blank
Lahan sawah tadah hujan yang mengering, potensi gagal panen atau puso akibat kemarau mengancam. Fot: EL Nyunanto

BLORA (SUARABARU.ID) – Musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober bahkan November 2026 mulai mengancam sektor pertanian di Kabupaten Blora.

Lahan padi, khususnya di kawasan tadah hujan, berisiko mengalami puso atau gagal panen apabila curah hujan tidak segera turun.

Saat ini sedikitnya 69 hektare sawah dilaporkan terdampak kekeringan, dengan wilayah Kunduran dan Ngawen menjadi daerah yang paling parah.

Kepala Bidang Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Peternakan (TPHPP) DP4 Blora, Sukandar, mengatakan pemerintah telah berupaya mengurangi dampak kekeringan melalui bantuan pompa air.

Namun, langkah tersebut belum mampu mengatasi persoalan secara maksimal karena sumber air permukaan yang dapat dimanfaatkan semakin terbatas.

“Hampir seluruh wilayah mengalami kekeringan sehingga pasokan air untuk areal persawahan semakin terbatas. Kondisi paling parah saat ini terjadi di Kecamatan Kunduran dan Ngawen,” ujar Sukandar, Kamis (23/07/2026).

Menurutnya, sawah tadah hujan menjadi wilayah yang paling rentan karena sepenuhnya bergantung pada curah hujan. Apabila kemarau terus berlanjut, tanaman padi musim tanam (MT) III memiliki potensi tinggi mengalami puso.

“Musim tanam ketiga di wilayah tadah hujan memang paling rentan mengalami gagal panen apabila kemarau berlangsung lebih lama,” kata Sukandar.

Mengantisipasi kerugian petani, DP4 Blora terus menggencarkan sosialisasi Program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP). Program tersebut diharapkan menjadi perlindungan bagi petani ketika gagal panen akibat bencana alam, termasuk kekeringan.

Selain itu, pemerintah juga menyiapkan langkah pemulihan dengan mengusulkan bantuan benih untuk petani di wilayah terdampak agar dapat kembali menanam pada musim tanam pertama (MT I) mendatang.

“Kami terus mendorong petani mengikuti AUTP sebagai perlindungan jika terjadi gagal panen. Untuk musim tanam berikutnya juga akan kami usulkan bantuan benih bagi wilayah yang terdampak,” jelas Sukandar.

Sukandar menambahkan, berdasarkan prakiraan musim, kondisi kemarau masih akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Karena itu, petani diminta segera menyesuaikan pola tanam agar risiko kerugian dapat ditekan.

DP4 merekomendasikan penggunaan varietas padi super genjah atau beralih sementara ke komoditas yang membutuhkan air lebih sedikit sehingga lahan tetap produktif meski pasokan air terbatas.

“Kami mengimbau petani di wilayah tadah hujan memilih varietas super genjah atau komoditas yang kebutuhan airnya lebih rendah. Dengan cara itu, risiko gagal panen bisa ditekan,” pungkas Sukandar.

El Nyunanto