepolisian, dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah hukum Polres Wonogiri.(Bambang Pur)