Oleh: Septiana Wibowo
Warga mulai memadati jalan kampung sejak tabuh Magrib, sementara para pemuda menyiapkan ikatan daun kelapa dan pisang kering yang akan dijadikan obor. Semalam, Senin (25/5/2026), tradisi tahunan Perang Obor kembali digelar sebagai bagian dari sedekah bumi masyarakat setempat.
Sejak pukul 19.00 WIB hingga 22.00 WIB, jalan-jalan desa dipadati pengunjung yang ingin menyaksikan atraksi budaya tersebut. Tampak Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, Bupati Jepara Witiarso Utomo didampingi Wakil Bupati Muhammad Ibnu Hajar beserta jajaran Forkopimda turut menyaksikan jalannya tradisi tahunan yang diwariskan Ki Babadan dan Ki Gemblong, leluhur desa Tegalsambi ratusan tahun lalu.

Tradisi ini bukan sekadar tontonan adu keberanian. Di balik nyala api dan percikan bara, tersimpan doa-doa masyarakat untuk keselamatan desa, hasil panen yang melimpah, serta harapan agar terhindar dari pagebluk dan bencana.
“Di sela keramaian, para sesepuh desa akan tetap memimpin doa dan ritual adat. Prosesi ini menjadi pengingat bahwa modernitas belum sepenuhnya menghapus keyakinan masyarakat terhadap warisan leluhur,” ujar Ali Zubaidi, salah satu anggota Paguyuban Nguri Budoyo desa Tegalsambi yang menaungi peserta Perang Obor.

Bagi masyarakat Tegalsambi, Perang Obor bukan sekadar atraksi budaya. Tradisi ini dipercaya sebagai simbol perlawanan terhadap mara bahaya dan penyakit. Nilai gotong royong juga terasa kuat melalui rangkaian sedekah bumi yang melibatkan seluruh warga desa.
Dimana Perang Obor Tegalsambi telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia sejak tahun 2020. Tradisi ini diyakini sudah berlangsung sejak abad ke-16 dan terus dipertahankan hingga kini oleh masyarakat Desa Tegalsambi Jepara.
Acara dilanjutkan dengan arak-arakan menuju panggung utama, sorot lampu warna warni menghiasi panggung sesekali menyilaukan mata. Beberapa sesepuh desa, peserta Perang Obor serta para penari berjalan dengan membawa obor bambu ditangan.

Tahun ini Upacara Tradisi Perang Obor dibuka dengan Tari Obor oleh anak-anak perempuan dari desa Tegalsambi di depan panggung utama, dengan membawa obor kecil sebagai lambang ritual yang akan segera dimulai.
Doa bersama dipanjatkan setelahnya, meminta keselamatan dan tolak bala. Peserta beserta sesepuh desa mulai hening berdoa. Saat malam mulai turun, obor-obor mulai dinyalakan. Walau hujan sempat datang dan reda, hal ini tak mematikan semangat peserta Perang Obor dan para penonton.

Semakin malam tampak para peserta berlari dan saling mengejar, memukul menggunakan obor yang menyala dengan api yang semakin besar. Kobaran api yang membentuk cipratan cahaya di tengah sorak penonton yang memadati arena tradisi membuat adrenalin semakin naik. Bahkan semakin lama obor maupun titik api semakin meluas.
Tak hanya warga lokal, tradisi ini juga menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah bahkan mancanegara. Sejumlah pengunjung tampak mengabadikan momen ketika api beradu di tengah arena, sementara aroma asap memenuhi udara malam Jepara bahkan kadang membuat saya sukar bernafas.

Hujan turun cukup deras tak jua mematahkan semangat wisatawan fotografi yang datang tak hanya dari Jepara. sempat saya mengobrol, mereka datang dari Semarang, Jogjakarta, Samarinda, Jakarta, bahkan Palu.
Sesekali saya pun melihat fotografer asing dengan kit yang lengkap. Lalu saya bertanya, apa yang membuat mereka datang. Dan lagi ungkapan “Tradisi yang Terkenal” ini, membuat mereka mengharuskan datang, agar mendapat pengalaman dan foto yang menarik.
“Memotret Perang Obor dari tahun 2013, di pengalaman saya, biasanya perang obor akan dilakukan di empat penjuru perempatan Tegalsambi, namun entahlah tahun ini kenapa hanya tiga, karena yang satu didirikan panggung besar.” Ujar Munir, Fotografer Profesional yang berasal dari Jogja yang datang dengan tim trip fotografi yang berjumah sekitar 30 orang.
Ariyanti pengunjung dari Semarang dengan sesekali mengelap cameranya yang sebelumnya terkena hujan juga berkata, “saya juga punya travel agen, dan disini pastinya kami juga menawarkan Perang Obor untuk jadi bagian list tempat yang dikunjungi oleh wisatawan.”
Muda mudi berlalu lalang, konten creator pun tak kalah berjalan kesana kemari untuk angle video yang tepat. Semua perhatian memang ada di suasana perang api yang saat itu saya berada di tengahnya, panas sekali.
“Sungguh mengherankan karena walau sepanas dan seberat itu ikatan daun kelapanya, orang-orang bisa membawanya bahkan saling memukul.” Kisah Vera, Fotografer dari Jakarta.
Menurut salah satu peserta, Perang Obor bukan tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi tentang menjaga tradisi dan kebersamaan. Tampak juga warga yang berjualan mendirikan tenda UMKM di sisi kanan dan kiri jalan, membuat suasana semakin ramai dan meriah.
Namun hal ini bukan kabar baik bagi wisatawan fotografi yang datang, karena banyaknya cahaya yang tak seharusnya dan beberapa tenda yang mencolok membuat hasil foto mengalami penurunan kualitas estetika tata ruang.
“Sebuah hal yang disesalkan, karena pastinya banyak foto yang seharusnya bagus jadi kurang baik dengan adanya tambahan objek lain, dan banyak teman-teman fotografi yang mengeluh,” tambah Munir. Ia dan teman-teman berharap untuk tahun kedepannya mungkin UMKM bisa dipusatkan di satu tempat saja, dan penataannya lebih baik kembali steril dari tambahan cahaya maupun tenda seperti di tahun-tahun sebelumnya.
Malam kian larut, namun semangat warga belum surut. Sesekali mereka mampir membeli minum, atau sengaja membawa oleh-oleh khas Tegalsambi. Kintelan, jajanan pasar tradisional dengan berbahan ketan dengan siraman kuah santan. Dengan isian kelapa muda yang manis dan gurih di dalamnya.
Saya mulai menyadari nyala api sudah mulai mereda, bara obor mungkin perlahan padam, Tetapi semangat menjaga budaya pastinya tetap menyala di Desa Tegalsambi Jepara. Terngiang ucapan Bupati Jepara yang juga harapan seluruh yang hadir semalam.
“Alhamdulillah malam ini berlangsung meriah. Kami ingin tahun depan lebih semarak lagi,” ujar Witiarso Utomo dalam sambutannya.
Penulis adalah Jurnalis SUARABARU.ID, Pengajar dan Penulis Buku Esai “Bukan Kartini













