blank
Karya unggulan narapidana Lapas Semarang dipamerkan di Jateng Fair 2026. Foto: Dok/Humas

SEMARANG (SUARABARU.ID) – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Semarang ikut meriahkan Jateng Fair 2026 yang digelar dalam memperingati Hari Jadi Provinsi Jawa Tengah ke-81.

Mengusung tema “Action for Transformation”, ajang yang berlangsung selama 26 Juni–5 Juli 2026 ini menjadi ruang untuk menampilkan berbagai capaian pembangunan, inovasi, serta potensi unggulan dari berbagai sektor di Jawa Tengah.

Sebagai etalase pembangunan daerah, Jateng Fair tahun ini tidak hanya menghadirkan promosi pembangunan dan peluang investasi, tetapi juga menampilkan kekayaan budaya, wahana edukasi, hiburan, hingga ruang kolaborasi bagi berbagai pihak.

Salah satu yang mendapat perhatian pengunjung adalah kehadiran tenant hasil karya warga binaan pemasyarakatan (narapidana) dari Lapas dan Rutan se-Jawa Tengah.

Pada kesempatan tersebut, Lapas Kelas I Semarang melalui jajaran Bidang Kegiatan Kerja dengan didampingi Kepala Lapas Kelas I Semarang, Ahmad Tohari menghadirkan berbagai produk unggulan hasil program pembinaan kemandirian narapidana.

Produk yang dipamerkan antara lain handycraft sandal berbahan enceng gondok, tas berbahan tutup botol daur ulang, kaos sablon, serta batik hasil karya warga binaan.

Selain itu, tenant pemasyarakatan juga ikut memperkenalkan berbagai produk lain dari satuan kerja pemasyarakatan se-Jawa Tengah, seperti kerajinan kayu, kopi sachet, tas rajut, hingga makanan olahan hasil budidaya warga binaan.

Ahmad Tohari menyampaikan, partisipasi dalam Jateng Fair menjadi momentum penting untuk memperkenalkan wajah pemasyarakatan yang produktif dan berdampak.

“Keikutsertaan dalam Jateng Fair 2026 merupakan bentuk bahwa warga binaan memiliki potensi untuk terus berkembang dan menghasilkan karya yang bernilai. Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa proses pembinaan di Lapas tidak berhenti pada pembatasan kebebasan, tetapi juga membangun keterampilan, kreativitas, dan kesiapan untuk kembali berdaya di tengah masyarakat,” ungkap Tohari, Rabu (1/7/2026).

Ia menambahkan, keterlibatan warga binaan dalam proses produksi hingga pemasaran menjadi bagian dari pembelajaran nyata tentang dunia kerja dan kewirausahaan.

Menariknya, sejumlah produk yang dipamerkan berhasil terjual dan hasilnya akan ditindaklanjuti melalui pembagian premi kepada warga binaan yang terlibat dalam proses produksi, sesuai ketentuan yang berlaku.

“Harapan kami, masyarakat dapat melihat, bahwa pembinaan di Lapas menghasilkan karya yang memiliki kualitas dan nilai ekonomi,” katanya.

Ia berharap semakin banyak ruang kolaborasi terbuka, sehingga hasil karya narapidana dapat terus berkembang, memberikan manfaat, dan menjadi bekal berharga saat mereka kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

Ning S