blank
Petugas melakukan pemeriksaan terhadap siswa dalam kick off di Kota Batu dan Kabupaten Malang. Foto: YJI

Iwet Ramadhan menyebut, dengan program ini diharapkan, terjadi penurunan signifikan angka kematian dini akibat penyakit jantung rematik, menghemat biaya kesehatan jangka panjang, meningkatkan kualitas hidup anak Indonesia, dan bia menjadi model percontohan untuk negara berkembang lain.

Untuk kegiatan skrining perdana dilaksanakan di wilayah Malang dengan target anak kelas 5 dan 6 SD sebanyak 608 anak dengan detil sebagai berikut tanggal 29 Mei 2026 skrining  dilaksanakan di Kota Batu sebanyak 260 siswa/I dan tanggal 30 Mei 2026 skrining dilaksanakan di Kabupaten Malang sebanyak 348 siswa/i.

“Program nasional ini didukung oleh alat ultrasound portabel Lumify dari Philips Foundation melalui kemitraan strategis dengan World Heart Federation (WHF). Skrining akan menjangkau sekitar 8.000 anak usia Sekolah Dasar di empat kota prioritas, yaitu: Malang, Bekasi, Tulang Bawang (Lampung), dan Minahasa Utara,” tambah Iwet.

Setiap kegiatan skrining juga menghadirkan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah untuk memberikan edukasi kepada para guru, orang tua, dan wali murid.

Materi yang disampaikan meliputi Penyakit Jantung Rematik (PJR) dan Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Tujuannya adalah agar orang dewasa di sekitar anak dapat mengenali gejala awal, memahami pentingnya pencegahan, serta segera mengambil tindakan medis jika dibutuhkan.

Sebab, peran aktif guru dan orang tua sangat krusial dalam mendeteksi keluhan anak sejak dini dan mendampingi mereka menjalani pengobatan secara berkelanjutan.

“Mari bersama kita jadikan momentum ini sebagai awal perubahan nyata. Setiap detak jantung anak Indonesia adalah tanggung jawab kita semua. Dengan deteksi dini, kita bisa selamatkan ribuan nyawa dan masa depan bangsa”, tutup Iwet.

R. Widiyartono-Rls