JEPARA (SUARABARU.ID) – Dalam rangka menyongsong pelaksanaan Rasydul Qiblat Nasional 1448 H yang akan diselenggarakan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia pada 15–16 Juli 2026, Kantor Urusan Agama (KUA) Batealit dan KUA Pakisaji Kabupaten Jepara menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Rasydul Qiblat. Kegiatan ini dilaksanakan pada 13 Juli 2026 pukul 13.00 WIB di Aula KUA Batealit dan 14 Juli 2026 pukul 13.00 WIB di Aula KUA Pakisaji, dengan diikuti para takmir masjid dan musala, tokoh masyarakat, serta perwakilan berbagai organisasi kemasyarakatan Islam.
Kepala KUA Batealit sekaligus Kepala KUA Pakisaji, H. Hisyam Zamroni, dalam sambutannya menegaskan bahwa penguasaan ilmu falak menjadi kebutuhan penting bagi para penyuluh agama, pengurus masjid, dan masyarakat. Menurutnya, ilmu falak tidak hanya berperan dalam penentuan arah kiblat, tetapi juga menjadi dasar penentuan waktu salat, rukyatul hilal, penanggalan hijriah, hingga berbagai kebutuhan ibadah umat Islam lainnya.

Sementara itu, Kasi Bimbingan Masyarakat Islam Kantor Kementerian Agama Kabupaten Jepara, H. Syamsul Arifin, menegaskan bahwa Program Rasydul Qiblat Kementerian Agama RI merupakan program nasional yang menargetkan 1.448.000 titik pengukuran arah kiblat di seluruh Indonesia. “Program ini diharapkan melibatkan partisipasi aktif masyarakat dalam melakukan pengecekan dan kalibrasi arah kiblat di masjid, musala, kantor, lembaga pendidikan, hingga rumah-rumah warga,” ujarnya
“Keberhasilan program ini memerlukan kolaborasi seluruh elemen masyarakat agar arah kiblat tempat ibadah benar-benar akurat sesuai kaidah ilmu falak,” ujarnya sebelum secara resmi membuka kegiatan Bimbingan Teknis Rasydul Qiblat.

Kepala KUA Batealit sekaligus Kepala KUA Pakisaji, H. Hisyam Zamroni,
Materi bimtek disampaikan oleh M. Ali Romdhon, Penghulu KUA Pakisaji sekaligus alumni Program Studi Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Walisongo Semarang, didampingi M. Ulinnuha, pengurus Badan Hisab Rukyat (BHR) Kabupaten Jepara. Keduanya memberikan pembekalan mengenai konsep astronomi Rasydul Qiblat, waktu-waktu terjadinya fenomena tersebut, teknik pengukuran arah kiblat menggunakan bayangan Matahari, serta praktik langsung pengukuran yang dapat diterapkan secara sederhana namun memiliki tingkat akurasi tinggi.
Melalui kegiatan ini, KUA Batealit dan KUA Pakisaji berharap para peserta menjadi penggerak di tengah masyarakat dalam menyukseskan Gerakan Nasional Rasydul Qiblat 1448 H, sehingga semakin banyak masjid, musala, kantor, dan rumah warga memiliki arah kiblat yang tepat sesuai tuntunan syariat dan kaidah ilmiah. Program ini menjadi wujud sinergi antara ilmu pengetahuan, pelayanan keagamaan, dan pengabdian kepada masyarakat dalam meningkatkan kualitas pelaksanaan ibadah umat Islam di Indonesia.
Hadepe













