JAKARTA (SUARABARU.ID) – .Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Kalimat ini bermakna bahwa setiap daerah memiliki adat istiadat, yang corak dan ragamnya berbeda-beda. Tapi dalam perhelatan pengantin Jasun (Jawa Sunda) di Jakarta, ada yang memadukan adat istiadat itu dalam kemasan kolaborasi yang serasi.
Sebagaimana perhelatan pengantin pasangan Aulia Arum Sari STr.Gz, SPd dengan Rully Batistha SFarm, yang digelar oleh orang tua pengantin putri, yakni Gunadi SPd MM-Retno Savitri SPd. Resepsi perhelatan berlangsung di Gedung Di Shafa Wisma Haji Pondok Gede Jakarta.
Resepsi pernikahan dilaksanakan Sabtu malam (10/12) memakai tata adat Jawa yang dikolaborasikan dengan adat Sunda. Ini sebagai upaya melestarikan budaya Nusantara. Busana pengantin memakai beskap hitam bertahtakan hiasan gurat-gurat kuning keemasan.
Pengantin pria, Rully Batistha (putra H Badrudin-Hj Tati Hartati SPd.M, MPd) yang putra Sunda, mengenakan beskap dan kain jarik gaya Surakarta Hadiningrat. Di pinggangnya terselip keris Warangka Ladrang Blanggrah Gagrak Solo. Berkalung untaian bunga melati.
Dalam filosofi Jawa, pakaian yang dikenakan pengantin ini dikenal dengan istilah Piwulang Sinandhi. Kancing dalam beskap, melambangkan tindakan yang diambil harus diperhitungkan cermat terlebih dahulu.
Gedung tempat resepsi dihias memakai aneka bunga warna-warni, yang dipadukan dengan gemerlap lampu beraneka pijar dan cahaya sorot. Tiba saatnya pasangan pengantin melaksanakan prosesi kirab kedatangan untuk naik ke atas panggung kerobongan, diiringi alunan gending Jawa dalam nada irama slow (pelan).
Panyandra Kirab
Tampil paling depan Suba Manggala (pemimpin kirab), bejoget untuk memberikan isyarat jalannya pengantin bersama pangombyong-nya. Ditingkah dengan panyandra memakai Bahasa Jawa Sastra Pedalangan, atau reka bahasa dalang layaknya dalam pakeliran atau pergelaran wayang kulit.
Yang menjadi panyandra (penyampai narasi) prosesi kirab adalah Budayawan Jawa Anggota Permadani (Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia) H Marsan SPd, yang piawi merangkai kata-kata indah penuh makna. Menggunakan pakem (tata cara) murwa pelungan, nyandra janturan dan pocapan, suluk serta antawacana sebagaimana lazim disampaikan Ki Dalang.
Sebelumnya, akad nikah dilaksanakan menurut Agama Islam. Usai akad nikah, dirangkai dengan tradisi sawer menurut adat istiadat Sunda. Seorang pemegang payung (paraga ngasta songsong) hadir mengenakan busana adat sebagai pertanda upacara sawer dimulai.
Kemudian dilantunkan syair/puisi sastra Sunda. Yakni puisi yang biasa dilagukan pada waktu upacara sawer. Sebelum kemudian dilaksanakan sawer untuk menyebar uang logam dan kelengkapannya (ubarampe) seperti beras, irisan kunyit dan permen (kembang gula).
Sawer merupakan warisan budaya yang mempunyai nilai kerohanian, menggunakan puisi sawer yang merupakan bagian dari khasanah sastra Sunda.
Uang logam dan kelengkapan sawer, disebarkan ke posisi massa tamu yang hadir. Berlangsung dalam suasana riang ria ditingkah sorak sorai, sebagai manifestasi suka cita.
Pengharapannya, pengantin dalam mengarungi bahtera rumah tangga, senantiasa dianugerahi hidup bahagia, mulia, sejahtera, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, waromah (Samawa).
Bambang Pur













