blank
Ustaz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., ME saat membacakan dan menerangkan kitab Uddatu ad-Du'ah. Foto: Manan.

JEPARA (SUARABARU.ID) – Majelis Taklim As Shofa kembali menggelar pengajian rutin dua pekanan pada Jumat sore (26/6). Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 14.00 hingga 16.30 WIB ini bertempat di Rumah Joglo, Batealit Sengon, perbatasan Desa Batealit dan Desa Somosari, Kecamatan Batealit.

Majelis Taklim As Shofa berdiri sejak tahun 2011 dan diketuai oleh Abdullah Habib, beralamat di Desa Krasak, Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara. Sejak berdiri, majelis ini konsisten menyelenggarakan pengajian secara bergilir setiap dua pekan sekali sebagai media dakwah, pembinaan akhlak, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah masyarakat.

Acara diawali dengan pembacaan Yasin Fadilah, kemudian dilanjutkan dengan kajian kitab ‘Uddatu ad-Du’ah yang diikuti sekitar 40 jamaah. Jamaah yang hadir secara istiqamah berasal dari berbagai kecamatan di Kabupaten Jepara, di antaranya Mayong, Kalinyamatan, Pecangaan, Kedung, Jepara, Tahunan, dan Batealit.

blank
Peserta memaknai kitab dan mendengarkan uraian dengan penuh kefokusan. Foto: Manan.

Keberagaman asal jamaah menunjukkan bahwa Majelis Taklim As Shofa telah menjadi wadah pembelajaran Islam yang mampu menjangkau masyarakat lintas wilayah dan memperkuat ukhuwah antarsesama muslim.

Dalam setiap pertemuan, jamaah mengkaji dua kitab, yaitu ‘Uddatu ad-Du’ah karya Syekh Dr. Rajab Dib dan Haqā’iq ‘an at-Taṣawwuf karya Syekh Abdul Qadir Isa. Kedua kitab tersebut diasuh oleh Ustaz Ahmad Fajar Inhadl, Lc., M.E., yang mengajak jamaah memahami Islam tidak hanya pada aspek syariat, tetapi juga pembinaan hati, akhlak, dan penyucian jiwa.

Pada kesempatan tersebut, Ustaz Ahmad Fajar mengangkat tema hakikat kebahagiaan dalam perspektif tasawuf. Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak ditentukan oleh melimpahnya harta, tingginya jabatan, ataupun kemewahan dunia, melainkan oleh kedekatan seorang hamba dengan Allah SWT melalui ibadah dan keikhlasan.

Mengutip kisah para Wali Abdal, beliau menjelaskan bahwa kenikmatan terbesar bukanlah kekuasaan ataupun kekayaan, tetapi kesempatan untuk bermunajat kepada Allah pada sepertiga malam. Salat tahajud, sujud yang khusyuk, dan dialog batin dengan Sang Pencipta merupakan kemewahan spiritual yang tidak dapat dibeli dengan apa pun. Bahkan, para penguasa dunia sekalipun tidak akan mampu merasakan kenikmatan tersebut apabila tidak diberi taufik oleh Allah SWT.

Beliau juga mengingatkan bahwa manusia sering kali sibuk mengejar kebahagiaan di luar dirinya, padahal sumber ketenangan yang hakiki justru lahir dari hati yang dekat dengan Allah. Ketika hubungan seorang hamba dengan Tuhannya semakin kuat, maka ujian hidup, kesempitan rezeki, maupun berbagai persoalan dunia akan lebih mudah dihadapi dengan penuh kesabaran dan rasa syukur.

Melalui pengajian rutin ini, Majelis Taklim As Shofa berharap nilai-nilai tasawuf dapat membentuk pribadi muslim yang semakin mencintai ilmu, istiqamah dalam beribadah, serta menjadikan salat malam sebagai kebutuhan ruhani, bukan sekadar amalan sunah. Dengan demikian, kebahagiaan sejati tidak lagi diukur dari kemewahan dunia, melainkan dari kedekatan kepada Allah SWT.

Septiana W – Manan