MAGELANG (SUARABARU.ID) — Ajang lari tahunan Rupiah Borobudur Playon 2026 (RBP 2026) tidak sekadar menjadi panggung kompetisi fisik, melainkan juga instrumen penggerak ekologi dan ekonomi di kawasan destinasi wisata super prioritas.
Dalam penyelenggaraan yang berlangsung pada 4–5 Juli 2026 di kawasan Taman Wisata Borobudur, Kabupaten Magelang, Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Jawa Tengah bersama Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berhasil menghimpun dana pendaftaran sebesar Rp 633.365.000.
Seluruh omzet dari 4.000 pelari tersebut disalurkan untuk program pengelolaan sampah di 10 desa sekitar Borobudur. Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis kepada Camat Borobudur, Minggu siang 5 Juli 2026, pasca race 5K dan 10K.
Kepala Kantor Perwakilan BI Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menegaskan bahwa esensi dari Rupiah Borobudur Playon 2026 adalah integrasi antara olahraga, edukasi kebanksentralan, dan kepedulian sosial.
Melalui tema “Lari untuk Berbagi”, BI memfokuskan alokasi dana tahun ini untuk isu krusial di destinasi wisata, yaitu kebersihan lingkungan.
“Tahun ini, dana pendaftaran pelari yang terkumpul kami donasikan seluruhnya ke 10 desa untuk program pengolahan sampah. Ini adalah langkah konkret menjaga kebersihan kawasan wisata sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan hidup masyarakat Borobudur,” ujar Noor Nugroho.
Sejak pertama kali diinisiasi pada tahun 2022, total sumbangan sosial berkelanjutan yang disalurkan melalui ajang ini telah menembus angka Rp1 miliar.
Selain donasi tunai, BI tahun ini juga memperkenalkan Program Wakaf Digital guna mendorong sistem pembayaran non-tunai berbasis sosial.
Selain dampak ekologis, pergelaran RBP 2026 yang diikuti oleh 4.000 pelari dari berbagai provinsi ini diproyeksikan menarik lebih dari 10.000 pengunjung sepanjang akhir pekan.
Berdasarkan tren data tahun-tahun sebelumnya, perputaran ekonomi dari sektor pendukung ditaksir mencapai angka yang signifikan.
Estimasi dampak ekonomi RBP 2026 untuk sektor terdampak seperti akomodasi dan transportasi berkontribusi ekonomi dalam hal lonjakan okupansi hotel, homestay, dan jasa angkutan lokal.
Dalam hal sektor kuliner dan UMKM, RBP 2026 melibatkan puluhan UMKM binaan dalam Expo produk lokal. Selain itu perputaran makro yang terjadi estimasi nilai transaksi ekonomi makro mencapai lebih dari Rp10 miliar.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengapresiasi konsistensi BI dalam mengemas acara ini. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah masih sangat bertumpu pada sektor konsumsi, sehingga kedatangan wisatawan luar daerah menjadi stimulus penting.
“Untuk meningkatkan konsumsi masyarakat, kita harus mendatangkan orang dari luar Jawa Tengah. Rupiah Borobudur Playon menjadi contoh ideal bagaimana sebuah event olahraga memberikan dampak berlapis: menggerakkan pariwisata, meningkatkan pendapatan UMKM, dan melestarikan lingkungan,” jelas Sumarno.
Sebagai bagian dari kalender wisata resmi (Calendar of Event) Jawa Tengah, RBP 2026 juga dimanfaatkan untuk agenda strategis lainnya. Di sela-sela acara, BI Jawa Tengah melakukan penandatanganan Nota Kesepakatan Peningkatan Literasi Rupiah bersama tujuh Pemerintah Kabupaten/Kota, termasuk Kendal, Temanggung, dan Magelang.
Langkah ini diambil untuk memperluas kampanye Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah hingga ke akar rumput. Tidak hanya itu, guna menjaga stabilitas domestik, rangkaian acara turut dimeriahkan dengan operasi pasar murah dalam skema Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS).
Ajang ini juga dihadiri oleh jajaran petinggi daerah, di antaranya Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi yang ikut turun di kategori 5K, serta Sekda Sumarno yang berhasil menyelesaikan rute 10K.








