blank
Gapura menuju ke desa Troso

Oleh : Muhammad  Fikri Haikal

Setiap nama tempat biasanya menyimpan cerita. Begitu pula dengan Desa Troso, sebuah desa di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara, yang kini dikenal luas sebagai sentra tenun dan salah satu kawasan dengan sejarah panjang perkembangan Islam di wilayah pesisir utara Jawa.

Di balik nama yang sederhana itu, masyarakat Troso mewarisi sebuah kisah yang telah diceritakan secara turun-temurun selama berabad-abad. Sebuah cerita yang menghubungkan desa ini dengan salah satu peristiwa penting dalam sejarah Jepara, yakni wafatnya Pangeran Hadlirin, suami dari Ratu Kalinyamat.

Menurut cerita yang hidup di tengah masyarakat, asal-usul nama Troso berkaitan dengan perjalanan panjang rombongan yang membawa jenazah Pangeran Hadlirin menuju Mantingan setelah beliau wafat akibat serangan orang-orang Arya Penangsang.

Peristiwa tersebut diyakini terjadi setelah Pangeran Hadlirin dan Ratu Kalinyamat melakukan perjalanan untuk menghadap Sunan Kudus. Dalam perjalanan pulang, rombongan mereka dihadang oleh pasukan Arya Penangsang. Akibat serangan itu, Pangeran Hadlirin mengalami luka parah.

Meski telah berusaha memberikan pertolongan, nyawa Pangeran Hadlirin akhirnya tidak dapat diselamatkan. Beliau wafat dalam perjalanan menuju pesanggrahan Mantingan. Kejadian itu menjadi salah satu peristiwa yang sangat membekas dalam sejarah Jepara.

Perjalanan membawa jenazah menuju Mantingan bukanlah perkara mudah. Jarak yang jauh dan kondisi medan yang berat membuat para prajurit pengusung jenazah mulai kelelahan. Langkah mereka semakin lambat, bahkan beberapa kali harus berhenti untuk beristirahat.

Melihat kondisi tersebut, pemimpin rombongan terus memberikan semangat kepada para prajurit. Dalam cerita yang diwariskan masyarakat, ia berulang kali mengucapkan kata “teruso… teruso…” yang berarti “teruslah berjalan” atau “lanjutkan perjalanan”.

Seruan itu terus terdengar sepanjang perjalanan sebagai penyemangat agar para prajurit tetap kuat mengemban tugas mengantarkan jenazah hingga tujuan.

Lambat laun, kata “teruso” diyakini melekat pada wilayah yang menjadi tempat para prajurit beristirahat dan memulihkan tenaga. Seiring perkembangan bahasa dan pelafalan masyarakat setempat, kata tersebut berubah menjadi “Truso”.

Dalam perjalanan waktu yang panjang, penyebutan Truso kemudian berkembang menjadi Troso seperti yang dikenal hingga sekarang.

Bagi sebagian masyarakat, kisah tersebut bukan hanya menjelaskan asal-usul nama desa, tetapi juga mengandung pesan tentang keteguhan, tanggung jawab, dan semangat untuk menyelesaikan amanah meski dihadapkan pada kesulitan.

Meski demikian, cerita mengenai asal-usul nama Troso tidak hanya berhenti pada satu versi. Sebagian masyarakat juga mengaitkan perkembangan desa ini dengan keberadaan Ki Senu yang dipercaya sebagai tokoh pembuka wilayah. Dalam pandangan tersebut, nama Troso tumbuh bersama perkembangan permukiman yang dibangun Ki Senu dan masyarakat pada masa awal berdirinya desa.

Perbedaan versi tersebut justru menunjukkan kekayaan tradisi lisan yang dimiliki masyarakat Troso. Setiap cerita diwariskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas dan ingatan kolektif warga desa.

Bagi para sejarawan, cerita-cerita rakyat semacam ini sering kali menjadi petunjuk untuk memahami cara masyarakat memaknai masa lalunya. Sementara bagi masyarakat Troso sendiri, kisah-kisah tersebut merupakan warisan budaya yang memiliki nilai penting, terlepas dari apakah seluruh detailnya dapat dibuktikan secara historis atau tidak.

Kini, ketika nama Troso dikenal luas melalui industri tenunnya, sedikit orang yang mengetahui bahwa nama itu juga menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, perjalanan, dan sejarah yang hidup dalam ingatan masyarakat.

Dari kisah Ki Senu yang membuka permukiman, Datuk Singorojo yang menyebarkan ajaran Islam, lahirnya tradisi tenun yang menjadi kebanggaan desa, hingga legenda “teruso… teruso…” yang dipercaya melahirkan nama Troso, semuanya menjadi bagian dari mozaik sejarah yang membentuk identitas desa ini.

Dan sebagaimana makna kata “teruso” yang berarti teruslah melangkah, masyarakat Troso hingga hari ini terus melanjutkan perjalanan panjang para pendahulunya—menjaga tradisi, merawat sejarah, dan membangun masa depan tanpa melupakan akar budayanya.

Peenulis adalah Mahasiswa KPI Unisnu Jepara yang mengikuti Program Mgang di SUARABA

[22.34, 4/6/2026] Fikri Unisnu: Gapura menuju ke desa Troso