SEMARANG (SUARABARU.ID) – Untuk menemukan kebahagiaan, seseorang harus menaklukkan dirinya sendiri untuk mencapai hal tersebut. Karena, kebahagiaan tercapai setelah seseorang sadar akan apa yang ‘kurang’ dari dirinya sendiri dan kemudian mencari serta menemukan apa yang membuatnya bahagia.
Hal tersebut seperti yang diungkapkan oleh Fahruddin Faiz, seorang penulis buku – buku filsafat populer, dalam acara Serial Ketiga Bedah Buku “Sejarah, Sains, dan Filsafat” di hall Kantor Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Jumat 21 November 2025.
Dipandu momderator Timothy Marbun, selama dua jam Faiz menjelaskan tentang makna menemukan sebuah kebahagiaan dari perspektif filsafat yang dipahaminya selama ini dan tertuang dalam buku – buku yang ditulisnya.
“Buku Menaklukkan Kebahagiaan ini berisi gagasan – gagasan tentang perjalanan manusia dalam menemukan makna hidup, mengelola batin, dan mencapai kebahagiaan melalui kematangan intelektual serta emosional,” kata Faiz yang sehari-harinya juga menjadi dosen di IAIN Walisongo Yogyakarta.
Lebih jauh, Faiz yang mengaku sering mengikuti berbagai acara “Ngaji Filsafat” ini mengungkapkan kalau kunci kebahagiaan berawal dari kemampuan seseorang dalam mengelola dirinya sendiri, contohnya seperti dimulai dari self love.
“Kita kadang sering membandingkan diri kita dengan orang lain, padahal masing – masing dari kita berbeda dan punya jalannya sendiri. Hal ini yang kadang menjadi sesuatu yang negatif di diri kita, nah untuk mengurangi hal negatif ini kita perlu mengapresiasi dan menghargai diri kita sendiri, mencintai diri sendiri,” katanya.
Sementara itu, Kepala BI Jateng, Rahmat Dwisaputra, mengungkapkan, serial bedah buku yang diadakan BI Jateng untuk ketiga kalinya tersebut dilakukan lantaran menganggap bahwa pembangunan ekonomi tidak semata-mata mencari keuntungan atau mengalahkan pesaing di dalam suatu industri.
“Bahwa ekonomi itu harus dibangun dengan etika, adab, dan pemahaman kita akan sejarah bangsa Indonesia, sejarah kita sendiri. Tidak semata-mata bahwa ekonomi itu harus orang cepat kaya, orang cepat terkenal, menghalalkan segala cara, atau yang kuat menindas yang lemah,” katanya.
Rahmat menjelaskan, ekonomi yang beretika dan beradab tersebut bisa dipahami semua kalau kita memahami sejarah sendiri sebagai akarnya. Kemudian sains, bagaimana cara berpikir yang baik, metodologis, sistematis, dan tentunya terakhir sebagai pengikat itu semua adalah filosofi atau filsafat.
Menurutnya, filosofi itu kita dituntut untuk berpikir mencari apa yang terbaik bagi diri kita dan masyarakat seluas-luasnya. Kemudian untuk sains, hal tersebut tidak hanya bersumber dari jurnal-jurnal saja namun bisa dari local wisdom yang bisa dijadikan sebagai dasar dari sains.
“Motivasi untuk bahagia itu juga pendorong kita untuk melakukan aktivitas ekonomi. Tapi kadang-kadang kita terlalu mencari bahagia itu di luar diri kita, seperti Gen-Z ini yang apa-apa mudah galau, kalau disuruh dikit dikasih kerjaan tiga yang bersamaan itu sudah galau, galau ini yang kemudian mengganggu kebahagiaan dan mengganggu mental,” katanya.
Lebih jauh Rahmat memberikan pesan agar semua warga masyarakat untuk bisa mendidik diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan sekitar tentang bagaimana beretika, beradab, dan segala sesuatunya itu tidak mudah dicapainya.
“Tidak ada yang instan, tidak gampang menjadi orang teratas, tidak gampang jadi terkenal, tidak gampang menjadi orang yang kaya. Semua harus ada dasar-dasarnya, etika, berpikir ada, dan beradab,” pungkasnya.













