WONOSOBO (SUARABARU.ID)- Universitas Indonesia (UI) menjalin kolaborasi strategis dengan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) melalui peluncuran program ‘Kepala Desa Masuk Kampus’.
Kegiatan yang menjadi bagian dari Program Pemerintahan Desa Berdampak ini diselenggarakan di Balai Purnomo, Kampus UI Depok, beberapa waktu lalu.
Program Kepala Desa Masuk Kampus bertujuan memperkuat kapasitas kepemimpinan, tata kelola pemerintahan, serta mendorong inovasi di tingkat desa melalui pendekatan ilmiah yang adaptif.
Kepala Desa Talunombo Sapuran Wonosobo, Badarudin, termasuk salah satu Kades yang mengikuti program tersebut. Kepala Desa inspiratif tersebut vmenilai acara tersebut sangat positif bagi pengetahuan dan wawasan para Kades.
Rektor Universitas Indonesia (UI), Prof Dr Ir Heri Hermansyah, ST MEng IPU, menegaskan bahwa kampus tidak boleh lagi berjarak dari realitas sosial di lapangan. Sebaliknya, kampus berkomitmen menjadi pusat inovasi yang mengalirkan solusi nyata ke penjuru negeri.
“Kampus UI tidak boleh menjadi menara gading yang menjulang tinggi tetapi berjarak dari realitas sosial masyarakat. Sebaliknya, UI harus menjadi menara air yang mengalirkan kesegaran ilmu pengetahuan, inovasi, dan solusi nyata ke seluruh penjuru negeri, dan hal-hal itu bermula di desa,” katanya.
Pihaknya menambahkan bahwa tata kelola pemerintahan desa saat ini menuntut pendekatan yang lebih adaptif, solutif dan inovatif karena persoalan yang makin kompleks mulai dari digitalisasi, transparansi anggaran, hingga pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
“Selama beberapa hari ke lalu, gerbang UI terbuka lebar bagi bagi para Kades. Kampus UI akan menjadi laboratorium besar tempat para Kades berinteraksi dengan para akademisi, pakar tata kelola publik, dan praktisi ekonomi,” ujar Heri.
Dalam program ini, lanjut dia, UI bersama para pakar akan membedah bersama instrumen manajemen pemerintahan yang akuntabel, strategi penguatan pelayanan publik, hingga pemanfaatan teknologi tepat guna untuk akselerasi pembangunan desa.
“Namun pembelajaran ini ini tidak berjalan satu arah. Kami di UI juga perlu belajar banyak menyerap kearifan lokal (local wisdom), ketangguhan, serta dinamika realita—dinamika riil—yang bapak/ibu hadapi di lapangan setiap harinya,” tutur Heri.
Praktik Baik

Menurutnya, kolaborasi antara teori akademik di kampus dan praktik empiris di desa yang akan melahirkan inovasi pelayanan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat luas.
“Saya menitipkan pesan kepada seluruh peserta agar manfaatkan kesempatan emas ini sebaik-baiknya. Serap ilmunya dan diskusikan hambatannya. Bangun jejaring (networking) antar Kades dari berbagai Provinsi untuk saling berbagi praktik baik (best practices),” ucap Heri.
Dia berharap saat kembali ke daerah masing-masing, para Kades bisa membawa semangat baru. Ada pemikiran transformatif untuk membangun desa yang mandiri, sejahtera dan akuntabel.
“Terima kasih yang sebesar-besarnya kami sampaikan kepada Kemendagri RI atas kepercayaan luar biasa yang diberikan kepada UI untuk menjadi mitra strategis dalam program Pemerintahan Desa Berdampak tahun 2026 ini,” katanya.
Kepala Desa Talunombo Sapuran Wonosobo Badarudin yang mengikuti Program Masuk Kampus mengakui bahwa desa adalah lokus utama pembangunan nasional. Maka Kades dituntut untuk memiliki kemampuan memetakan potensi daerah, melek data, dan mampu berkolaborasi.
“Ini adalah sejarah baru di mana kampus berkolaborasi dengan Kades-Kades dalam satu program yang terukur. Kita berharap tidak saja muncul praktik terbaik yang bisa diduplikasi, tapi Kades-Kades ini juga bisa mendapatkan inspirasi untuk memaksimalkan potensinya,” ungkapnya.
Dia menjelaskan selama empat hari di kampus UI, para Kades telah didampingi oleh akademisi dan praktisi untuk membedah instrumen manajemen pemerintahan yang akuntabel. Ilmu yang didapatkan dari kampus UI sangat baik diterapkan di desa.
Badarudin menambahkan bahwa program ini bukanlah seremonial belaka. Dia berharap para Kades dapat membawa pulang pemikiran transformatif untuk membangun desa yang mandiri dan sejahtera.
Dikatakan, sekitar 50 persen penduduk Indonesia itu ada di desa. Saat ini desa menjadi lokus utama pembangunan karena banyak program kita yang menjadikan desa sebagai atensi utama.
“Karena itu peran Kades-Kades ini penting untuk memetakan potensi daerahnya dan mengembangkannya demi kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
Muharno Zarka













